Ini Tiga Hal yang Membuat Elektabilitas Ahok Terus Naik
Jumat, 22 Juli 2016 | 10:02 WIB
Jakarta - Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkapkan bahwa trend elektabilitas calon Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama alias Ahok terus naik. Berdasarkan survei SMRC, tren elektabilitas Ahok naik sekitar 12 persen dari Agustus 2105 sampai Juni 2016. SMRC menyebutkan ada tiga alasan.
SMRC melakukan survei pada 24-29 Juni 2016. Survei dengan metode wawancara dilakukan terhadap 820 responden. Namun, hanya 646 responden yang dinyatakan valid dan datanya dianalisis.
"Ada tiga alasan mengapa trend elektabilitas Ahok terus naik. Pertama, secara umum publik DKI Jakarta puas dengan kinerja Ahok. Dan tingkat kepuasan cukup besar, sebanyak 69,7 persen. Sementara kepada Djarot Syaiful Hidayat, sekitar 40,6 persen. Jadi, masyarakat merasakan hasil kerja Ahok," ujar Peneliti SMRC Sirojudin Abbas saat dihubungi, Jumat (22/7).
Abbas mencontohkan mayoritas warga DKI Jakarta, di atas 50 persen menilai kondisi prasarana dan sarana Jakarta jauh baik di bawah kepemimpinan Ahok. Hanya kondisi kelancaran transportasi yang dianggap buruk. Sedangkan kondisi pelaksanaan pemerintahan, dinilai dalam lima skala ukur, sudah baik. Tingkat kepuasan warga ini (69,7 persen) lebih tinggi ketimbang survei yang diadakan pada Agustus 2015, yaitu 63 persen.
"Saat ditanya apakah menginginkan Ahok kembali menjabat Gubernur Jakarta periode 2017-2022, sebanyak 58 persen warga menginginkannya. Sebanyak 40 persen tidak menginginkan kembali. Angka tersebut juga naik dari survei Agustus 2015 sebesar 49 persen warga menginginkan Ahok bertahan," ungkap dia.
Alasan kedua, lanjut Abbas, sampai sekarang belum ada penantang yang elektabilitasnya mendekati Ahok, seperti Yusril Ihza Mahendra, Tri Rismaharini, Sandiaga Uno dan yang lain. Popularitas mungkin ada, seperti Yusril cukup populer, tetapi elektabilitas masih terlalu rendah dibanding Ahok.
"Ketika survei dilakukan dengan simulasi terbuka tanpa memberikan pilihan nama tokoh terhadap responden yang diwawancarai, elektabilitas Ahok masih menjadi top of mind masyarakat dengan persentase 36,6 persen. Di posisi kedua ada nama Yusril Ihza Mahendra dengan 2,8 persen, dan di posisi ketiga Sandiaga Uno dengan 2,1 persen. Sementara tokoh-tokoh lainnya memiliki elektabilitas di bawah 1 persen," jelas Abbas.
Ahok juga tetap menjadi yang tertinggi ketika dilakukan simulasi terbuka dengan memberikan daftar 22 nama calon gubernur, sekitar 53,4 persen tetap memilih Ahok. Yusril Ihza Mahendra pun tetap menempati posisi kedua. Namun, elektabilitasnya meningkat menjadi 10,4 persen. Di posisi ketiga terdapat nama Tri Rismaharini dengan persentase 5,7 persen.
"Kemudian, berturut-turut ada nama Sandiaga Uno dengan 5,1 persen, Yusuf Mansur 4,6 persen, dan calon lainnya memiliki elektabilitas di bawah 3 persen. Sementara yang tidak tahu atau tidak menjawab ada 9,4 persen," tuturnya.
Alasan ketiga, lanjut Abbas, elektabiitas Ahok terus naik karena sampai saat ini partai politik selain yang mendukung Ahok, belum mengambil keputusan mau mendukung siapa di Pilkada DKI Jakarta. Menurut dia, jika partai-partai menyatakan calonnya, seperti PDIP, Gerindra atau koalisi lainnya, maka peta dukungan pemilih mungkin akan berubah.
"Soal seberapa besar perubahan dukungan itu, kita belum tahu. Pasalnya, kalau sudah memutuskan mendukung calon tertentu, maka mesin partai akan lebih fokus kerjanya, siapa yang akan disosialisasikan, terlepas dari apakah publik percaya atau tidak dengan mesin partai tersebut," pungkas dia.
Hasil survei SMRC: http://www.slideshare.net/saidimanahmad/survei-smrc-pemilih-jakarta-dan-kinerja-petahana-juni-2016.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




