Penangkapan Istri Santoso Dinilai Elegan dan Beretika

Sabtu, 23 Juli 2016 | 18:12 WIB
B
FH
Penulis: BeritaSatu | Editor: FER
Umi Delima (dua kiri), istri Santoso.
Umi Delima (dua kiri), istri Santoso. (Istimewa)

Jakarta - Analis terorisme dan intelijen, Ridlwan Habib, menilai, sikap TNI elegan dan beretika sebab tidak melukai ketika menangkap Umi Delima, istri gembong teroris Poso, almarhum Santoso.

"Ini sikap kesatria dan beretika. TNI menunjukkan sikap yang baik bahwa buronan tak bersenjata tidak boleh disakiti," kata peneliti terorisme dari Universitas Indonesia (UI), Ridlwan Habib, yang dihubungi di Jakarta, Sabtu (23/7).

Ridlwan mengatakan, dalam etika peperangan sikap TNI ini sangat elegan dan proporsional.

Pada Sabtu pagi, istri Santoso, Delima, ditangkap Satuan Raider 515 Kostrad yang merupakan bagian dari Satgas Tinombala. Delima diringkus di hutan Tambarana, Poso.

"Salut untuk Kostrad, karena istri Santoso bukan 'kombatan'. Dia sebenarnya juga korban, dia terjebak dalam situasi yang sulit dan putus asa, sehingga wajar kalau memilih keluar ke pinggiran hutan," ujar Ridlwan.

Alumni S-2 Intelijen Universitas Indonesia itu menduga setelah tertangkapnya istri Santoso, 16 anggota Santoso yang lain akan segera menyerahkan diri.

Dia mengatakan, Satgas Tinombala tidak boleh melukai jika pengikut Santoso menyerahkan diri.

Sementara itu terkait penangkapan Umi Delima, Ridlwan mengusulkan agar pengawalannya diserahkan pada anggota polisi wanita atau anggota korps wanita angkatan darat.

"Bagaimanapun dia muslimah, alangkah baiknya dikawal petugas wanita. Hal ini juga akan mengurangi resistensi dan kebencian dari simpatisan kelompok ini di luar Poso, sebab saat ini di sosial media sudah muncul glorifikasi, upaya menyanjung Santoso dan kelompoknya, jangan diberi amunisi baru," ujar Ridlwan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon