Dibatalkan di Pintu Pesawat, Perempuan Sumba Nyaris Jadi Korban Perdagangan Manusia
Senin, 8 Agustus 2016 | 06:28 WIB
Tambolaka – Meski sudah bestatus darurat perdagangan manusia (human trafficking), tindak pidana perdagangan orang (TPPO) masih saja marak di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejumlah instansi terkait di daerah diharapkan semakin intens mencegah praktik ilegal yang biasanya melibatkan para calo tenga kerja Indonesia (TKI).
Selain itu, para petugas di setiap pelabuhan dan bandara pun harus jeli untuk mencegah pengiriman tenaga kerja ilegal tersebut. Salah satunya adalah pembatalan keberangkatan lima perempuan asal Pulau Sumba, NTT, dari Bandara Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Sabtu (6/8) lalu. Hingga Minggu (7/8) sore, SP berusaha mengonfirmasi petugas Bandara Tambolaka, namun belum ada tanggapan.
Pembatalan itu dilakukan justru setelah lima calon penumpang itu sudah siap memasuki pintu pesawat Wings Air. Dari pantauan SP, kelima perempuan tersebut sudah siap menaiki pesawat dengan tujuan Denpasar. Menurut seorang petugas yang bertangggung jawab atas penumpang, mereka hanya diantar seseorang ketika check-in di Bandara Tambolaka dengan beberapa surat keterangan.
Sejak di ruangan tunggu bandara, kelima perempuan ini tidak mencurigakan petugas karena ditengarai memiliki surat-surat lengkap. Saat dipersilahkan naik pesawat, mereka pun ikut dalam rombongan dengan menenteng tas masing-masing tanpa bagasi tersebut.
Ketika hendak menaiki pintu pesawat, tiga petugas Wings Air menanyakan kelengkapan dan siapa yang hendak menjemput mereka di Bandara Ngurah Rai, Denpasar. Namun, tidak ada satupun yang bisa menjelaskan dan hanya mengatakan ada yang mengantar mereka sampai check-in di bandara saja.
Upaya menelepon perekrut mereka dari depan tangga pesawat pun tidak berhasil. Sementara pesawat dalam beberapa menit sudah siap lepas landas dengan 61 penumpang menuju Denpasar.
"Tidak ada yang bisa menjelaskan siapa yang bertanggung jawab atas mereka. Ada seorang yang sepertinya mewakili penyalur TKI dan hanya mengantar mereka check-in saja," kata salah seorang petugas tersebut.
Setelah hampir tiga menit tidak ada konfirmasi dan kepastian penanggung jawab, kelima perempuan yang hampir menaiki pesawat tersebut pun disarankan untuk tidak ikut dan kembali ke ruang tunggu.
Sebelumnya, dalam sebuah seminar yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Tambolaka, Ketua Komisi Keadilan dan Perdamain Keuskupan Weetabula Edi Redo dan Koordinator Jaringan Relawan untuk Kemanusian (J-Ruk) Sumba Kristo Ngasi mengatakan masyarakat harus semakin waspada agar tidak mudah tergiur dengan bujukan para perekrut atau para calo tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




