Oknum Anggota Dewan Diduga Biang Kerusuhan di Tanah Karo
Selasa, 9 Agustus 2016 | 23:00 WIB
Medan - Mantan Camat Simpang Empat, Kabupaten Karo, Verawanta beru Surbakti, yang dituding sebagai dalang kerusuhan di Tanah Karo mengungkapkan, ada oknum di pemerintahan desa bersama dengan anggota dewan, yang merupakan biang dari bentrokan di Tanah Karo, akhir Juli 2016 kemarin.
"Awal sebelum kejadian, ada Sekretaris Desa Lingga bernama Lotta dan Kepala Badan Perwakilan Desa bernama Pelita yang mendatangi penyewa rumah toko yang saya miliki. Ada empat orang yang diancam dan diintimidasi. Korban pengancaman menjadi ketakutan dan mengungsi ke kantor polisi," ujar Vera di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Selasa (9/8).
"Polisi kemudian menampung laporan pihak korban, dan kemudian meminta warga itu untuk pulang. Namun, korban pengancaman itu tidak mau pulang. Mereka menyampaikan lebih baik mati kena erupsi Gunung Sinabung dari pada dibunuh saat kembali ke rumah yang disewa tersebut. Polisi menjadi prihatin, dan mengantarkan para korban untuk pulang," katanya.
Dalam perjalanan itu, mobil polisi justru diserang oleh sekelompok orang yang diduga disuruh oknum perangkat desa di sana. Dengan alasan ini pula polisi kemudian membangun pos di lokasi yang rawan pertikaian itu. Vera menyangkal sebagai orang yang meminta membangun pos polisi di sekitar Desa Lingga.
Dia menambahkan, kedua oknum perangkat desa pernah mencoba meminta tanah kepada dirinya. Ini semua karena mendapatkan kabar bahwa Vera akan mendapatkan banyak uang dari tanah yang dimiliki, sebagai areal relokasi pembangunan rumah buat pengungsi.
"Selain itu, ada juga oknum anggota dewan yang meminta dirinya untuk menjual tanah. Namun, Vera tetap menolak. Mereka itulah dalang di balik kerusuhan yang menewaskan seorang warga di Tanah Karo. Mereka juga yang memprovokasi warga. Saya pemilik sah tanah yang mereka usik," sebutnya.
Sementara itu, Ketua Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Parlindungan Purba, mengharapkan, masyarakat di Desa Lingga untuk dapat menahan diri, dan menyerahkan masalah sengketa untuk ditangani polisi. Masyarakat diminta tidak mudah terpengaruh atas isu yang bersifat negatif, apalagi menyangkut relokasi buat pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung tersebut.
Seperti yang dilaporkan, seorang warga tewas dan tujuh orang lainnya terluka dalam penyerangan di Markas Kepolisian Resort (Polres) Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), Jumat (29/7) tengah malam.
Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, peristiwa itu bermula dari penangkapan terhadap lima orang warga dalam kasus pembakaran beko milik pengembang relokasi.
"Lima orang itu adalah Eddi Sitepu, James Sinulingga, Nahason Sinuraya, Modal Sinulingga dan Suagiarto Meliala. Penangkapan itu membuat warga lainnya merasa tidak menerima," ujarnya.
Dijelaskan, sebelum peristiwa itu terjadi, warga menolak pemerintah yang sedang melaksanakan pembangunan relokasi tahap II buat pengungsi Sinabung di Desa Lingga.
Masyarakat di sana kemudian tidak senang karena lahannya dijadikan lokasi relokasi, dan kemudian melakukan pembakaran escavator milik pengembang. Warga juga membakar pos penjagaan di sana.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




