Bangun Karakter Daerah sebagai Identitas Bangsa

Sabtu, 13 Agustus 2016 | 14:50 WIB
FS
B
Penulis: Fana F Suparman | Editor: B1
Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi
Bupati Purwakarta, Jawa Barat, Dedi Mulyadi (Suara Pembaruan/Asni Ovier)

Purwakarta- Sebuah gapura megah di Jalan Ciganea menyambut SP saat tiba di Kabupaten Purwakarta beberapa waktu lalu. Gapura bernama Gapura Indung Karahayuan ini berarti "Kemuliaan manusia diperoleh dari pengampunan sang ibu." Gapura serupa dibangun di seluruh perbatasan Kabupaten Purwakarta dan wilayah sekitarnya. Tak hanya itu, gapura serupa juga dibangun di gedung-gedung pemerintahan, sekolah, batas-batas desa, hingga gang kecil di setiap pelosok wilayah Purwakarta.

Gapura tersebut telah menjadi ciri Purwakarta yang memiliki luas sekitar 971 km2. Tak hanya Gapura Indung Karahayuan, kehadiran SP di Purwakarta juga disambut dengan patung-patung tokoh pewayangan. Patung Bima, Gatot Kaca, Arjuna, dan Kresna yang sedang naik kereta kuda, dan patung lainnya menghiasi setiap perempatan jalan di Purwakarta.

Memasuki tengah kota, terdapat berbagai macam hiasan seperti lampion, dan anyaman. Sementara di pusat kota terdapat Situ Buled yang menjadi arena pertunjukan air mancur terbesar di Asia Tenggara. Berbagai ornamen tersebut tidak hanya mempercantik kota, tetapi juga menjadi pembeda daerah Purwakarta dengan daerah lainnya.

"Hiasan" kota ini tak lepas dari sentuhan Dedi Mulyadi yang menjabat sebagai Bupati Purwakarta sejak 2008. Dalam kurun waktu delapan tahun, kepemimpinan Dedi telah mengubah wajah Purwakarta yang sebelumnya hanya dikenal sebagai daerah singgah menuju kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Cirebon menjadi wilayah yang lekat dengan nuansa seni dan kebudayaan, terutama yang berkaitan dengan Sunda.

ADVERTISEMENT

Berbagai festival yang melibatkan masyarakat pun kerap digelar hampir setiap akhir pekan. Dalam rangka perayaan hari jadi Purwakarta yang menginjak usia 185 tahun dan 48 tahun sebagai kabupaten pada tahun ini misalnya, Pemkab Purwakarta menggelar rangkaian acara bertajuk "Sampurasun Purwakarta World Ethnic Festival" hingga akhir Agustus mendatang.

Dedi memaparkan, pembangunan merupakan identifikasi terhadap nilai sejarah masa lalu yang diimplementasikan pada masa kini untuk menyongsong masa depan. Sebagai seorang Sunda dan pemimpin daerah yang mayoritas suku Sunda, Dedi mengaku pembangunan Purwakarta saat ini merujuk pada khasanah budaya Sunda sebagai identifikasi nilai Purwakarta.

"Hari ini saya mengingatkan pada orang Sunda. Kita punya tradisi leluhur, kita punya kebudayaan, dan itu bisa tertrasendensi jika ruangnya dibuka. Tata ruang sundanya dibenahi. Berarti pembangunannya harus merujuk pada tata ruang Sunda. Tinggal bertanya pada tokoh-tokoh adat. Bagaimana (mengelola) hutan, sebelah mana membangun permukiman, sebelah mana simpan kuburan. Itu ada ilmunya," kata Dedi yang ditemui SP di rumah dinasnya beberapa waktu lalu.

Revolusi Kebudayaan

Menurut pria yang akrab disapa Kang Dedi ini, Indonesia harus mengalami bentuk revolusi kebudayaan karena negara belum berhasil meletakan kerangka berpikir Pancasila sebagai ideologi yang bersumber dari inspirasi kebudayaan Nusantara dalam kerangka konstitusi yang memadai.

Pancasila baru sebatas diletakan pada kerangka sebagai pemersatu saja, dan belum menjadi sebuah nilai yang melebur dalam kehidupan kenegaraan. Akibatnya, kata Dedi, banyak kelompok masyarakat adat nusantara yang memegang teguh Pancasila dan keindonesiaan justru terpinggirkan hanya karena bukan penganut agama formal. Padahal, substansi Pancasila adalah keanekaragaman Indonesia.

"Kelompok-kelompok adat nusantara tidak memiliki hak-hak sebagai warga negara. Tidak ber-KTP, tidak berakta kelahiran, dan tidak memiliki surat nikah hanya karena alasan mereka bukan penganut agama formal. Sedangkan, substansi pancasila itu kan sebenarnya keanekaragaman Indonesia yang itu adalah sistem kebudayaan lama," paparnya.

Dengan realitas Pancasila yang terpisah dari kehidupan bernegara, Dedi meyakini, Indonesia tidak akan pernah menjadi negara besar. Hal ini lantaran berbagai negara besar telah berlomba untuk menampilkan identitas diri mereka sebagai sebuah bangsa yang membangun sebuah sistem negara. Dicontohkan, Iran mengidentifikasi diri mereka dengan Islam Syiah, atau Tiongkok dengan ideologi Komunis, dan lainnya.

"Bahkan Korea Utara juga mengidentifikasikan diri. Terlepas dari pemahaman kita yang bisa jadi berbeda dengan mereka tapi sebagai sebuah identifikasi diri itu berhasil. Kemudian yang paling menarik adalah Malaysia. Sebagai negeri melayu yang tidak memiliki kekayaan yang besar dalam sejarah negaranya mencoba untuk mengidentifikasikan diri dengan mengumpulkan kebudayaan dari berbagai tempat dan diakui sebagai ajaran kebudayaannya," jelasnya.

Menurut Kang Dedi yang sehari-hari mengenakan pangsi dan iket khas Sunda, Indonesia memiliki akar kebudayaan yang sangat kuat karena terdapat setidaknya 900 jenis huruf tulisan, bahasa, sistem nilai, dan keyakinan yang terintegrasi dalam kebudayaan. Sebagai sebuah bangsa yang kaya akan kebudayaan, Indonesia seharusnya bisa menjadi negara besar.

Yang dibutuhkan saat ini adalah ideologi Pancasila sebagai karakter keindonesiaan yang terbangun dari karakter dan kebudayaan Nusantara. Setiap daerah, katanya, memiliki kebudayaan tersendiri yang dapat berkembang menjadi karakter dan identitas bangsa Indonesia.

"Karakter ideologis apa yang dibutuhkan hari ini? Berpikir Keindonesiaan. Berpikir ke wilayah kedaerahan kita. Saya orang Sunda maka saya harus memperjuangkan ideologis Kesundaan menjadi karakter pembangunan ala Purwakarta. Begitu juga daerah lain," ungkapnya.

Dedi meyakini, pembangunan berbasis kebudayaan masih dapat diwujudkan meski sebagian besar masyarakat, terutama yang tinggal di perkotaan sudah terpapar kebudayaan negara lain. Apalagi, dengan sistem desentralisasi melalui otonomi daerah.

Dicontohkan, dengan pembangunan yang merujuk pada khasanah kebudayaan Sunda, saat ini tak sedikit anak muda Purwakarta yang tak malu mengenakan pakaian pangsi, iket Sunda, atau bertutur bahasa Sunda.

"Karena ada kerinduan orang untuk kembali. Dulu itu kita mengalami keterbatasan dalam menerjemahkan Indonesia. Saya ini mencoba untuk (menerjemahkan) Indonesia ini loh. Otonomi itu kerangka dasar otonom pada suatu wilayah yang di situ memiliki multidimensi produk. Sekarang ini, otonomi itu menjadi urusan teknis. berapa anggaran, atau mana batas wilayah. Bukan pada (pembangunan) kulturnya. Dulu mana ada anak muda Sunda menunjukan identitasnya. Hari ini, iketnya, baju pangsi, bahasa, sudah mulai," katanya.

Pembangunan yang bercorak kebudayaan Sunda tak hanya terlihat dari fisik infrastruktur, melainkan juga tampak pada program-program Dedi dalam bidang pendidikan, kesehatan, ketertiban umum, dan lainnya. Program-program tersebut berjalan beriringan dengan program pembangunan Purwakarta.

Dedi menyatakan, meski hanya memiliki kurang dari Rp 2 triliun atau relatif kecil dibanding kota/kabupaten lainnya di Jawa Barat, saat ini pembangunan infrastruktur Purwakarta telah menyentuh hingga ke desa-desa. Nyaris tidak ada lagi jalan atau gedung sekolah yang rusak di Purwakarta.

Para pelajar mendapat asupan tambahan gizi berupa susu dan telur. Pelayanan kesehatan gratis tak memandang status sosial. Demikian juga dengan ambulan dan dokter yang siaga setiap saat untuk melayani masyarakat melalui sistem online. Gaji Ketua RT di Purwakarta pun mencapai Rp 700.000.

"Kami tinggal bangun 15.000 rumah rakyat miskin. Saya tinggal satu tahun lagi (memimpin Purwakarta). Programnya hanya satu, yaitu bangun 15.000 rumah rakyat miskin karena listrik kita sudah 100 persen. Untuk 10 tahun ke depan sudah relatif bagus lah. Jalannya sudah dilebarkan. Sekolah-sekolah juga pada bagus," katanya.

Dengan demikian, Dedi optimistis, bupati yang menggantikannya tinggal menjalankan sistem yang telah berjalan. Dengan program-program pembangunan yang sudah nyaris rampung seluruhnya, Dedi berharap Bupati yang menggantikannya dapat menginvestasikan pendapatan daerah Purwakarta ke daerah lain atau bahkan negara lain.

"Bupati ke depan tinggal investasi. Ya uang ada. Itu saja cita-cita saya. Seperti Tiongkok atau Amerika. Uang ada tinggal dia investasi untuk kas negara ke depan. Sehingga negara memiliki sumber-sumber pendapatan tidak hanya mengandalkan pendapatan di negaranya. Negara lain sudah melakukan itu. Pendapatan negaranya sudah bisa didapat dari negara lain," harapnya.

Karakter

Tak hanya itu, Dedi juga berharap pola pembangunan Purwakarta yang mengadopsi kebudayaan setempat diikuti oleh daerah lainnya. Dengan demikian, setiap daerah akan memiliki karakter dan ciri tersendiri. Pembangunan yang merujuk pada kebudayaan lokal ini diyakini Dedi bakal melahirkan makanan, pakaian, dan pariwisata, serta infrastruktur khas yang dapat diwariskan pada generasi mendatang.

"Jawa Barat itu provinsi yang tidak punya karakter. Karena tidak punya karakter jadi makin sempit wilayah kulturnya. Wilayah administratif yang ditentukan undang-undang boleh besar, tapi wilayah kulturalnya tidak ada karena tidak punya basis ideologi itu. Misalnya begini dari Jakarta ke Depok tidak terasa perbedaanya. Depok itu dari mana, batasnya apa. Dari Jakarta ke Bogor sama saja. Geser lagi ke Bekasi, Karawang sama saja. Mohon maaf ya mulai terasa kan masuk Purwakarta. Bayangkan.

Cirebon dan Indramayu sudah punya warisan dari kesultanan. Itu kan tinggal dikembangkan. Saya ingin suatu saat nanti ketika masuk ke suatu daerah terasa perbedaannya," katanya.

Dengan menjadikan nilai-nilai budaya dan karakter daerah sebagai identitas diri, bangsa Indonesia tidak perlu lagi merasa minder dengan bangsa lain. Selama ini, Bangsa Indonesia minder bergaul di dunia internasional karena khawatir perilaku dan pemikiran yang ditiru bangsa lain tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh bangsa tersebut.

"Ketika pakai dasi kita sibuk minder takut dasi kita salah. Tidak sesuai dengan tata pergaulan dunia karena yang punya standarisasi dasi itu orang lain. Coba kalu kita pakai baju kita, kita tidak pernah takut salah. Andaikan salah, toh milik kita. Kita yang mengerti," katanya.
Dikirim Dengan Susah Payah

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon