Kaltim Percepat Upaya Tingkatkan Populasi Sapi
Jumat, 7 Oktober 2016 | 11:44 WIB
Samarinda - Provinsi Kalimantan Timur melakukan percepatan langkah guna menambah populasi sapi yang hingga kini masih belum mampu memenuhi kebutuhan lokal. Pasalnya, sekitar 70 persen kebutuhan sapi Kaltim masih didatangkan dari luar daerah.
"Populasi sapi di Kaltim ada 141.000 ekor. Jumlah ini tentu tidak sebanding dengan tingkat kebutuhan daging masyarakat. Sehingga untuk mencukupi permintaan konsumen, kita harus membeli sapi dari Sulsel, Sulteng, Jatim, dan lainnya," ujar Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kaltim Dadang Sudarya di Samarinda, Jumat (7/10).
Populasi sapi yang hanya 141.000 ekor tersebut, jika diasumsikan angka kelahiran anak sapi (pedet) sebesar 20 persen per tahun, maka setiap tahun di Kaltim akan terjadi panen pedet sebanyak 28.200 ekor.
Menurutnya, jumlah kelahiran ini tentu jauh dari kurang jika dibandingkan dengan tingkat kebutuhan daging yang dikonsumsi warga Kaltim. Pasalnya, kebutuhan daging sapi warga setempat mencapai 9.900 ton per tahun atau setara dengan 59.950 ekor sapi per tahun.
Untuk itu, lanjutnya, diperlukan beberapa langkah percepatan peningkatan populasi, di antaranya menambah jumlah indukan produktif sebagai mesin pencetak pedet.
Langkah lainnya adalah melakukan optimalisasi reproduksi dengan harapan angka kelahiran kelahiran sapi dapat ditingkatkan melalui gerakan Program Sapi Indukan Wajib Bunting, Program Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan.
Cara lain yang ditempuh adalah melalui penggalakan kesehatan hewan terintegratif, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya wabah penyakit menular, termasuk dapat menekan angka kematian pada hewan ternak.
"Upaya yang tak kalah penting adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas pakan dengan mendorong terbentuknya padang penggembalaan yang luas. Kemudian mengembangkan kawasan peternakan dengan pemanfaatan semua potensi lahan pasca tanbang dan perkebunan sawit," katanya.
Dalam pemanfaatan lahan eks tambang, terutama tambang batu bara yang sudah tidak ditambang lagi dan memang banyak tersebar di Kaltim, pola ini sudah lama berjalan dan harus terus ditingkatkan karena berdasarkan penelitian, rumput yang dikonsumsi sapi aman sehingga pengembangannya perlu dilakukan.
Sedangkan untuk integrasi sapi dengan perkebunan sawit, hal ini juga sudah dilakukan di Kaltim dan berhasil karena baik kebun sawit maupun sapi yang dipelihara di perkebunan sama-sama diuntungkan, yakni kotoran sapi jadi pupuk sawit, sedangkan limbah sawit bisa jadi pakan ternak.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




