2016, Kasus Kematian Migran 3.800 Orang

Kamis, 27 Oktober 2016 | 10:23 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Para pengungsi berkumpul di kamp penampungan sementara di perbatasan Yunani-Macedonia, dekat Desa Idomeni, Yunani, Selasa, 1 Maret 2016. Di lokasi tersebut ada ribuan pengungsi yang terjebak.
Para pengungsi berkumpul di kamp penampungan sementara di perbatasan Yunani-Macedonia, dekat Desa Idomeni, Yunani, Selasa, 1 Maret 2016. Di lokasi tersebut ada ribuan pengungsi yang terjebak. (AFP Photo/Louisa Gouliamaki)

Jenewa - Setidaknya 3.800 migran pengungsi telah meninggal di Laut Mediterania ketika mencoba untuk mencapai Eropa sepanjang tahun 2016. Temuan fakta itu menjadikan tahun 2016 menjadi periode paling mematikan para migran.

Menurut Badan Pengungsi Dunia, jumlah rata-rata kasus kematian terus meningkat dari satu kematian untuk setiap 269 kedatangan pada tahun 2015, menjadi satu banding 88 kedatangan pada tahun 2016.

"Kami menerima laporan lebih dari kematian di Laut Mediterania," ujar William Spindler, juru bicara badan yang berbasis di Jenewa, lewat akun Twitter pada Rabu ((26/10).

Kasus kematian pengungsi kembali dilaporkan di lepas pantai Libia pada Rabu (26/10). Lembaga amal Dokter Tanpa Batas MSF menyatakan pihaknya telah menemukan mayat 29 migran yang tewas dalam genangan bahan bakar dan air laut dalam perahu di lepas pantai Libia.

MSF kemudian menyewa kapal Bourbon Argos, untuk mengevakuasi 107 orang di atas kapal perahu karet yang terhanyut sekitar 26 mil laut dari lepas pantai Libia pada Selasa.

Pada awalnya, awak menghitung ada 11 mayat di dasar perahu, yang dibanjiri dengan campuran genangan keruh bahan bakar dan air laut. Kapal penyelamat Bourbon Argos kemudian dipanggil untuk operasi penyelamatan lain di dekatnya, dan menyelamatkan 139 orang di atas kapal kapal lain.

Para kru kembali ke perahu dan menemukan ada 29 orang telah meninggal, kemungkinan akibat sesak napas, luka bakar pada kulit atau tenggelam. Mayat-mayat itu diambil dari campuran genangan beracun setelah proses beberapa jam, dengan bantuan tim dari LSM Jerman Sea-Watch.

"Campuran air dan bahan bakar begitu busuk menyengat sehingga kita tidak bisa tinggal di atas kapal untuk waktu yang lama. Itu mengerikan," kata pemimpin proyek MSF Michele Telaro.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon