Melirik Jendela Pasar
Selasa, 20 Desember 2016 | 06:48 WIB
Minggu lalu saya mencoba "melongok prospek ekonomi 2017" yang tampaknya meniupkan lebih banyak tailwind di naungan langit cerah, walau masih ada mendung menggantung di beberapa spot di langit. Celotehan berikut ini mencoba melirik jendela pasar modal 2017. Akankah banteng perkasa menyeruduk ke tengah arena? Atau beruang ganas yang akan mengoyak Anda secara tak terduga?
Jendela pasar membuka dan menutup dengan kecepatan tinggi. Dan sering di luar prediksi. Kadang dia menutup kencang, walau tak ada badai besar berembus. Kadang dia membuka lebar, padahal tak ada kekuatan besar yang mendorong dari dalam. Calon emiten yang siap "melantai" (padahal bursa sudah tak lagi punya lantai), menunggu jendela pasar membuka, dengan perasaan tegang, karena masuk pasar pada timing yang salah bisa membuat emiten babak belur. Para spekulan memacu adrenalin yang sama, menunggu gerak jendela, dengan berdebar, memilih saat yang tepat untuk akumulasi atau profit taking.
Tahun 2016 tampaknya akan menjadi tahun manis di pasar modal Indonesia. Di Amerika Serikat (AS), Dow Jones Industrial Average mencatat rekor baru sejak Donald Trump memastikan langkahnya ke Gedung Putih. Di Bursa Efek Indonesia, indeks harga saham gabungan (IHSG) tampaknya akan mencatat kenaikan double digit, tahun ini. Sampai market closed, Jumat pekan lalu, 16 Desember, IHSG sudah mencatat kenaikan lebih dari 13% YTD. Ditambah budaya window dressing akhir tahun, masih ada peluang IHSG naik, dan menutup perdagangan 2016 pada posisi lebih tinggi lagi.
Dalam kolom minggu lalu, saya menulis bahwa politik akan mendominasi arah perkembangan ekonomi global. Dengan nada serupa saya ingin mengatakan bahwa politik juga akan menjadi langit yang melengkungi cuaca pasar modal global. Volatilitas pasar, saya perkirakan, akan meningkat pada tahun mendatang. Kebijakan ekonomi Trump dan dampak lanjutan Brexit akan sangat mewarnai pasar modal dunia, melampaui lingkup Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dampak Brexit beberapa bulan lalu, akan mulai tertasa intens tahun ini.
Eropa menyembunyikan banyak potensi turbulensi dan stres. Krisis perbankan di Italia, pemilu di Prancis, Jerman dan Belanda, negosiasi perdagangan yang lamban, mobilitas penduduk dan tenaga kerja yang menurun tajam, pasca-Brexit, menimbulkan keengganan dunia usaha untuk melakukan investasi dan ekspansi. Bukan mustahil ekonomi Eropa akan mengalami kontraksi lagi pada tahun mendatang.
Kenaikan tingkat bunga yang sudah dimulai oleh the Fed, berpeluang besar berlanjut tahun depan, akan mengerem capital outflows dari AS. Di emerging market akan membuat limpahan likuiditas menurun bahkan mengering. Akan sangat vulnerable bagi pasar modal Indonesia yang didominasi oleh dana-dana asing.
Bagi Eropa, naiknya tingkat bunga di AS, akan melebarkan differential interest rate antara AS dan Eropa. Melemahkan investasi di Eropa sekaligus juga akan mendorong dolar AS menguat terhadap Euro. Bukan mustahil Euro akan jatuh di bawah parity. Di Amerika Serikat, kemenangan Trump tiba-tiba saja indentik dengan pertumbuhan ekonomi dan bullish market. Kebijakan ekonomi Trump, yang saya sebut sebagai "mega ekspansif" –menurunkan tarif pajak dan menaikkan public spending secara massif—memang berita bagus bagi ekonomi dalam negeri AS. Memihak pengusaha dan orang-orang berduit dan melebarkan disparitas kemakmuran.
Tapi bukankah capital market is the toy of the rich? Investor AS sudah pasang ancang-ancang untuk merelokasi aset mereka ke dalam big cap’s companies. Kebijakan yang bullish ke dalam itu, sayangnya, punya dampak pressure ke luar. Sikap proteksionistis dalam perdagangan dan tenaga kerja, merupakan faktor negatif bagi perekonomian dan pasar global. Kebijakan ekonomi sering tampil seperti pilihan arena lomba lari.
Selalu hadir trade off antara sasaran jangka pendek dan jangka panjang. Sprinter tak bagus ikut bertanding marathon, dan sebaliknya. Short-term boost to growth will come with a shortening of the economic cycle. Banyak pakar investasi yang dengan bergurau menyebut Trump sebagai "speaks first and thinks later", tapi dengan dukungan mayoritas Republic di Senat, Trump lebih leluasa melaksanakan keyakinannya. Ekspansi di sektor infrastruktur, sejatinya, juga sudah dicanangkan Obama selama periode pemerintahannya yang kedua, tapi selalu mendapat blocking dari Senat.
Emerging markets, yang sangat tergantung pada capital inflows, akan terpukul oleh menguatknya dolar AS, dan harus berusaha membangun dan mengandalkan kekuatan dalam negeri, kalau tak ingin menjadi korban cash reversal. Brasil dan Rusia, tampaknya masih akan tetap berkubang dalam resesi. Boleh jadi India yang ekonominya tak terlalu tergantung pada komoditas, dan pasar modalnya tak terlalu tergantung pada capital inflows, akan menjadi bintang emerging markets pada tahun mendatang.
Lalu, Indonesia? Berikut beberapa perkiraan saya. Pertama, dengan berasumsi bahwa program pembangunan infrastruktur akan terus dilanjutkan secara konsisten, maka sektor infrastruktur, konstruksi, kesehatan, dan konsumsi dapat dipertimbangkan untuk mendapat tambahan bobot dalam alokasi aset, tahun mendatang, di samping teknologi dan ekonomi kreatif.
Harga komoditas yang hampir dipastikan naik tahun depan adalah minyak bumi. Bahasa Trump yang "kurang diplomatis" dan lebih mirip "reality show" terbukti menimbulkan ketegangan dengan negara-negara mitra dagangnya. Faktor ini saja sudah cukup untuk mengerek harga minya naik.
Apalagi ditambah dengan keputusan OPEC mengurangi produksi sebesar 1,2 juta barrel per day dari 33,7 juta menjadi 32,5 juta, berlaku Januari– Juni 2017. Kenaikan harga minyak tidak memiliki banyak arti bagi Indonesia. Selain net importer, jumlah lifting kita juga terus menurun dari tahun ke tahun. Peran migas dalam APBN telah menurun dari 33% pada tahun 2006 menjadi tinggal 6% tahun 2016.
Karena itu, komoditas yang punya peluang mengalami kenaikan harga adalah komoditas yang terkait dengan energi seperti batubara dan CPO. Komoditas lainnya masih harus menunggu perbaikan pertumbuhan ekonomi di negara maju. Pertumbuhan yang tak merata di negara-negara maju, sebagai importir komoditas, membuat perbaikan harga yang sudah dimulai tahun 2016 menjadi penuh ketidak-pastian.
Dengan asumsi bahwa Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan tingkat bunga rendah, seperti saat ini, dan tidak "terpaksa" mengikuti The Fed, maka pasar modal Indonesia akan dibanjiri penawaran obligasi tahun depan. Pemerintah akan tetap menjadi pemimpin pasar. Selain karena tingkat bunga rendah, defisit anggaran yang makin besar, juga kebutuhan mendesak dari program pembangunan infrastruktur.
Di dataran teknis, pada kesempatan berikut, insya Allah saya akan menulis tentang rencana BEI menggalakkan penny stocks, saham di bawah Rp 50, dan memperkenankan pialang menetapkan minimum deposit awal Rp 500.000 sebagai kebijakan yang nonsens dan kontraproduktif. Pada kesempatan ini saya merasa sangat perlu mengingatkan kembali bahwa bahaya terbesar bagi pasar modal Indonesia adalah pembalikan mendadak uang panas (sudden reversal of hot money).
Lebih dari separuh kapitalisasi pasar saham yang bernilai sekitar Rp 6.000 triliun itu, dimiliki oleh investor asing. Utang negara di dalam negeri yang berdenominasi rupiah, kita ketahui telah ber transformasi menjadi utang luar negeri. Hampir 40% surat utang negara dimiliki pula olah investor asing!
Hasan Zein Mahmud, Tim Ekselensi Learning Center, Pengajar pada Kwik Kian Gie School of Business
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




