Dansa Chacha Masuk PON, Pertandingan Mungkin di Kapal Pesiar
Kamis, 5 April 2012 | 18:20 WIB
Dansa khusus nomor chacha dinilai memenuhi persyaratan lima (provinsi) peserta, sementara hoki dan drumband tidak masuk karena pesertanya tak memadai.
Dansa dipastikan akan menjadi cabang olahraga (cabor) baru yang akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau. Namun, karena resistensi dari masyarakat adat setempat, pertandingan mungkin akan diisolasi.
Demikian antara lain seperti diumumkan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Kamis (5/4). Kepastian itu didapat setelah syarat minimum lima provinsi yang (bakal) berpartisipasi dapat dipenuhi.
Sementara itu, dua cabor lainnya yang sebelumnya sempat diusulkan, yakni drumband dan hoki, akhirnya dibatalkan masuk daftar pertandingan di pesta olahraga nasional empat tahunan yang akan diselenggarakan pada 6-20 September nanti itu, karena gagal memenuhi syarat. Menurut Wakil Ketua Umum KONI, Inugroho, kedua cabang tersebut gagal memenuhi syarat hingga batas waktu yang ditentukan, yaitu 4 April.
"Masing-masing cabang (drumband dan hoki) hanya diikuti oleh empat provinsi, sementara syarat yang kami tetapkan saat pertemuan (pada) 28 Maret lalu adalah lima provinsi. Dengan demikian, hanya dansa yang (akan) dipertandingkan. Namun itu pun hanya nomor chacha saja," ujar Inugroho, saat jumpa pers di kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jakarta.
Nomor chacha diputuskan dapat dipertandingkan, karena diikuti oleh lima provinsi, masing-masing yaitu Jawa Barat, Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Sementara keempat nomor dansa lainnya, yaitu waltz, salsa, quick tap dan tango, tidak jadi dipertandingkan.
Pemerintah sendiri dalam hal ini, menurut Kepala Deputi IV Kemenpora, Djoko Pekik, juga siap mengantisipasi resistensi yang datang dari Lembaga Adat Melayu (LAM) di Riau yang sebelumnya sudah menentang dansa untuk dipertandingkan. Di mana alasannya adalah karena tidak sesuai dengan budaya Melayu.
"Dansa akan dipertandingkan, dengan tetap menjunjung tinggi norma dan adat masyarakat setempat. Kita bisa mencari jalan keluar terbaik, misalnya dengan menggelar cabang tersebut di lokasi yang terisolir, seperti di kapal pesiar," ujar Djoko.
Dansa dipastikan akan menjadi cabang olahraga (cabor) baru yang akan dipertandingkan di Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII di Riau. Namun, karena resistensi dari masyarakat adat setempat, pertandingan mungkin akan diisolasi.
Demikian antara lain seperti diumumkan oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Kamis (5/4). Kepastian itu didapat setelah syarat minimum lima provinsi yang (bakal) berpartisipasi dapat dipenuhi.
Sementara itu, dua cabor lainnya yang sebelumnya sempat diusulkan, yakni drumband dan hoki, akhirnya dibatalkan masuk daftar pertandingan di pesta olahraga nasional empat tahunan yang akan diselenggarakan pada 6-20 September nanti itu, karena gagal memenuhi syarat. Menurut Wakil Ketua Umum KONI, Inugroho, kedua cabang tersebut gagal memenuhi syarat hingga batas waktu yang ditentukan, yaitu 4 April.
"Masing-masing cabang (drumband dan hoki) hanya diikuti oleh empat provinsi, sementara syarat yang kami tetapkan saat pertemuan (pada) 28 Maret lalu adalah lima provinsi. Dengan demikian, hanya dansa yang (akan) dipertandingkan. Namun itu pun hanya nomor chacha saja," ujar Inugroho, saat jumpa pers di kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Jakarta.
Nomor chacha diputuskan dapat dipertandingkan, karena diikuti oleh lima provinsi, masing-masing yaitu Jawa Barat, Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Sementara keempat nomor dansa lainnya, yaitu waltz, salsa, quick tap dan tango, tidak jadi dipertandingkan.
Pemerintah sendiri dalam hal ini, menurut Kepala Deputi IV Kemenpora, Djoko Pekik, juga siap mengantisipasi resistensi yang datang dari Lembaga Adat Melayu (LAM) di Riau yang sebelumnya sudah menentang dansa untuk dipertandingkan. Di mana alasannya adalah karena tidak sesuai dengan budaya Melayu.
"Dansa akan dipertandingkan, dengan tetap menjunjung tinggi norma dan adat masyarakat setempat. Kita bisa mencari jalan keluar terbaik, misalnya dengan menggelar cabang tersebut di lokasi yang terisolir, seperti di kapal pesiar," ujar Djoko.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




