Menangkan Ahok-Djarot, Saksi Golkar Siap Melawan SARA

Jumat, 31 Maret 2017 | 23:09 WIB
AP
AO
Penulis: Asni Ovier Dengen Paluin | Editor: AO
Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Indonesia I (Jawa dan Sumatera) Nusron Wahid memberikan sambutan pada acara Pengajian Partai Golkar di restoran Raja Konro Daeng Naba, Jalan Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat, 31 Maret 2017.
Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Indonesia I (Jawa dan Sumatera) Nusron Wahid memberikan sambutan pada acara Pengajian Partai Golkar di restoran Raja Konro Daeng Naba, Jalan Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat, 31 Maret 2017. (Istimewa/Asni Ovier/Istimewa)

Jakarta - Dalam rangka memenangkan pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot), para saksi Partai Golkar siap melawan isu-isu seputar suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Untuk itu, Partai Golkar membekali para saksi strategi untuk melawan SARA.

Hal itu dikatakan Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Indonesia I (Jawa dan Sumatera) Nusron Wahid dalam sambutan pada acara Pengajian Partai Golkar di restoran Raja Konro Daeng Naba, Jalan Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (31/3). Acara itu dihadiri Ketua DPD II Jakarta Selatan Ikhsan Ingratubun dan Bupati Kabupaten Batang terpilih, Wihaji. Sementara, ustaz Zuhri Yaqub dari Jakarta Barat memberikan ceramah keagamaan.

Malam ini Partai Golkar kembali menggelar pengajian dalam rangka mempersatukan bangsa dan memperkuat ukhuwah islamiyah. Secara khusus, Golkar dalam pengajian itu sekaligus membekali para saksi dan relawan yang akan terlibat dalam pemenangan pasangan nomor urut dua, Ahok-Djarot pada  putaran kedua dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta.

Dalam pengajian yang diselenggarakan di Kecamatan Pasar Minggu itu, para saksi dibekali cara melawan isu SARA yang selama ini dijadikan alat untuk mengganggu pasangan Ahok-Djarot dan orang-orang yang memilihnya. "Kalau ada yang seperti itu (penggunaan isu SARA), Partai Golkar wajib melawan. Para saksi di lapangan harus bisa melawan praktik seperti itu," kata Nusron.

Dikatakan, Partai Golkar tidak ingin Islam yang rahmatan lil alamin dirusak oknum orang Islam sendiri. Untuk itu, di hadapan sekitar 500 orang yang hadir dan beberapa ibu-ibu yang akan diberangkatkan umrah oleh Djarot, Nusron mengajak untuk bersama-sama memangkan pasangan Ahok-Djarot.

"Kenapa kita ingin memenangkan pasangan nomor dua, karena pasangan itu yang paling menguntungkan buat Jakarta dan tentunya utuk umat Islam. Seumur-umur, baru kali ini ada masjid di Balai Kota Jakarta, namanya Masjid Fatahillah, nama dari Sunan Gunungjati," tutur Nusron.

Dikatakan, kepemimpinan pasangan nomor dua juga selalu berpihak kepada umat Islam. "Belum ada gubenrur di Jakarta, di mana para ustaz, marbot, dan takmir akan mendapatkan gaji bulanan. Semua imam masjid dan mushala dalam 5 tahun nanti akan diumrahkan semua. Jadi, nanti tidak ada imam masjid, takmir, dan marbot yang tidak bisa berangkat umrah," ujarnya.

Persoalannya, kata Nusron, sekarang ini pasangan nomor dua selalu diganggu dengan isu agama, bahkan warga yang akan memilih pasangan itu juga terus diganggu. Ada berbagai macam ancaman untuk mengganggu mereka yang memilih pasangan nomor dua, mulai dari tudingan kafir, disebut tidak akan masuk surga, hingga tidak akan dishalatkan jenazahnya jika telah meninggal dunia.

"Saya katakan, orang yang berpendapat seperti itu bukan golongan ahlus sunnah wal jamaah. Sebab, ada hadis nabi yang diriwayatkan Ibnu Umar, yang menyebutkan bahwa alamatnya ahlus sunnah wal jamaah itu ada 10. Yang nomor 7 menyebutkan, tidak boleh mengkafirkan orang lain selama orang tersebut masih ahli kiblat atau masih shalat. Kalau selama masih shalat dikafirkan, maka yang mengkafirkan bukan ahlus sunnah wal jamaah," katanya.

Jadi, kata Nusron, apa yang terjadi saat ini hanya karena beda pilihan. "Mengapa dianggap kafir? Mengapa dikatakan akan masuk neraka. Terus, yang masuk surga nanti siapa saja?," katanya.

"Kemudian, soal ancaman jenazah tidak dishalatkan bagi umat Islam yang memilih Ahok-Djarot. Memang kalau tidak dishalatkan, orang yang berdosa adalah yang sudah mati? Yang dosa adalah yang hidup," lanjut Nusron.

Sementara itu, Ustaz Zuhri Yaqub dalam ceramahnya mengatakan, berdasarkan hasil ijtihad para ulama, ada yang membolehkan memilih nonmuslim menjadi pemimpin, seperti gubernur. Untukitu, bagi orang yang berbeda pilihan tidak boleh mengkafirkan sesama. "Jangan hanya karena kekuasaan dan takut kalah lalu mengkafirkan orang yang berbeda pilihan," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon