KPK Belum Dapat Pastikan Motif Teror Terhadap Novel Baswedan

Selasa, 11 April 2017 | 22:55 WIB
FS
FH
Penulis: Fana F Suparman | Editor: FER
Penyidik KPK Novel Baswedan dirujuk ke RS JEC Menteng setelah disiram air keras.
Penyidik KPK Novel Baswedan dirujuk ke RS JEC Menteng setelah disiram air keras. (Beritasatu TV)

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum dapat memastikan motif serangan teror dengan menggunakan air keras terhadap penyidik senior Novel Baswedan.

Wakil Ketua KPK, Laode M Syarief, mengatakan, pihaknya bersama kepolisian saat ini masih mendalami kasus tersebut.

"Terus terang kami juga belum tahu persis (motifnya). Kami sedang teliti dan selidiki oleh tim KPK dan Polisi," kata Syarief di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (11/4).

Sejumlah kalangan menilai, aksi teror ini berkaitan dengan kasus korupsi yang sedang ditangani Novel maupun KPK secara lembaga. Disinggung mengenai hal tersebut, Syarief belum dapat menjawab tegas.

Syarief mengakui, teror ini merupakan salah satu resiko yang dihadapi pegawai, penyidik dan pimpinan KPK dalam menjalankan tugasnya.

"Apakah musibah ini berhubungan yang disidik oleh KPK, kami juga tidak bisa berikan jawaban iya atau tidak karena memang belum diketahui. Tapi masyarakat umum berpikiran dan kami pun berpikiran bekerja di KPK itu resiko banyak dan salah satunya resiko seperti yang kita lihat sekarang ini," ungkapnya.

Syarief mengatakan, tim KPK dan pihak kepolisian saat ini terus berkoordinasi untuk mengusut kasus tersebut. Diharapkan, dalam waktu dekat kasus ini penyerang terhadap Novel dapat dibekuk dan diketahui motifnya.

"Kita berharap bahwa pelakunya bisa didapatkan. Jika bisa didapatkan, maka untuk ketahui motif itu akan lebih jelas," katanya.

Wakil Ketua KPK lainnya, Alexander Marwata, mengatakan, terlalu spekulatif jika teror terhadap Novel dikaitkan dengan kasus yang ditangani KPK. Pihak kepolisian dan KPK saat ini masih terus mengusut kasus tersebut.

"Saya kira statement yang mengaitkan masih spekulatif. Kami masih berkoordinasi dengan aparat kepolisisan. Rasanya tidak fair jika dikaitkan," katanya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon