7.000 Orang Ikuti Kirab Kebangsaan di Bogor

Minggu, 14 Mei 2017 | 11:20 WIB
KS
AB
Penulis: Kristo Suryokusumo | Editor: AB
Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP) Maruarar Sirait (kanan depan) dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (kiri depan) mengikuti
Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP) Maruarar Sirait (kanan depan) dan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (kiri depan) mengikuti "Kirab Kebangsaan Indonesia Raya" di Bogor, Jawa Barat, Minggu 14 Mei 2017. (Antara)

Bogor - Taruna Merah Putih (TMP) menggelar "Kirab Kebangsaan Indonesia Raya" di Stadion Pakansari, Bogor, Jawa Barat, Minggu (14/5). Acara yang digelar untuk menyambut peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2017 diikuti masyarakat dan tokoh dari berbagai organisasi, agama, dan budaya. 

Acara yang diikuti sekitar 7.000 orang ini diisi dengan gerak jalan dari depan Gedung Kesenian dan Olahraga Kabupaten Bogor dan berakhir di Stadion Pakansari. Selain gerak jalan, kirab kebangsaan juga dimeriahkan oleh marching band, barongsai, pertunjukan angklung, serta karnaval pakaian daerah.

Ketua Umum TMP, Maruarar Sirait menyatakan permasalahan intoleransi dan intimidasi yang terjadi belakangan menjadi alasan bagi TMP untuk menggelar kirab kebangsaan. Saat ini, masih banyak masyarakat Indonesia yang mendukung Pancasila dan kebersamaan, meski mereka berbeda suku dan agama. 

"Kita tahu masalah intoleransi dan banyak intimidasi terjadi di Indonesia. Silent majority tetap mendukung Pancasila dan kebersamaan. Kita biasa berbeda, tetapi kita adalah Indonesia. Situasi belakangan ini membuat sebagian kita takut, sehingga Taruna Merah Putih hadir bersama tokoh-tokoh yang mendukung Pancasila," katanya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang hadir dalam acara tersebut menyatakan kirab kebangsaan merupakan salah satu cara menangkal intoleransi. Pendekatan secara fisik, seperti kirab kebangsaan, merupakan cara yang efektif dan efisien untuk mempererat toleransi di masyarakat.

"Hari ini itu bagi saya terjadi sebuah kondisi pelemahan yang harus disikapi dengan kreatif. Saya tidak yakin Indonesia kalah dengan serangan dari luar. Tetapi kita akan kalah jika patah di dalam. 'Perang' hari ini adalah perang informasi. Siapa yg menguasai hal-hal negatif, radikalisme, intoleransi, itu perlahan akan menjadi konsumsi info yang berbahaya. Salah satu (cara) untuk menanggulanginya adalah menjangkau masyarakat secara fisik, seperti kirab, seminar, dan lain-lain," kata Ridwan.





Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon