Bahana Rekomendasikan Saham Infrastruktur

Selasa, 5 September 2017 | 11:20 WIB
WP
WP
Penulis: Whisnu Bagus Prasetyo | Editor: WBP
Ilustrasi pembangunan infrastruktur.
Ilustrasi pembangunan infrastruktur. (Antara)

Jakarta- Memasuki paruh kedua tahun ini, pasar saham Indonesia terus memperlihatkan geliatnya. Salah satunya tercermin dari pertumbuhan kinerja perusahaan khususnya laba bersih dan return on equity Indonesia yang lebih tinggi dibanding negara lain sehingga valuasi harga saham Indonesia sudah relatif lebih mahal dibanding negara tetangga di ASEAN.

Saat ini hingga akhir tahun, diperkirakan Price Earning Ratio (PER) atau rasio harga saham dengan laba bersih perusahaan Indonesia sekitar 17 kali, sudah mendekati +1.0 standar deviasi di atas rata rata dalam 5 tahun terakhir.

PT Bahana Sekuritas memperkirakan tahun depan PER Indonesia bakal turun ke kisaran 14-15 kali karena laba bersih perusahaan diperkirakan tumbuh sekitar 12 persen - 14 persen dari perkiraan tahun ini.

Dengan perkiraan valuasi harga saham yang tidak murah, Plt Head of Research Bahana Henry Wibowo memberi rekomendasi bagi investor untuk fokus pada saham-saham yang memberikan imbal hasil optimal, khususnya saham big cap seperti saham-saham yang terkait infrastruktur.

"Pada semester kedua tahun ini hingga paruh pertama tahun depan, pemerintah akan menggenjot proyek infrastruktur, karena pada periode itu menjadi waktu yang krusial bagi pemerintahan Joko Widodo untuk membukukan kinerja bagus yang nantinya bisa menjadi nilai positif saat kampanye yang diperkirakan sudah mulai pada kuartal terakhir tahun depan," kata Henry dalam risetnya yang dipublikasikan, Selasa (5/9).

Pada semester pertama, pemerintah membukukan defisit fiskal hanya di bawah 2 persen dari produk domestik bruto (PDB). Bila dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P 2017) defisit fiskal ditargetkan 2,67 persen untuk keseluruhan tahun, artinya pada semester kedua ini, ekspektasinya pemerintah akan menggenjot belanja.

"Apalagi tahun depan Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, sehingga pemerintah akan memastikan semua sarana dan prasarana dalam perhelatan olah raga terbesar di kawasan ASEAN ini harus sudah siap dipakai sebelum para tamu negara datang ke Indonesia," kata Henry.

Data memperlihatkan untuk periode 2015-2019, total belanja infrastruktur Indonesia diperkirakan mencapai Rp 1.375 triliun atau naik hampir 50 persen dibanding belanja infrastruktur periode 2005 hingga 2014. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan anggaran infrastruktur dalam APBN 2017 meningkat secara signifikan dibandingkan dengan tahun 2016 atau secara nominal mencapai Rp 387,3 triliun.

Dana tersebut akan dipakai antara lain untuk membangun sekitar 836 kilometer jalan, 10.198 meter jembatan, membangun dan mengembangkan 13 bandara, membangun dan mengembangkan 61 pelabuhan laut termasuk juga membangun jalur kereta api yang semuanya tersebar di seluruh Indonesia.

Untuk itu, Bahana merekomendasikan beli untuk sektor big cap terkait infrastruktur seperti saham PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan target harga Rp 6.600, dan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dengan target harga Rp 11.600. Bahana juga menyukai bank BUMN milik negara yang memberikan pembiayaan besar terhadap proyek infrastruktur pemerintah seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) masing-masing dengar target harga Rp 16.250 dan Rp 17.000.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon