Naik 8%, Lippo Karawaci Cetak Recurring Income Rp 3,6 Triliun

Selasa, 10 Oktober 2017 | 15:08 WIB
DK
B
Penulis: Devie Kania | Editor: B1
Ketut Budi Wijaya Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk.
Ketut Budi Wijaya Presiden Direktur PT Lippo Karawaci Tbk. (MIphoto/Uthan A Rachim)

JAKARTA – PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan kenaikan pendapatan berulang (recurring income) sebesar 8% menjadi Rp 3,6 triliun pada semester I-2017. Recurring income tersebut berkontribusi sebesar 73% terhadap total pendapatan perseroan yang mencapai Rp 4,9 triliun.

Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya mengatakan, sampai semester I-2017, Divisi Healthcare dan mal menjadi penopang pertumbuhan pendapatan yang kuat. Tercatat, pendapatan dari Divisi Healthcare Lippo Karawaci meningkat sebesar 8% menjadi Rp 2,8 triliun.

Dari pendapatan tersebut, terdapat kontribusi sebesar 47% yang berasal dari enam rumah sakit mapan, yang memberikan pendapatan sebesar Rp 1,3 triliun. Selanjutnya, ungkap dia, pendapatan pendapatan Divisi Komersial yang terdiri dari mal, ritel, dan hotel juga meningkat sekitar 5% hingga mencapai Rp 363 miliar pada semester I-2017. Pendapatan mal meningkat sekitar 17% menjadi Rp 191 miliar.

"Pencapaian itu berasal dari kenaikan kontribusi pendapatan dari Lippo Mal Puri, Baubau, dan Jambi. Kemudian, sebagai tambahan, kami pun telah memasukkan Lippo Plaza Jember dengan luas bersih disewakan sebesar 28.000 m2 ke dalam portofolio," ujar Ketut Budi dalam keterangan resmi, kemarin.

Di tengah kenaikan bisnis healthcare dan mal, ia mengakui, pada semester I-2017, pihaknya mencatatkan penurunan pendapatan untuk bisnis hotel dan hospitality sekitar 6% menjadi Rp 172 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu.

Perseroan pun mencatatkan penurunan pendapatan dari Divisi Residential dan Urban Development sebesar 25% menjadi Rp 1,3 triliun. "Dari komponen pendapatan divisi tersebut, tercatat revenue dari townships menurun hingga 41% menjadi Rp 687 miliar," papar Ketut.

Meski terdapat penurunan dari bisnis townships, ia menegaskan bahwa sebetulnya pihaknya masih membukukan kenaikan pendapatan dari bisnis large scale integrated developments sekitar 6% menjadi Rp 648 miliar pada semester I-2017.

Menurut dia, terdapatan pengakuan pendapatan dari beberapa proyek yang masih dalam tahap konstruksi. Contohnya proyek Millenium Village, Orange County, dan Lippo Thamrin Office, yang telah dibukukan berdasarkan persentase penyelesaian konstruksi.

Kemudian, jika menilik perkembangan bisnis hingga semester I tahun ini, Divisi Manajemen Aset milik perseroan mampu membukukan kenaikan sebesar 11% menjadi Rp 481 miliar. Kenaikan itu ditopang oleh perkembangan basis aset yang dikelola dan kenaikan fee maupun pendapatan dividen yang diraih dari dua real estate investment trust (REITS) di Singapura.

Dengan beragam divisi serta pencapaian yang ada, pendapatan Lippo Karawaci selama semester I-2017 mencapai Rp 4,9 triliun, turun 3% dibandingkan periode sama 2016. Laba kotor turun 9% menjadi Rp 2,1 triliun, EBITDA turun 21% menjadi Rp 962 miliar, dan laba bersih relatif datar sebesar Rp 487 miliar.

"Model bisnis kami yang seimbang sekali lagi telah menopang total pendapatan ketika permintaan sektor properti melemah pada semester I-2017. Di tengah pelemahan sektor properti, perseroan tetap meluncurkan proyek kota modern terbaru, yakni Meikarta, yang jika meninjau respons pasar sudah sangat mengembirakan," ungkap dia.

Pada semester II-2017, Ketut yakini bakal ada perkembangan permintaan untuk sektor properti. Lippo Karawaci melalui First REIT juga telah mendapatkan persetujuan dari shareholders atas rencana akuisisi properti terpadu, yakni Siloam Hospitals Buton yang terhubung dengan Lippo Plaza Buton senilai Sin$ 28,5 juta.

"Dengan selesainya akuisisi properti terpadu, portofolio First REIT akan menjadi 19 properti yang berada di Indonesia, Singapura, dan Korea Selatan. Saat ini, Siloam Hospitals Buton merupakan rumah sakit dengan fasilitas terbaru dan termaju di kota Baubau, Pulau Buton," jelas dia

Mengenai akuisisi tersebut, ia menyatakan, untuk sekali lagi, pihaknya telah membuktikan keberlanjutan strategi asset light atau recycling capital Lippo Karawaci. Untuk itu, harapannya dengan aksi tersebut perseroan akan meningkatkan arus kas, serta memperkuat neraca perusahaan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon