Tenun Dayak Iban Melenggang di JFW 2018

Selasa, 31 Oktober 2017 | 18:39 WIB
MM
B
Penulis: Mardiana Makmun | Editor: B1
Koleksi Yurita Puji dan Mandhari menggunakan tenun Dayak Iban dioeragakan di Jakarta Fashion Week 2018
Koleksi Yurita Puji dan Mandhari menggunakan tenun Dayak Iban dioeragakan di Jakarta Fashion Week 2018 (ist/ist)

Jakarta – Tenun Dayak Iban melenggang di Fashion Tent, Jakarta Fashion Week 2018 yang baru digelar pekan lalu. Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (Asppuk) memperkenalkan keindahan kain tenun tradisi Dayak Iban yang diolah dalam balutan busana nan indah karya Yurita Puji untuk brand Yurita Puji dan Temma Prasetio untuk brand busana pria, Mandhari.

Sebanyak 33 set koleksi diperagakan, 18 busana wanita karya Yurita dan 15 koleksi pakaian pria karya Temma. Yurita menghadirkan kain tenun yang didominasi warna cokelat, cream, biru, dan abu-abu yang dipadankan dengan kain dari Maxistyle Novus dan Zhivago.

Beragam desain nan eksotik ditampilkan dengan wujud dress, outer, jas, celana, rok, dan padanan blus. Keindahan koleksi tenun Dayak Iban semakin terlihat total dengan padanan aksesoris Miss Mysa yang terbuat dari bulu-bulu burung dan mutiara air tawar. Persiapan aksesoris dari desain sampai dengan pembuatan membutuhkan waktu satu bulan. Mutiara dipilih sebagai bahan utama karena mutiara banyak di hasilkan di Indonesia seperti Lombok, Maluku, dan Papua.

Sedangkan Temma menghadirkan koleksi bertema Savior yang diterjemahkan dalam bentuk outer. Outer ditampilkan dalam gayanya yang modis, modern, dan tetap elegan dengan perpaduan desain dan wastra nasional yaitu tenun ikat Dayak Iban dari Kalimantan Barat.

Asppuk merupakan lembaga yang menjadi mitra Tropical Forest Conservation Action (TFCA) for Kalimantan-Yayasan Kehati, untuk proyek pendampingan warga Dayak Iban di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, dalam pengembangan dan pemanfaatan tanaman pewarna alam untuk tenun ikat Dayak Iban. Ada lima desa dampingan ASPPUK dalam proyek ini, yakni Desa Lanjak Deras, Mansiau, Sungai Abau, dan Labiyan (keempatnya di Kecamatan Batang Lumpar), serta Desa Manua Sadap di Kecamatan Embaloh Hulu, Provinsi Kalimantan Barat.

"Tenun ikat Dayak Iban berpewarna alam lebih dari sekadar komoditas usaha kecil rakyat bernilai ekonomi. Bagi warga Dayak Iban, tenun ikat ini juga merupakan simbol ekspresi dan ritual budaya yang diwariskan turun temurun," kata Mia Ariyana, Direktur Asppuk dalam siaran pers yang diterima Investor Daily, Selasa (31/10).

Sejak 2015, TFCA Kalimantan-Kehati bersama Asppuk berupaya mengembangkan pengetahuan tentang pewarna alam untuk tenun ikat Dayak Iban di lima desa dampingan, masing-masing di Kecamatan Batang Lupar dan Embaloh Hulu.

"Kegiatan pengelolaan dan pemanfaatan tanaman pewarna sebagai bahan dasar pembuatan tenun ikat, diharapkan akan menjaga keberlanjutan lingkungan dan kelangsungan tradisi budaya tenun Ikat Dayak Iban," ujar Puspa Dewi Liman, direktur TFCA Kalimantan.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon