Perbedaan Latarbelakang Perekat Rasa Persatuan
Jumat, 31 Agustus 2018 | 20:19 WIB
Jakarta - Perbedaan suku, agama, etnis seharusnya bukan menjadi hambatan untuk tumbuhnya rasa persaudaraan. Berbagai perbedaan di masyarakat seharusnya dijadikan perekat rasa persatuan dalam memikul tanggung jawab membangun bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
"Perbedaan suku, agama, etnis hanya untuk ciri, tidak untuk ditonjolkan. Apalagi demi kepentingan politik," kata pengamat politik senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Harry Tjan Silalahi, dalam bedah buku 80 Tahun Sulastomo: Katur Ibu, di KAHMI Center Jakarta, Jumat (31/8).
Dia menceritakan bagaimana masa-masa awal mengisi kemerdekaan tahun 1965. Saat itu ada desakan untuk membubarkan ormas mahasiswa terbesar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). "Waktu itu, HMI sepertinya dikeroyok oleh organisasi-organisasi ekstra universitas lainnya. Hanya PMKRI (Persatuan Mahasiswa Kristen) yang pada waktu yang berani terang-terangan menolak pembubaran HMI," ucap mantan Ketua Umum PMKRI itu.
Dalam perkembangannya, mulai dari masa Orde Lama, Orde Baru, Reformasi dan hingga saat ini, rasa persaudaraan yang melatarbelakangi perbedaan nampak semakin menipis dan cenderung mengkhawatirkan.
Dia menceritakan, di tengah euforia dan tidak jelasnya arah reformasi, sejumlah tokoh yang terdiri dari berbagai latar belakang menyampaikan banyak gagasan agar tetap terjaga rasa persaudaraan. Para tokoh seperti Sulastomo, Ahmad Syafei Maarif, Nurcholis Madjid, Salahuddin Wahid, hingga Jakob Oetomo, menyatukan sikap dalam gerakan Jalan Lurus.
Gerakan ini mencoba merumuskan subtansi kebangsaan secara baru di dalam suatu manifes yakni manifes politik ketatanegaraan, manifes perekonomian dan kesejahteraan dan manifes sosial budaya. :Dalam manifes politik ketatanegaraan, masalah utama yang harus segera diselesaikan adalah rekonsiliasi nasional yang perlu dilakukan untuk mencegah perpecahan bangsa," kata salah satu pendiri CSIS ini.
Saat ini, konflik yang terjadi tidak sebatas pada tataran elite saja. Namun juga merambah ke tataran masyarakat yang sudah kehilangan sosial trust di antara kelompok masyarakat.
Mantan Ketua Umum HMI Sulastomo menilai, akar masalah konflik antarumat beragama sesungguhnya memiliki akar masalah yang sama. Setiap pemeluk agama pasti meyakini agama yang dipeluknya adalah yang paling benar. Karena itu wajar jika seseorang selalu berusaha agar orang lain memeluk dam mengamalkan agamanya juga.
Namun kalau berlebihan bisa mengesankan ekstrimisme dan radikalisme. Tidak saja dengan umat beragama lain, tetapi juga antarsesama umat seagama. "Adanya konflik berlatarbelakang kehidupan beragama merupakan wujud lemahnya pengamalan Pancasila. Negara dengan demikian ikut bertanggungjawab," kata Sulastomo.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




