Kapendam XVII Cenderawasih Mengutuk Penyekapan dan Pemerkosaan oleh KKB
Selasa, 23 Oktober 2018 | 07:13 WIB
Jayapura - Terjadi penyekapan terhadap para guru dan tenaga medis yang bertugas di Mapenduma oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogeya sejak tanggal 3 Oktober hingga 17 Oktober 2018. Insiden ini diungkapkan Kapendam XVII Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi saat dikonfirmasi wartawan, Senin (22/10) siang.
Hal itu diketahui setelah salah seorang korban berinisial MT memberikan keterangan terkait kejadian tersebut.
MT menjelaskan bahwa mereka adalah rombongan pertama yang masuk ke Distrik Mapenduma pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2018 bersama-sama dengan 3 rekan lainya antara lain EL ( guru SD ) suku Flores, LY( guru SMP ) suku Toraja dan FN ( guru SMP ) suku Paniai. Mereka ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Nduga untuk memberikan pelayanan pendidikan di Distrik Mapenduma.
"Pada saat mereka tiba di Bandara Mapenduma sdri MT bersama 3 rekannya disambut dan dikepung oleh Pok KKSB lengkap dengan senjata api berbagai jenis. Setelah pesawat jenis Caravan yang ditumpangi MT dan rekan-rekanya meninggalkan Bandara Mapenduma, pimpinan dari KKB mengambil alih pasukan. Mereka mengumpulkan dan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan terhadap saudari MT dan kawan kawan Mereka menyita HP dan KTP, " tuturnya.
MT menuturkan tidak tahu persis berapa jumlah mereka tapi kami perkirakan lebih dari 20 orang.
Lanjut Kapendam, setelah dikumpulkan dan dilakukan pemeriksaan saudari MT bersama rekanya diarahkan oleh Kepala Sekolah untuk tinggal di perumahan guru. Saudara MT menempati sebuah rumah bersama 2 orang temannya. Pimpinan KKB menyampaikan bahwa tenaga guru dan tenaga kesehatan tidak boleh keluar rumah sebelum acara KKSB di distrik Mapenduma selesai. Tidak diketahui acara apa yang dimaksud.
Diperkosa
MT mengungkapkan sepekan setelah disekap, sekitar pukul 00.30 WIT, sebanyak 7 orang anggota KKSB masuk ke rumah yang dihuninya bersama dua rekannya dengan cara mencongkel jendela belakang rumah. Mereka langsung memadamkan listrik rumah dan pada saat itu dalam kondisi hujan deras. MT dan teman-temannya sudah berupaya berteriak dan meminta pertolongan karena merasa takut, namun tidak ada yang mendengar.
"MT diancam dengan todongan senjata dan diperkosa secara bergilir oleh 5 orang dari 7 anggota KKB tersebut," ujar Kapendam
Sekitar pukul 3.30 WIT anggota KKSB baru meninggalkan rumah. Pada pagi harinya MT melaporkan kepada kepala sekolah apa yang telah dialami semalam bersama temannya di rumah guru tempat mereka disekap.
"Setelah kejadian tersebut para guru dan tenaga kesehatan dikumpulkan dan diungsikan ke perumahan puskesmas distrik Mapenduma. Ditempat tersebut sudah ada yang lain dengan rincian guru SMP sejumlah 6 orang, guru SD sejumlah 3 orang, dan tenaga kesehatan perempuan sejumlah 4 orang sedangkan MT bertiga dengan teman. Jadi jumlah seluruhnya 16 orang, " ujar Kapendam menceritakan kisah duka MT
Diungkapkan, setelah berselang satu minggu tepatnya pada hari Kamis tanggal 18 Oktober para tenaga guru dan tenaga kesehatan dipulangkan menuju Wamena dengan dikawal oleh KKB lengkap dengan senjatanya sampai ke Bandara Mapenduma.
Ancaman Pembunuhan
Sebelum mereka naik pesawat pimpinan KKSB mengancam akan membunuh semua tenaga guru dan tenaga kesehatan apabila ada yang melapor ke pihak Aparat Keamanan.
"Sesuai dengan data yang kami himpun, pelaku penyekapan adalah KKSB Pimpinan Egianus Kogeya, yang bersangkutan masih hubungan keluarga dengan almahrum Kelly Kwalik pelaku penyanderaan terhadap tim Lorentz tahun 1995/1996 di Mapenduma," kata Kapendam.
Kelompok Egianus Kageya juga adalah pelaku penembakan pesawat dan pembantaian terhadap masyarakat sipil termasuk anak kecil di Nduga beberapa waktu yang lalu.
Disinggung langkah-langkah dilakukan aparat keamanan menyikapi kasus ini? Aidi menjelaskan bahwa aparat keamanan pasti akan melakukan tindakan, namun mekanismenya tidak perlu disampaikan ke publik.
"Kan Pangdam dan Kapolda sudah membentuk Satgas Penegakkan Hukum (Satgas Gakkum). Hal ini demi menjamin kepastian dan kewibawaan hukum di wilayah kedaulatan NKRI Aidi menjelaskan. Ini adalah tindakan keji dan biadab yang tidak berprikemanusiaan. Mereka (red. Korban) adalah pekerja sosial, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga demi untuk mensejahterahkan dan memajukan masyarakat pedalaman Papua. Tapi mereka justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




