Munas-Konbes NU Beri Perhatian Khusus Sampah Plastik dan Kerawanan Bencana
Rabu, 27 Februari 2019 | 23:35 WIB
Banjar, Beritasatu.com - Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan musyawarah nasional alim ulama dan konferensi besar NU 2019 memberikan perhatian khusus kepada pembahasan tentang sampah plastik dan posisi Indonesia sebagai negara yang rawan bencana. NU, kata Kiai Said, prihatin dengan status Indonesia sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.
"Khusus terkait sampah plastik, NU sangat prihatin dengan status Indonesia sebagai penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah China," kata Kiai Saat sambutan di acara pembukaan Munas-Konbes NU di pondok pesantren Miftahul Huda Al Azhar, Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2/2019).
Indonesia, kata Kiai Said, menghasilkan sekitar 130.000 ton sampah plastik setiap hari. Hanya separuh yang dibuang dan dikelola di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Sisanya, kata Kiai Said, dibakar secara ilegal atau dibuang ke sungai dan laut yang merusak ekosistem.
"Ketika sampah mikroplastik berubah menjadi nanoplastik dan kemudian dimakan ikan dan seterusnya dikonsumsi manusia, limbah plastik telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Mengingat semakin mendesaknya polusi plastik, NU mendesak Pemerintah melakukan upaya yang lebih keras untuk menekan dan mengendalikan laju pencemaran limbah plastik di Indonesia," ungkap Kiai Said.
Terkait posisi dan kondisi Indonesia yang rawan bencana alam, Kiai Said meminta semua pihak terutama Pemerintah untuk berupaya memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana masyarakat terutama di daerah berisiko tinggi terdampak bencana. NU, kata Kiai Said mendorong agar hal itu dilakukan dengan beberapa cara.
"Pertama meningkatkan kapasitas atau pengetahuan dan skill masyarakat dalam menghadapi bencana berbasis kearifan lokal terutama melalui pesantren dan madrasah," ungkap dia.
Kedua, lanjut Kiai Said, Pemerintah Daerah harus menjadikan pengurangan risiko bencana terintegrasi dalam rencana pembangunan. Ketiga, melakukan simulasi rutin penanganan bencana.
"Keempat menyepakati sistem peringatan dini dan mekanisme penyelamatan diri saat terjadi bencana agar masyarakat dapat menyelamatkan diri; dan kelima mengalokasikan anggaran yang memadai," beber Kiai Said.
Sebagaimana diketahui, sebagai pelaksanaan dari mandat keagamaan dan kebangsaan, Munas Alim Ulam dan Konbes NU 2019 di Kota Banjar, Jawa Barat kali ini akan membahas sejumlah masalah penting yang diklasifikasi dalam beberapa hal. Pertama, masalah yang mencakup bahaya sampah plastik, niaga perkapalan, bisnis money game, dan sel punca.
Kedua, terkait masalah kewarganegaraan dan hukum negara, konsep Islam Nusantara, dan politisasi agama. Ketiga yang menyangkut RUU Anti-Monopoli dan Persaingan Usaha agar kedzaliman ekonomi global dapat dicegah dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.
Di bagian Rekomendasi, NU tengah mengkaji agar Pemerintah mempertimbangkan kembali pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) untuk mengatasi defisit pasokan energi dalam jangka panjang.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




