Korban Tewas di Mozambik Diperkirakan Capai 1.000 Orang
Selasa, 19 Maret 2019 | 14:32 WIB
Maouto, Beritasatu.com - Korban tewas akibat terjangan Topan Idai, di Mozambik, Senin (18/3/2019), diperkirakan mencapai 1.000 orang.
Perkiraan jumlah korban tewas tersebut disampaikan Presiden Mozambik, Filipe Nyusi, dalam pidato yang disiarkan di radio nasional, Senin (18/3). Filipe Nyusi berbicara setelah melakukan penerbangan ke daerah yang terkena dampak untuk melihat upaya penyelamatan dan dampak kehancuran.
"Secara resmi, kami memiliki catatan lebih dari 84 orang tewas, tetapi semuanya menunjukkan ada kemungkinan korban yang tewas lebih dari 1.000 orang tewas," kata Filipe Nyusi, seraya menambahkan bahwa 100.000 orang warganya dalam bahaya.
Nyusi menyebut dampak topan Idai merupakan bencana kemanusiaan nyata dalam proporsi besar. "Perairan dari sungai Pungue dan Buzi telah menghancurkan di sepanjang tepi sungai, memusnahkan seluruh desa, mengisolasi masyarakat dan kami bisa melihat, ketika kami terbang di atas lokasi, mayat-mayat mengambang," kata Filipe Nyusi.
Topan Idai mendarat di dekat Beira di Mozambik sekitar Kamis tengah malam dengan kecepatan hingga 177 km per jam dan bergerak melalui negara tetangga Zimbabwe dan sebagian Malawi.
Pada Senin (18/3), Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) mengatakan perkiraan awal di Zimbabwe, Malawi, dan Mozambik menunjukkan bahwa lebih dari 150 orang telah tewas di ketiga negara itu. Tetapi organisasi kemanusiaan memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa bisa meningkat tajam.
Menurut IFRC, topan Idai telah menyebabkan kerusakan "besar dan mengerikan" di Beira, kota pantai di Mozambik tengah yang terputus dari bagian lain Mozambik. Tim bantuan baru dapat mencapai kota Beira pada Minggu (17/3/2019).
"Situasinya mengerikan. Skala kehancurannya sangat besar. Hampir semuanya hancur. Jalur komunikasi telah sepenuhnya terputus, dan jalan telah dihancurkan. Beberapa komunitas yang terkena dampak tidak dapat diakses," kata Jamie LeSueur, yang memimpin tim penilai IFRC di kota Beira.
Secara terpisah, Presiden Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa, telah membuat deklarasi bencana untuk daerah-daerah yang terkena bencana topan Idai.
Kementerian Informasi Zimbabwe menyatakan banyak warga masih hilang setelah topan, yang memicu banjir dan hujan menyapu ratusan rumah di bagian timur dan barat Zimbabwe.
"Jumlah warga Zimbabwe yang kami hilang pada hitungan saat ini adalah 89," kata juru bicara pemerintah, Nick Mangwana, kepada wartawan pada briefing Senin (18/3/2019), seraya menambahkan bahwa para insinyur sedang bekerja untuk mendapatkan obat-obatan dan persediaan makanan untuk warga yang terkena dampak.
Kementerian Informasi Zimbabwe berbagi foto-foto beberapa murid yang telah diselamatkan dari sekolah asrama di Distrik Chimanimani, salah satu daerah yang paling parah terkena dampak di bagian timur negara itu. Jembatan hancur tersapu banjir, sementara aliran listrik dan komunikasi di daerah itu terputus.
Menurut pejabat PBB, topan ini terjadi seminggu setelah banjir hebat yang memengaruhi 1,5 juta orang di Mozambik dan Malawi. Topan menewaskan sedikitnya 120 orang di kedua negara.
Negara Malawi juga sangat terpukul. Banjir di sana, yang disebabkan hujan sebelum topan Idai melanda. Banjir menyebabkan setidaknya 122 kematian, lapor Reliefweb.
Pemerintah Inggris menyatakan akan memberikan bantuan kemanusiaan senilai US$ 8 juta ke Mozambik dan Malawi. Mereka juga mengatakan akan mengirim tenda dan ribuan peralatan perlindungan ke Mozambik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




