PoliticaWave: Gunakan Medsos dengan Bijaksana
Jumat, 18 Oktober 2019 | 15:37 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Pakar komunikasi dari PoliticaWave Sony Subrata menyebutkan media sosial (medsos) memiliki dampak terhadap masyarakat. Untuk itu, jika medsos bisa menjadi baik bila digunakan dengan semestinya, sebaliknya medsos berdampak negatif jika salah dalam pemanfaatannya. Hal ini dipaparkan Sony dalam sebuah tulisannya di buku Jagat Digital, Pembebasan dan Penguasaan.
"Apabila kita menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram, kita harus benar-benar bijak dalam penggunaannya. Sebab medsos bisa menghasilkan hal-hal positif, namun bisa juga memberikan dampak negatif," kata Sony dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (18/10/2019).
Sony mencontohkan penggunaan medsos yang negatif salah satunya dengan menyebarkan ujaran kebencian dan berita-berita hoax kepada Jokowi pada Pilpres lalu. Ujaran kebencian dan hoax di media sosial, kata Sony, dapat menyebabkan perpecahan bangsa. Untuk itu, Sony berharap pemerintah dapat bersikap tegas terhadap pelaku penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian di media sosial.
"Saya sangat berharap nantinya pemerintah harus bersikap tegas terhadap mereka yang gemar menyebarkan hoax supaya tidak menimbulkan perpecahan bangsa," ujar Sony.
Sementara itu, Terry Flew, Professor of Communication and Creative Industries, Queensland University of Technology, Brisbane sekaligus Presiden The International Communication Association (ICA) menyebutkan demokrasi digital sejauh ini telah menimbulkan krisis kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga demokrasi.
Tampil menjadi pembicara utama dalam konferensi forum ICA Regional Conference 2019 bersama sejumlah peneliti dari Aspikom (Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi) di Bali, pada Rabu (16/10/2019), Flew menyebut krisis kepercayaan itu terjadi secara menyeluruh dan tidak hanya terhadap lembaga eksekutif, legislatif, yudkatif, tetapi juga terhadap institusi agama, media massa, perbankan dan lain-lain.
"Krisis itu terjadi bersamaan dengan semakin mudahnya masyarakat mendapatkan informasi, wacana, referensi, diskusi dan konsultasi melalui media baru seperti media sosial, mesin-pencari dan e-commerce," kata Flew dalam pidatonya di konferensi yang bertajuk "Searching for the Next Level of Human Communication: Human, Social, and Neuro (Society 5.0)".
Dikatakan ketika banyak hal bisa ditransaksikan secara elektronik, orang secara perlahan melupakan fungsi perbankan, betapapun e-money sarat dengan kejahatan. Demikian pula ketika informasi mudah didapatkan melalui media sosial, maka orang mulai meninggalkan media massa, betapapun akhirnya terbukti media massa sesungguhnya lebih dapat dipercaya.
"Ketika referensi keagamaan begitu mudah didapatkan melalui Youtube atau Facebook, maka institusi resmi keagamaan juga mulai ditinggalkan," tambah Flew.
Indonesia mungkin menjadi pengecualian dalam kasus ini. Menurut paparan Edelman Trust Barometer, secara global tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah dan media massa hanya sebesar 44 persen tahun 2018 dan 47 persen tahun 2019. Namun di Indonesia, temuan Edelman Trust Barometer menyebut jika tingkat kepercayaan masyarakat di Indonesia terhadap media massa masih cukup tinggi.
Temuan Flew juga menyebutkan jika saat ini sedang terjadi ketidakpercayaan terhadap elite politik oleh masyarakat. Krisis kepercayaan ini menurut Flew, juga diperparah oleh krisis pada arus media massa. Hal ini diperumit oleh kenyataan banyak pengelola media massa yang menjadi follower media sosial dalam penyebaran spekulasi, disinformasi, dan hoax.
"Sudah tahu suatu informasi mengandung hoax disebarkan juga oleh media massa untuk mendapatkan share atau hit tanpa verifikasi memadai. Media massa dalam hal ini tidak menjadi sumber informasi yang lebih baik daripada media sosial." tegas Flew.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




