Yusuf Supendi: Militansi Merosot, PKS Kalah di DKI

Jumat, 13 Juli 2012 | 23:07 WIB
KW
WP
Penulis: Kristantyo Wisnubroto | Editor: WBP
Yusuf Supendi, salah satu pendiri PKS
Yusuf Supendi, salah satu pendiri PKS (Antara)
Mesin politik partai kader ini mandek di Jakarta.

Pascadiumumkannya enam pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Yusuf Supendi, pendiri Partai Keadilan itu sudah menganalisis dan memprediksi pasangan mana pun, "sulit menang dalam satu putaran."

Bahkan, menurut dia, pasangan yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid dan Didik J Rachbini berat masuk pada putaran kedua dalam Pemilu Kada DKI Jakarta. 

"Ini terbukti hasilnya calon PKS hanya masuk tiga besar," ujar Yusuf saat dimintai tanggapannya oleh beritasatu.com, Kamis (12/7) malam.

Dari hasil quick count sejumlah lembaga survei, pasangan Hidayat-Didik hanya meraup sekitar 11% dari pemilih di DKI. Jauh dari raihan suara PKS saat mengusung Adang Daradjatun-Dani Anwar saat Pemilu Kada tahun 2007 yang mencapai 40%.

Yusuf yang pernah menjadi anggota DPR 2004-2009 itu, menjelaskan, terdapat sejumlah indikator penyebab anjloknya suara PKS antara lain; merosotnya keteladanan dan kentalnya ketidakdisiplinan sejumlah elite PKS, kekecewaan dan ketidakpercayaan publik, disingkirkannya sejumlah tokoh PKS, mundurnya tanpa berita sejumlah kader yang tidak puas akan sepak terjang dan tingkah laku sejumlah elite PKS.

"Juga akibat stagnasi kaderisasi, serta kejenuhan kader menerima instruksi dan pembelaan diri para pelaku dan pelanggar disiplin dan terjadinya tebang pilih, serta pembodohan kader dan simpatisan," ulas Supendi yang dikenal kritis kepada elite PKS itu.

Padahal fakta sejarah tidak terbantahkan, lanjut dia, banyak para Kader Inti yang sudah berbaiat menjadi Ikhwanul Muslimin (IM) di Indonesia berbaju PKS sebagai kepanjangan IM Mesir.

Kemenangan sayap politik IM di Mesir dan bergeliatnya sayap politik IM di Libia, patut menjadi 'Ibrah, pembelajaran. Justru di sisi lain, suara PKS malah kandas pada pemilu kada di sejumlah daerah.

"Ini mesti menjadi Ta'dib, pelajaran bagi para pengamat poitik, terutama bagi politisi penentu kebijakan."

Yusuf menegaskan, elite PKS harus bertanggung jawab atas kondisi ini. Padahal, Jakarta adalah barometer politik untuk tingkat nasional dan PKS dikenal sebagai partai kader yang solid dari atas sampai akar rumput.

Pemunculan pasangan Hidayat-Didik juga menimbulkan kontroversi di internal PKS. Pasalnya, calon untuk DKI-1 dari PKS sudah dideklarasikan sebelumnya yakni Triwisaksana yang merupakan pimpinan DPRD DKI Jakarta. Meski, Hidayat adalah mantan Presiden PK dan Ketua MPR, diduga sejumlah elite PKS tidak mendukungnya. Ada upaya menggembosi suara Hidayat menjelang 2014.


Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon