Cerita Dokter di Wuhan, 76 Hari Tidur di Bangsal Hingga Khawatir Didiskriminasi
Jumat, 17 April 2020 | 10:51 WIB
Wuhan, Beritasatu.com - Dokter Hu Weiling hidup dan bekerja selama 76 hari lockdown kota Wuhan di Provinsi Hubei, Tiongkok. Dia menyebutnya sebagai mimpi buruk ketika virus corona (Covid-19) menyebar hingga menyebabkan kematian dan ketakutan di kota bagian Tiongkok Tengah itu.
Sebagai dokter di rumah sakit, dia merawat ratusan pasien mulai balita hingga orang lanjut usia (lansia). Hu dengan rekannya harus berjuang melawan Covid-19 yang pertama kali muncul di kota itu pada akhir 2019 sebelum menyebar ke seluruh dunia.
Wuhan menghadapi penguncian karantina paling ketat yang pernah dilakukan sebuah kota kontemporer untuk menahan penyebaran Covid-19. Semua layanan kereta api dan transportasi udara terputus. Patroli polisi dan pos-pos pengawas menahan orang agar tinggal di rumah, kecuali memiliki izin.
Ketika jumlah orang sakit dan sekarat di Wuhan melonjak, Hu teringat saat menyaksikan hujan di jendela rumah sakit. Dalam hatinya bertanya-tanya, apakah kota yang sudah berabad-abad berdiri dan berpenduduk 11 juta itu akan keluar dari mimpi buruk.
Pemerintah Tiongkok pada Rabu (8/4/2020) mengakhiri 76 hari lockdown kota Wuhan. Kebijakan tersebut memungkinkan warga kota berpergian untuk pertama kalinya sejak ditutup pada 23 Januari 2020 untuk mencegah wabah.
Hu mengatakan pembukaan lockdown adalah hadiah yang tak terlupakan sepanjang hidupnya termasuk bagi 90 rekan dokter yang menghabiskan malam tanpa tidur di bangsal karantina. Mereka juga sering kekurangan alat pelindung diri (APD). "Saya senang saya selamat dari pertempuran dan kami telah memenangkan ini," katanya.
Dia berharap Wuhan akan kembali menjadi kota normal. "Aku pikir kota sudah siap untuk itu dan kuharap hidup bisa kembali normal," kata Dokter Hu saat South China Morning Post menyambangi Wuhan, Jumat (17/4/2020).
Tetapi dia memahami bahwa kehidupan di Wuhan tidak akan sepenuhnya kembali seperti semula, karena terlalu banyak korban. Selain meninggal, banyak yang trauma dengan pengalaman ketika wabah melanda. "Saya melihat beberapa pasien menderita gangguan mental," katanya.
Bukan hanya penyakit, semua bisnis terpaksa berhenti, dan beberapa mungkin tidak pernah dibuka kembali. Hu mengatakan dua saudara perempuannya kehilangan pekerjaan di industri perhotelan.
Pada pertengahan Maret, rumah sakit Hu telah menangani ratusan pasien Covid-19. Mereka berhasil menekan kasus menjadi nol. Hu dan dokter-dokter lain merayakan dengan kondisi masih dibalut APD.
Hu tidak berencana untuk liburan. "Saya tidak punya cukup cuti untuk melakukan itu, dan saya mungkin didiskriminasi di kota-kota lain," katanya. "Itu mungkin benar sampai pandemi terkendali secara global."
Di seluruh kota, jumlah pasien sekarang berjumlah sekitar 400, menurut data resmi. Hu melakukan karantina selama 14 hari dan kembali ke rumah sakit, yang baru saja dibuka untuk konsultasi pasien yang tidak kena Covid-19.
Sementara itu, sejumlah pabrik mobil yang menjadi pusat perekonomian Wuhan kembali bekerja, termasuk pabrik Honda, General Motors, dan Renault. Sebelum lockdown, kota ini memproduksi hampir 2 juta kendaraan per tahun, menjadikannya industri terbesar di Wuhan dan membuat kota ini terkenal sebagai ibu kota mobil Tiongkok.
Sayangnya, Wuhan sekarang dikenal di seluruh dunia bukan karena produksi mobil, masakan lokal, peran sentral dalam revolusi negara pada 1911 yang mengakhiri ribuan tahun pemerintahan kekaisaran, atau universitas ternama. Wuhan kini dikenal sebagai pusat gempa pertama Covid-19 pecah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




