Rontal 17: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar

Kamis, 26 Juli 2012 | 22:27 WIB
DS
B
Penulis: Damar Shashangka | Editor: B1
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433
Cerita bersambung konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar karya Damar Shashangka. Terbit setiap hari di Beritasatu.com selama Ramadan 1433 (Beritasatu.com)
Majapahit, negara besar yang kekuasaannya membentang dari ujung utara pulau Swarnadwipa (Sumatera), Hujung Mêdini (Semenanjung Melayu) hingga ke Maloko (Maluku), dengan susah payah berhasil ditumbangkan oleh Dêmak Bintara pada 1478, dua windu yang lalu.

Runtuhnya kerajaan besar ini begitu mengejutkan negeri-negeri tetangga. Tak ada yang menyangka, negeri sebesar Majapahit bisa ditumbangkan oleh kerajaan kecil yang dulu merupakan kerajaan bawahannya itu. Majapahit memang sudah lemah, tapi bukan berarti, dengan mudah bisa diruntuhkan jikalau tak ada kekuatan dari dalam yang mengkhianatinya.

Begitu mendengar keruntuhan kerajaan besar di tanah Jawa itu, wilayah-wilayah Majapahit yang ada di luar Jawa maupun yang ada di Jawa, segera saja ikut melepaskan diri. Dêmak memang telah menjadi pemenang, tapi Dêmak tidak secara mudah menerima warisan wilayah yang seluas itu. Dêmak hanya mampu menguasai wilayah tengah pulau Jawa ditambah wilayah pusat Majapahit yang ditaklukkannya.

Di wilayah pusat Majapahit, sebagai pengganti trah Rajasa, seorang China muslim, Nyo Lay Wa, dikukuhkan sebagai penguasa oleh Sultan Dêmak, Panêmbahan Jim Bun. Dan semenjak tahun itu, Majapahit telah menjadi wilayah taklukan Dêmak Bintara.

Kehancuran Majapahit merupakan sebuah pukulan yang menyakitkan bagi bangsawan dan orang Jawa. Apalagi, ditambah pengangkatan seorang China sebagai Raja baru di Majapahit, benar-benar sebuah penghinaan yang tidak tanggung-tanggung.

Enam tahun kemudian, pada 1486, pasukan Kerajaan Daha, dipimpin oleh Raden Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, menyerbu Majapahit. Tak ada perlawanan yang berarti. Bahkan pasukan Dêmak tidak juga bisa membantu. Nyo Lay Wa, Raja Majapahit berdarah China yang memegang kekuasaan atas titah Sultan Dêmak Panêmbahan Jin Bun itu, tewas. Dan untuk kedua kali, Majapahit berhasil dijebol.

Tahta Majapahit, diboyong ke Daha. Dan Raden Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya, menyatakan bahwa Majapahit bangkit kembali di Daha, dengan ibukotanya Kêling! Majapahit bukan lagi menjadi wilayah taklukan Dêmak Bintara. Majapahit kembali merdeka. Walaupun wilayah kekuasaannya hanya sebatas Wilwatikta, Janggala dan Kadhiri. Raden Girindrawarddhana Dyah Ranawijaya menobatkan dirinya sebagai Raja. Dia mengambil gelar Sri Wilwatikta Janggala Kadhiri Prabhu Natha!

Kabar  tersebut telah sampai pula di Dêmak. Dan pihak Dêmak tidak bisa berbuat apa-apa. Kini, setelah enam tahun berlalu semenjak peristiwa pada 1486 tersebut, Majapahit semakin kuat. Tuban, kerajaan merdeka serta kerajaan Kêrtasana yang dulu merupakan wilayah Majapahit, walaupun tidak menyatakan bergabung dengan Majapahit di Daha, namun mereka berhubungan erat. Majapahit di Daha harus mengadakan persahabatan dengan kedua negara itu untuk tujuan perdagangan. Tuban memegang kendali pelabuhan Kambang Putih di pesisir utara. Dan para saudagar atas angin, kerap kali singgah disana.

Sedangkan Kêrtasana menguasai wilayah Pamotan, wilayah yang membentang di utara Trowulan. Wilayah yang harus dilalui sebelum menuju Tuban. Tanpa bekerjasama dengan Tuban dan Kêrtasana, maka tertutup sudah Majapahit di Daha dalam perniagaan. Sebab tak mungkin Majapahit di Daha bekerjasama dengan Surabaya  yang memegang kendali atas pelabuhan Ujung Galuh dan Kesultanan Giri Kêdhaton yang memegang kendali atas pelabuhan Tandhês, karena jelas-jelas mereka bermusuhan dengan Majapahit. Padahal dulu, semua pelabuhan itu adalah pelabuhan milik Majapahit!

Kaki-kaki kuda hampir menapaki tanah yang landai. Pesawahan yang tadi terlihat membentang jauh diatas, kini jaraknya sudah teramat dekat.

“Pelan, Wrêgola! Pelan!”

Kendali kuda disentakkan, sejenak ringkikan kuda terdengar dan laju kuda pun melambat.
Mata penunggang kuda mengawasi areal pesawahan yang sudah berjarak sekitar sepuluh tombak kedepan. Sepi, tak ada satu orangpun. Namun lamat-lamat, agak kesisi utara, nampak seseorang tengah duduk di gubug.

“Ada orang disana, kakang!”

Dan yang disebut kakang, melayangkan pandangannya ke arah mana telunjuk diarahkan.

Sejenak mata yang mengamat-amati itu menyipit.  Dan tampaknya, orang di dalam gubug, yang tengah menunggu sawahnya dari gangguan burung, juga tengah memperhatikan mereka.

“Kakang Tugaran, dia memperhatikan kita!”

“Ya, Wrêgola!”

Panji Tugaran, orang yang disebut kakang itu bergeming menatap sosok yang ada di gubug.

“Kita kesana, kakang?”

“Tunggu!”

“Tunggu apa?”

Panji Tugaran menuding kearah sesuatu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon