Rontal 26: Dinamika Islam Di Jawa Dan Konflik Wali Sanga-Syekh Siti Jenar
Minggu, 29 Juli 2012 | 21:40 WIB
Pupuh VI : Teguran Sang Susuhunan
Sebuah wuwu (Penangkap ikan dari anyaman rotan) diangkat dari dalam air. Beberapa ikan yang terperangkap disana nampak berkelonjatan resah. Senyuman mengembang dari bibir pemuda yang mengangkat wuwu tersebut. Hari ini dia bakal merasakan renyahnya ikan sungai. Banyak ikan yang siap jadi santapannya, terlihat mengumpul di dalam wuwu tersebut.
Ikan-ikan ditumpahkannya kedalam kantongan kecil yang juga terbuat dari anyaman rotan. Kantongan yang terikat erat dipinggangnya. Begitu telah tertumpah tanpa sisa, wuwu pun kembali diletakkan ke dalam air.
Setelah memasang tak begitu dalam pada tempat yang diperkirakan akan banyak ikan terperangkap, pemuda itu berdiri berkacak pinggang. Kini secepatnya dia harus kembali. Dia tidak bisa berlama-lama bermain dengan gemercik air sungai yang begitu jernih itu. Banyak tugas telah menanti. Tugas yang harus dikerjakannya sebagai santri Panti Kudus.
Pemuda yang tengah membawa kantong anyaman rotan di pinggangnya tersebut tak lain adalah Jangkung, santri baru di Panti Kudus. Semenjak dirinya resmi diterima sebagai seorang santri, semenjak itu pula Jangkung harus menggunduli rambutnya. Dia terkenal sebagai seorang santri yang sangat rajin dalam menyelesaikan pekerjaannya. Lebih dahulu bangun pada dini hari sebelum semua santri bangun untuk bersiap melaksanakan shalat Subuh.
Dia lebih rajin membersihkan tajug, walaupun tidak pada hari Jum'at dibandingkan para santri yang lain. Dia bahkan lebih banyak menimba air sumur untuk diisikan ke padasan daripada para santri yang lain. Jangkung memang rajin. Semua teman barunya mengakui itu. Tapi, Jangkung juga dikenal sebagai satu-satunya santri yang kerap tidak mengikuti pengajaran. Dia sering menghilang saat para santri sibuk mendengarkan bimbingan dari para santri sepuh. Kerap pergi begitu saja saat pengajaran kitab digelar. Dan kemana dia pergi, semua tidak ada yang tahu. Tingkah lakunya ini yang sekarang menjadi perbincangan di antara temannya.
Seperti halnya pada siang hari itu, Jangkung rupanya lebih asyik menghitung ikan hasil tangkapannya pada wuwu, alat penjebak ikan terbuat dari anyaman rotan, yang sengaja dia pasang di pinggiran sungai yang membelah kota Kudus itu. Dia lebih tertarik melihat makhluk-makhluk kecil bersirip hasil tangkapannya daripada mengikuti pengajaran Kitab Balaghah di pendhopo Panti. Dan Jangkung sama sekali tidak merasa bersalah karenanya.
Kaki-kaki tegapnya melangkah dengan ringan menuju areal Panti Kudus. Dia sudah hafal, pada waktu-waktu seperti ini, yaitu waktu menjelang Shalat Ashar, pengajaran pasti sudah selesai. Dan itu berarti, dirinya harus segera balik untuk kembali menimba air sumur yang harus dia isikan ke dalam padasan. Air-air yang akan digunakan sebagai air wudlu' bagi banyak temannya. Jangkung sendiri memiliki jalan rahasia khusus, yaitu sebuah celah kecil di belakang Panti. Celah yang bisa dia terobos untuk keluar dari area Panti pada waktu pengajaran tengah berlangsung.
Beberapa temannya sudah tahu dia kerap menerobos lewat celah itu. Namun tak ada satupun yang tahu dia pergi kemana setelahnya. Tapi kini, ada satu dua yang sudah bisa menduga, kemana Jangkung saat-saat pergi. Karena sangat sering sekali, begitu dia kembali, dia pasti membawa ikan-ikan sungai yang lantas dimasak dan disantap bersama dengan teman-teman lainnya.
Belum ada teguran dari para santri sepuh. Semua masih mendiamkan kelakuan Jangkung yang seperti itu. Walaupun kepergiannya sudah dipandang tidak menghargai sosok pemimpin Panti Kudus, Susuhunan Kudus.
Karena ternyata, tidak hanya pada saat digelarnya pengajaran dari para santri sepuh saja Jangkung berani menghilang, bahkan saat digelar pengajaran khusus dari Kangjêng Susuhunan Kudus, pengajaran rutin setiap malam Jum'at dan sangat wajib diikuti oleh semua santri, Jangkung juga berlaku serupa. Para santri sepuh sengaja masih mendiamkannya. Mereka belum punya keinginan untuk menegur Jangkung.
Kini Jangkung sudah memasuki areal Panti. Dilangkahkannya kaki memutar menuju bagian belakang Panti, di mana terdapat celah kecil yang merupakan jalan baginya untuk menelikung. Kantong anyaman rotan yang terikat di pinggangnya, segera dilepaskan. Tidak mungkin menerobos dengan kantong anyaman rotan masih melekat di pinggangnya. Setelah celah sudah berada di depan hidungnya, segera dia meletakkan kantongnya. Kemudian dia menerobos dengan posisi tengkurap. Menelungkup seperti seekor ular yang tengah melata.
Sebuah wuwu (Penangkap ikan dari anyaman rotan) diangkat dari dalam air. Beberapa ikan yang terperangkap disana nampak berkelonjatan resah. Senyuman mengembang dari bibir pemuda yang mengangkat wuwu tersebut. Hari ini dia bakal merasakan renyahnya ikan sungai. Banyak ikan yang siap jadi santapannya, terlihat mengumpul di dalam wuwu tersebut.
Ikan-ikan ditumpahkannya kedalam kantongan kecil yang juga terbuat dari anyaman rotan. Kantongan yang terikat erat dipinggangnya. Begitu telah tertumpah tanpa sisa, wuwu pun kembali diletakkan ke dalam air.
Setelah memasang tak begitu dalam pada tempat yang diperkirakan akan banyak ikan terperangkap, pemuda itu berdiri berkacak pinggang. Kini secepatnya dia harus kembali. Dia tidak bisa berlama-lama bermain dengan gemercik air sungai yang begitu jernih itu. Banyak tugas telah menanti. Tugas yang harus dikerjakannya sebagai santri Panti Kudus.
Pemuda yang tengah membawa kantong anyaman rotan di pinggangnya tersebut tak lain adalah Jangkung, santri baru di Panti Kudus. Semenjak dirinya resmi diterima sebagai seorang santri, semenjak itu pula Jangkung harus menggunduli rambutnya. Dia terkenal sebagai seorang santri yang sangat rajin dalam menyelesaikan pekerjaannya. Lebih dahulu bangun pada dini hari sebelum semua santri bangun untuk bersiap melaksanakan shalat Subuh.
Dia lebih rajin membersihkan tajug, walaupun tidak pada hari Jum'at dibandingkan para santri yang lain. Dia bahkan lebih banyak menimba air sumur untuk diisikan ke padasan daripada para santri yang lain. Jangkung memang rajin. Semua teman barunya mengakui itu. Tapi, Jangkung juga dikenal sebagai satu-satunya santri yang kerap tidak mengikuti pengajaran. Dia sering menghilang saat para santri sibuk mendengarkan bimbingan dari para santri sepuh. Kerap pergi begitu saja saat pengajaran kitab digelar. Dan kemana dia pergi, semua tidak ada yang tahu. Tingkah lakunya ini yang sekarang menjadi perbincangan di antara temannya.
Seperti halnya pada siang hari itu, Jangkung rupanya lebih asyik menghitung ikan hasil tangkapannya pada wuwu, alat penjebak ikan terbuat dari anyaman rotan, yang sengaja dia pasang di pinggiran sungai yang membelah kota Kudus itu. Dia lebih tertarik melihat makhluk-makhluk kecil bersirip hasil tangkapannya daripada mengikuti pengajaran Kitab Balaghah di pendhopo Panti. Dan Jangkung sama sekali tidak merasa bersalah karenanya.
Kaki-kaki tegapnya melangkah dengan ringan menuju areal Panti Kudus. Dia sudah hafal, pada waktu-waktu seperti ini, yaitu waktu menjelang Shalat Ashar, pengajaran pasti sudah selesai. Dan itu berarti, dirinya harus segera balik untuk kembali menimba air sumur yang harus dia isikan ke dalam padasan. Air-air yang akan digunakan sebagai air wudlu' bagi banyak temannya. Jangkung sendiri memiliki jalan rahasia khusus, yaitu sebuah celah kecil di belakang Panti. Celah yang bisa dia terobos untuk keluar dari area Panti pada waktu pengajaran tengah berlangsung.
Beberapa temannya sudah tahu dia kerap menerobos lewat celah itu. Namun tak ada satupun yang tahu dia pergi kemana setelahnya. Tapi kini, ada satu dua yang sudah bisa menduga, kemana Jangkung saat-saat pergi. Karena sangat sering sekali, begitu dia kembali, dia pasti membawa ikan-ikan sungai yang lantas dimasak dan disantap bersama dengan teman-teman lainnya.
Belum ada teguran dari para santri sepuh. Semua masih mendiamkan kelakuan Jangkung yang seperti itu. Walaupun kepergiannya sudah dipandang tidak menghargai sosok pemimpin Panti Kudus, Susuhunan Kudus.
Karena ternyata, tidak hanya pada saat digelarnya pengajaran dari para santri sepuh saja Jangkung berani menghilang, bahkan saat digelar pengajaran khusus dari Kangjêng Susuhunan Kudus, pengajaran rutin setiap malam Jum'at dan sangat wajib diikuti oleh semua santri, Jangkung juga berlaku serupa. Para santri sepuh sengaja masih mendiamkannya. Mereka belum punya keinginan untuk menegur Jangkung.
Kini Jangkung sudah memasuki areal Panti. Dilangkahkannya kaki memutar menuju bagian belakang Panti, di mana terdapat celah kecil yang merupakan jalan baginya untuk menelikung. Kantong anyaman rotan yang terikat di pinggangnya, segera dilepaskan. Tidak mungkin menerobos dengan kantong anyaman rotan masih melekat di pinggangnya. Setelah celah sudah berada di depan hidungnya, segera dia meletakkan kantongnya. Kemudian dia menerobos dengan posisi tengkurap. Menelungkup seperti seekor ular yang tengah melata.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




