Khofifah Sebut Peran Ibu Jauh Lebih Besar Selama Pandemi
Selasa, 11 Agustus 2020 | 20:55 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum PP Muslimat NU yang juga menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, pandemi virus corona (Covid-19) telah banyak mengubah sendi kehidupan, termasuk dalam keluarga.
Menurut Khofifah, perubahan itu juga melanda sektor pendidikan yang membuat proses belajar mengajar harus dilakukan secara daring. Kondisi ini menjadikan keluarga terutama kalangan ibu rumah tangga memiliki peran yang jauh lebih besar, dan harus mampu beradaptasi di berbagai situasi.
"Ibu menjadi suri tauladan bagi anak-anaknya. Ibu sebagai wanita, tentunya dituntut untuk mampu mendampingi anak-anaknya sesuai dengan kondisi pandemi saat ini," kata Khofifah di sela webinar YAICI dan Muslimat NU bertajuk 'Mencetak Ibu Milenial Pembangun Generasi Emas 2045 di Era Pandemi Covid-19', Selasa (11/8/2020).
Untuk itu, lanjut Khofifah, ibu harus paham dan bisa membimbing, menuntut, dan memonitor anak-anak dalam menggunakan gadgetnya. Sekaligus mencarikan peluang baru di dunia digital yang semakin banyak di era pandemi ini.
"Kalangan ibu juga bisa mengimplementasikan pola asuh yang arif, positif, efektif, konstruktif, dan transformatif. Pahami bahwa generasi sekarang cenderung berpikir praktis, ingin kebebasan, dan butuh pengakuan," paparnya.
Khofifah menambahkan, kalangan ibu bisa memanfaatkan masa pandemi ini untuk meningkatkan bonding dan kedekatan emosional dengan anak, serta memberikan keteladanan. Tak lupa pula sabar dan terus belajar. Hal ini mengingat mendidik anak yang bosan di rumah akan penuh tantangan.
"Pandemi ini juga merupakan kesempatanbagi kalangan ibu untuk bisa lebih kreatif memahami metode pembelajaran yang efektif bagi anak. Berikanlah anak-anak kita akar yang kuat untuk tumbuh, serta sayap yang kokoh untuk terbang di kemudian hari," tandas Khofifah.
Asisten Deputi Ketahanan Gizi, KIA dan Kesling, Kemenko Kesra/PMK (2010-2019), Meida Octarina MCN, menambahkan, ibu juga berperan penting dalam pemenuhan gizi keluarga, terutama di saat pandemi. Terlebih, banyak hal yang perlu diketahui agar keluarga mendapatkan gizi yang tepat dan imunitas meningkat. Terutama mengenai batasi gula, garam, dan lemak jenuh.
"Ketiganya sangat berpengaruh pada kondisi imunitas tubuh. Misalnya saja asupan gula berlebih ini akan menghalangi masuknya vitamin C ke dalam sel. Pada akhirnya, meningkatkan jumlah mikroba negatif, menurunkan jumlah mikroba positif hingga melemahkan kerja sel darah putih dalam fagostosis yang berperan dalam fungsi kekebalan tubuh," jelas Meida.
Meida pun menyarankan untuk memodifikasi kandungan gula pada makanan sehari. Dengan memperhatikan batasan asupan kandungan gula per harinya, yaitu kurang dari 50 gram. Dengan demikian, para ibu harus memperhatikan beberapa asupan yang tinggi gula. "Contohnya kental manis. Untuk 1/3 gelas saja sudah setara dengan kurang lebih 54 gram. Angka itu bahkan sudah melebihi dari batasan kandungan gula seharinya," tambah Meida.
Ketua Harian YAICI, Arif Hidayat, mengatakan penggunaan kental manis yang masih tinggi di keluarga Indonesia terjadi karena adanya persepsi yang salah di tengah masyarakat.
"Mereka beranggapan kental manis adalah susu yang bisa dikonsumsi layaknya minuman susu untuk anak. Padahal, kental manis hanya boleh diberikan kepada anak diatas usia 5 tahun. Untuk itu, diperlukan kerjasama seluruh pihak untuk memutus mata rantai salah persepsi masyarakat terhadap kental manis," tegas Arif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




