Catatan PAN untuk APBN 2021: Harus Tepat Sasaran Gerakkan Ekonomi

Kamis, 1 Oktober 2020 | 18:52 WIB
YD
YD
Penulis: Yudo Dahono | Editor: YUD
Presiden Joko Widodo (kiri) menyerahkan RUU tentang APBN tahun anggaran 2021 beserta nota keuangan dan dokumen pendukungnya kepada Ketua DPR Puan Maharani.
Presiden Joko Widodo (kiri) menyerahkan RUU tentang APBN tahun anggaran 2021 beserta nota keuangan dan dokumen pendukungnya kepada Ketua DPR Puan Maharani. (Antara)

Jakarta, Beritasatu.com - Rapat Paripurna DPR RI tanggal 29 September lalu telah menyetujui APBN 2021. Anggaran belanja pemerintah mencapai Rp 2.750 triliun. Mengingat defisit APBN ditetapkan 5,7 persen, pemerintah akan menerbitkan utang baru Rp 1.177 triliun.

Menanggapi rencana pemerintah menerbitkan utang baru, Sekjen DPP PAN Eddy Soeparno menekankan pentingnya dana yang digunakan tepat sasaran dan memberi dampak signifikan bagi perekonomian.

"Kami tetap perlu memantau penggunaan dananya agar tepat sasaran dan bermanfaat menggerakkan roda perekonomian, disamping membiayai aspek sosial dan kesehatan akibat Covid-19," kata Eddy di Jakarta, Kamis (1/10/2020)

Dia menjelaskan, belanja pemerintah harus diarahkan ke sektor-sektor yang mampu menunjang target pertumbuhan ekonomi tersebut, sekaligus mengurangi dampak menurunnya kinerja dunia usaha akibat pandemi berkepanjangan ini.

Wakil Ketua Komisi VII DPR RI ini memberikan perhatian khusus pada prospek penerimaan negara, khususnya dari pajak, agar terhindar dari shortfall sebagaimana dialami di tahun-tahun sebelumnya

"Karena turunnya penerimaan negara akan terkompensasi melalui penambahan utang baru. Selain memberatkan posisi utang negara, utang baru juga akan membebani Bank Indonesia yang diberi tugas menyerap surat utang pemerintah melalui mekanisme burden sharing," lanjutnya.

Menurut Eddy, saat ini Indonesia berada di persimpangan jalan yang kurang kondusif. Di satu sisi penerimaan negara bisa saja di bawah target, namun di lain pihak kemungkinan membengkaknya pengeluaran negara juga cukup besar.

"Apalagi di tengah ketidakpastian terkait kapan berakhirnya pandemi Covid-19 ini," jelas Eddy yang pernah menjabat Direktur Investment Banking Group Asia Pacific di Merril Lynch tersebut.

Terkait ekspektasi Menteri Keuangan RI yang optimis bahwa omnibus law akan memberikan berbagai kemudahan dalam berusaha dan investasi di Indonesia, Eddy mengatakan masa transisi pemberlakuan omnibus law membutuhkan waktu dan sosialisasi yang menyeluruh.

"Kami tetap berpandangan konservatif dan hati-hati mengingat di satu pihak, berbagai perundang-undangan lama dinyatakan tidak berlaku lagi sementara di lain pihak omnibus law membutuhkan aturan turunan berupa peraturan pemerintah yang perlu dipahami pelaku usaha," tutup Anggota DPR RI dari Dapil Kota Bogor dan Kabupaten Cianjur ini.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon