Penyintas Covid-19 Membutuhkan Dukungan Psikososial
Senin, 19 Oktober 2020 | 21:53 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Penguatan dan dukungan psikososial pada pasien Covid-19 dipercaya membantu mempercepat proses penyembuhan. Psikolog Edward Andriyanto Sutardhio mengatakan, target jangka pendek dari pendampingan psikososial terhadap pasien Covid-19 adalah membuang energi dan perasaan negatif.
"Kondisi ini membuat semangat dan menurunkan stres, sehingga imunitas tubuh meningkat. Oleh karena itu fokus pada tujuan terdekat untuk kesembuhan," kata Edward dalam dialog virtual di Graha BNPB, Jakarta, Senin (19/10/2020.
Edward mengungkapkan, dari sejumlah kisah dan pengalaman para penyintas, optimisme dan pemaknaan hidup juga bisa membantu proses penyembuhan. Bahkan ada pasien yang terpanggil untuk menolong pasien lainnya dengan penguatan mendoakan orang lain.
Edward mengatakan, untuk bisa menerima kondisi diri, pasien butuh waktu lama, sampai satu minggu. Ketika pasien lebih cepat menerima kondisi diri dan terbangun rasa optimisme maka pemulihan pun akan cepat.
Ia pun mengingatkan perlunya penerapan 3K yakni kaji informasi, kelola emosi, dan kembangkan sumber daya. Dalam hal ini, pasien atau pun masyarakat jangan hanya melihat angka bertambahnya kematian dan angka positif kasus, tetapi lihat pula angka kesembuhan.
Terkait proses penyembuhan, diakui Edward, isolasi kerap membuat pasien stres. Namun hasil kajian menyebut, mendengar suara orang yang dikasihi bisa memberikan dampak positif di tengah pandemi. Lewat bantuan teknologi bincang virtual bisa dilakukan. Dari suara bisa membangkitkan hormon positif.
"Pasien di Tiongkok diperdengarkan suara kerabatnya, ternyata memiliki pemulihan lebih baik," ucapnya.
Keluarga
Terkait dengan proses penyembuhan, bankir yang juga pengusaha Indonesia Arwin Rasyid, penyintas Covid-19, mengingatkan semangat dan dukungan keluarga adalah obat paling mujarab.
Ia bercerita, awalnya cukup terpukul saat divonis Covid-19. Ia mengaku terkena Covid-19 karena kelalaiannya saat berlibur ke Bali. Waktu berkumpul ia tidak menerapkan protokol kesehatan. Akhirnya ia mengalami gejala demam kemudian memeriksa diri dan dinyatakan positif Covid-19.
"Ini pelajaran mahal bagi saya, kita merasa aman padahal tidak," ucapnya.
Namun dalam perawatan di rumah sakit, ia bersyukur disemangati keluarga. Sempat depresi di hari pertama dan baru bangkit serta optimis pada hari keempat.
Hal itu pula yang dibangun penyintas Covid-19 Singgih Wiryono. Jurnalis media online ini melakukan isolasi mandiri di rumah dan mendapat dukungan sang istri.
Hidup merantau membuat dirinya hanya dibantu sang istri saat menjalani isolasi mandiri. Namun sang istri ketat menjalankan protokol kesehatan.
"Istri menjaga diri, 24 jam memakai masker dan memprioritaskan sanitasi. Terbukti istri saya tidak tertular," ucapnya.
Ia pun bersyukur, dukungan keluarga dari jauh, bantuan tetangga, hingga puskesmas saat ia isolasi mandiri sangatlah membantu proses kesembuhannya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




