Tolak Pakai Pengawal dan Voorijder, Jokowi Tidak Takut Macet

Jumat, 21 September 2012 | 19:16 WIB
DS
B
Penulis: Dwi Setyo | Editor: B1
Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo  saat memberikan keterangan kapada wartawan dan menemui pendukungnya di posko tim sukses pasangan Jokowi-Ahoki Jl. Borobudur No.22, Menteng, Jakarta. FOTO: AFP PHOTO / ADEK BERRY
Calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo saat memberikan keterangan kapada wartawan dan menemui pendukungnya di posko tim sukses pasangan Jokowi-Ahoki Jl. Borobudur No.22, Menteng, Jakarta. FOTO: AFP PHOTO / ADEK BERRY
"Seratus hari pertama akan menjadi momentum apakah pasangan Jokowi-Ahok bisa dipercaya atau tidak," katanya tegas.

Gubernur DKI terpilih (berdasarkan perhitungan quickcount) Joko Widodo (Jokowi) menegaskan niatnya untuk tidak mau didampingi pengawal atau dipandu voorijder.

"Saya akan tetap konsisten, hidup tetap tak berubah, seperti sekarang. Kalau dulu kemana-mana naik kijang, nanti juga akan tetap naik kijang. Kalau sekarang kemana-mana tidak pakai voorijder, tidak pakai pengawal, nanti juga tidak akan pakai," kata Jokowi dalam pengambilan rekaman (taping) untuk acara The Headlines, yang akan disiarkan Beritasatu TV, Jumat (21/09), pukul 20.00 WIB malam ini.

Bagaimana jika kena macet? "Kena macet tidak apa-apa," katanya santai, "Menjadi pemimpin harus merasakan apa yang dirasakan rakyat. Saya sudah tujuh tahun tidak pakai voorijder dan pengawal -- ternyata tidak apa-apa."

Meskipun tak memakai voorijder dan pengawal, Jokowi tetap berusaha tepat waktu. "Saya akan berangkat lebih awal, di Jakarta kita harus lebih prepare."

Selain niat untuk tetap hidup seperti orang kebanyakan, Jokowi bertekad untuk membangun Jakarta tanpa kekerasan. Seperti yang ia janjikan selama kampanye, ia akan melolosi pentungan dan tameng dari tangan pasukan Satuan Polisi Pamongpraja (Satpol PP).

"Pendekatan kekerasan akan kita ganti dengan pendekatan kelompok, kolektif, dan individu," katanya. Di Jakarta sekalipun, Jokowi yakin, pendekatan kemanusiaan seperti ini akan lebih berhasil ketimbang pendekatan kekerasan.

Untuk menjaga kepercayaan publik, Jokowi bertekad untuk bekerja keras dengan kecepatan tinggi, siang dan malam. "Seratus hari pertama akan menjadi momentum apakah pasangan Jokowi-Ahok bisa dipercaya atau tidak," katanya tegas.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon