Politikus Golkar Mendapat Tekanan Dukung Jokowi-Basuki
Sabtu, 22 September 2012 | 13:17 WIB
Kemenangan Jokowi-Basuki ini harus menjadi pelajaran bagi partai
Ketua Badan Penelitian dan Penembangan (Balitbang) partai Golkar, Indra J.Piliang mengatakan, sejak usai putaran pertama pilkada DKI Jakarta, dia sudah memperkirakan bahwa pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama atau Jokowi-Ahok yang bakal menang pada putaran kedua.
Menurutnya, untuk pilkada Jakarta berbeda dengan pilkada di daerah lain, yang relatif gampang dilunakkan partai politik.
Indra kemudian mengaku mendapat tekanan atas pernyataan tersebut, namun dia tak mau mencabutnya.
"Ketika putaran pertama Jokowi-Basuki menang saya sudah bilang saya mendukung Jokowi-Basuki, saya termasuk ditekan untuk mencabut pernyataan saya tapi saya enggak lakukan," kata Indra J.Piliang dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (22/9).
Indra kemudian mengaku bertolak ke Kalimantan untuk urusan pekerjaan dan partainya, dibandingkan harus di Jakarta dan mencabut pernyataan yang membesarkan kubu Jokowi-Basuki, yang notabene tidak didukung partai Golkar dalam bursa pemilihan calon gubernur Jakarta.
Dia menambahkan, kemenangan Jokowi-Basuki ini harus menjadi pelajaran bagi partai agar serius dalam pilkada.
Selain itu hal ini kata dia menjadi pelajaran, agar gubernur tidak memperlihatkan dirinya diintervensi oleh partai politik.
Hal ini sayangnya yang menurut Indra terjadi pada Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli atau Foke-Nara.
Sebagai calon petahana, Foke dianggap cenderung mengakomodir kepentingan partai selama ini, bahkan terlihat ketakutan hingga berusaha merangkul semua partai koalisi pada pilkada.
Indra menambahkan, dia pernah mengingatkan pada partainya agar tidak berpikir ulang mendukung Foke.
Pasalnya baik Foke maupun Nara, keduanya kader resmi Demokrat.
Padahal dalam titik-titik strategis tertentu, partai Demokrat justru menjadi rival berat partai Golkar. Namun kata dia, tidak didengarkan oleh partainya.
"Kesalahan pak Fauzi Bowo juga adalah memasukkan kepentingan partai politik yang selama ini gubernur DKI ambil jarak dengan parpol," kata dia.
Partai Golkar sendiri merupakan salah satu partai yang merapat mendukung Foke-Nara, pada pilkada putaran kedua setelah calon gubernunya Alex Noerdin-Nono Sampono, kandas pada putaran pertama, yang bahkan diungguli oleh pasangan calon independen.
Basuki sebelumnya anggota Dewan dari fraksi Golkar, kemudian pindah ke partai Gerindra untuk mendapat dukungan maju, ke pilkada DKI 11 Juli dan 20 September lalu.
Ketua Badan Penelitian dan Penembangan (Balitbang) partai Golkar, Indra J.Piliang mengatakan, sejak usai putaran pertama pilkada DKI Jakarta, dia sudah memperkirakan bahwa pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama atau Jokowi-Ahok yang bakal menang pada putaran kedua.
Menurutnya, untuk pilkada Jakarta berbeda dengan pilkada di daerah lain, yang relatif gampang dilunakkan partai politik.
Indra kemudian mengaku mendapat tekanan atas pernyataan tersebut, namun dia tak mau mencabutnya.
"Ketika putaran pertama Jokowi-Basuki menang saya sudah bilang saya mendukung Jokowi-Basuki, saya termasuk ditekan untuk mencabut pernyataan saya tapi saya enggak lakukan," kata Indra J.Piliang dalam diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (22/9).
Indra kemudian mengaku bertolak ke Kalimantan untuk urusan pekerjaan dan partainya, dibandingkan harus di Jakarta dan mencabut pernyataan yang membesarkan kubu Jokowi-Basuki, yang notabene tidak didukung partai Golkar dalam bursa pemilihan calon gubernur Jakarta.
Dia menambahkan, kemenangan Jokowi-Basuki ini harus menjadi pelajaran bagi partai agar serius dalam pilkada.
Selain itu hal ini kata dia menjadi pelajaran, agar gubernur tidak memperlihatkan dirinya diintervensi oleh partai politik.
Hal ini sayangnya yang menurut Indra terjadi pada Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli atau Foke-Nara.
Sebagai calon petahana, Foke dianggap cenderung mengakomodir kepentingan partai selama ini, bahkan terlihat ketakutan hingga berusaha merangkul semua partai koalisi pada pilkada.
Indra menambahkan, dia pernah mengingatkan pada partainya agar tidak berpikir ulang mendukung Foke.
Pasalnya baik Foke maupun Nara, keduanya kader resmi Demokrat.
Padahal dalam titik-titik strategis tertentu, partai Demokrat justru menjadi rival berat partai Golkar. Namun kata dia, tidak didengarkan oleh partainya.
"Kesalahan pak Fauzi Bowo juga adalah memasukkan kepentingan partai politik yang selama ini gubernur DKI ambil jarak dengan parpol," kata dia.
Partai Golkar sendiri merupakan salah satu partai yang merapat mendukung Foke-Nara, pada pilkada putaran kedua setelah calon gubernunya Alex Noerdin-Nono Sampono, kandas pada putaran pertama, yang bahkan diungguli oleh pasangan calon independen.
Basuki sebelumnya anggota Dewan dari fraksi Golkar, kemudian pindah ke partai Gerindra untuk mendapat dukungan maju, ke pilkada DKI 11 Juli dan 20 September lalu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




