Hampir Seluruh Bahan Baku Obat di Indonesia Diimpor

Rabu, 26 September 2012 | 14:13 WIB
AF
BA
Penulis: Antara/ Nadia Felicia | Editor: B1
Hanya logistik yang tidak berkaitan dengan bahan obat yang diproduksi di dalam negeri, seperti kemasan obat dan lainnya.

Nyaris 99 persen bahan baku obat-obat untuk produksi farmasi di Indonesia diimpor dari luar negeri, terutama dari China dan Eropa.

Hal tersebut diungkap General Affairs Manager PT Dexa Medica, Kahar Gentar, hari ini di Palembang. Menurut Kahar, ketergantungan bahan baku farmasi terhadap produksi luar negeri secara langsung menyebabkan harga obat-obatan dalam negeri menjadi mahal.

"Dari seluruh bahan baku yang akan kami produksi untuk menjadi obat di pabrik ini 99 persen didatangkan dari luar negeri, hanya sebagian kecil yang berasal dari dalam negeri," katanya.

Ia mengatakan, diperlukan industri hulu farmasi nasional untuk menyediakan bahan baku termasuk segala sesuatu yang berkaitan dengan produksi obat-obatan.

"Kalau bahan baku obat dengan kualitas yang setara dengan produk impor tersedia di dalam negeri, maka harga obat-obatan dapat ditekan," katanya.    

Sejauh ini, hanya logistik yang tidak berkaitan dengan bahan obat yang diproduksi di dalam negeri, seperti kemasan obat dan lainnya.

Tingginya harga obat-obatan di Indonesia sebenarnya bukan saja akibat bahan baku yang diimpor, tapi juga faktor produksi dan penggunaan merek obat yang masih memiliki masa paten.

Oleh sebab itu sejak 1990 pemerintah memperkenalkan program penggunaan obat generik berlogo (OGB) kepada masyarakat agar mereka dapat menjangkau harga obat-obatan dengan harga murah.

"Produksi OGB dilakukan dalam skala besar sehingga biaya produksi lebih efisien," katanya dalam kunjungan media ke pabrik PT Dexa Medica.

Murahnya harga obat generik berlogo karena kemasannya dibuat sederhana, namun kualitas obat sendiri dibuat dengan mengacu standar pembuatan obat yang ditetapkan BPOM.

Harga OGB tidak dapat dikecoh oleh pihak apotek, sebab pemerintah telah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) sehingga pembeli mengetahui harga tertinggi obat yang akan mereka beli.

Menurut dia, meski saat ini penggunaan OGB oleh masyarakat masih terbilang rendah, namun ke depan dengan diberlakukannya Sistem Jaminan Sosial Nasional pada 2014 mendatang, diyakini penggunaan OGB akan terdongkrak dengan maksimal, sebab peserta SJSN akan menggunakan OGB. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon