Bekas Pemain: Inter Milan Seperti Penjara
Sabtu, 6 Oktober 2012 | 07:06 WIB
"Penjara" itu bermula setelah beberapa pemain muda ketahuan mengisap ganja.
Bekas pemain Inter Milan, Martin Bengtsson, menceritakan bagaimana dia mencoba mengiris nadinya karena depresi.
Setelah dicoba Chelsea and Ajax, Bengtsson bergabung dengan Inter pada usia 17, dan menggambarkan masa-masa dirinya di akademi remaja disana bagai "dalam penjara."
"Saya harus melarikan diri dan pisau cukur menjadi jalan keluar saya. Saya memotong sekuat saya bisa. Saya harus keluar," katanya.
Klub Italia itu menolak untuk memberikan komentar.
"Saya sungguh-sungguh sakit. Saya mulai mendengar suara-suara, dan mulai kehilangan rasa ini malam atau siang. Yang saya ingat hanyalah saya berjalan di tengah kabut, dan saya tak bisa bertahan lagi," kata Bengtsson.
"Penjara" itu bermula setelah beberapa pemain muda ketahuan mengisap ganja.
"Mereka mempunyai masalah di kamp pelatihan dan kami dihukum karena beberapa pemain menggisap ganja di balkon. Semua pemain, bahkan yang tak tau menahu soal itu," kata pemain kelahiran Swedia itu.
"Untuk beberapa bulan, kami kehilangan kemerdekaan kami untuk keluar rumah dan berbelanja. Saya sangat tertekan karena merasa seperti dipenjara dan diputus hubungan dari luar," katanya.
Bengtsson menemukan musik sebagai penyelamatnya. Lalu membeli gitar dan mulai mencoba menulis lagu. Namun kegiatan ini malah mengarahkannya ke krisis baru.
"Suatu hari sewaktu saya balik dari membela tim nasional Swedia melawan Finlandia, wanita pembersih membuang semua kertas-kertas saya, seluruh lirik dan semuanya. Buat saya, itu adalah hal besar, sebab itu jiwa saya yang ada di lantai sana," kata Bengtsson.
Kejadian itu yang membuatnya memutuskan untuk mengambil-alih kembali hidupnya. Meskipun merasa bersyukur dirinya keluar dengan selamat, namun impian sepakbolanya tamat.
Saat ini, Bengtsson sedang membentuk grup punk rock bernama Waldemaar, juga sedang menggarap novel.
Dia mewanti-wanti pemain muda yang bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional untuk waspada.
"Ada yang sangat, sangat salah dalam cara memperlakukan pemain dan cara membentuk mental yang hanya melihat seberapa kuat kamu. Kamu akan menjadi batu dalam berbagai segi, dan akan susah bagimu untuk keluar ke dunia nyata dan memulai hidup baru sebab kamu mempunyai banyak kemarahan dalam dirimu," kata Bengtsson.
Bekas pemain Inter Milan, Martin Bengtsson, menceritakan bagaimana dia mencoba mengiris nadinya karena depresi.
Setelah dicoba Chelsea and Ajax, Bengtsson bergabung dengan Inter pada usia 17, dan menggambarkan masa-masa dirinya di akademi remaja disana bagai "dalam penjara."
"Saya harus melarikan diri dan pisau cukur menjadi jalan keluar saya. Saya memotong sekuat saya bisa. Saya harus keluar," katanya.
Klub Italia itu menolak untuk memberikan komentar.
"Saya sungguh-sungguh sakit. Saya mulai mendengar suara-suara, dan mulai kehilangan rasa ini malam atau siang. Yang saya ingat hanyalah saya berjalan di tengah kabut, dan saya tak bisa bertahan lagi," kata Bengtsson.
"Penjara" itu bermula setelah beberapa pemain muda ketahuan mengisap ganja.
"Mereka mempunyai masalah di kamp pelatihan dan kami dihukum karena beberapa pemain menggisap ganja di balkon. Semua pemain, bahkan yang tak tau menahu soal itu," kata pemain kelahiran Swedia itu.
"Untuk beberapa bulan, kami kehilangan kemerdekaan kami untuk keluar rumah dan berbelanja. Saya sangat tertekan karena merasa seperti dipenjara dan diputus hubungan dari luar," katanya.
Bengtsson menemukan musik sebagai penyelamatnya. Lalu membeli gitar dan mulai mencoba menulis lagu. Namun kegiatan ini malah mengarahkannya ke krisis baru.
"Suatu hari sewaktu saya balik dari membela tim nasional Swedia melawan Finlandia, wanita pembersih membuang semua kertas-kertas saya, seluruh lirik dan semuanya. Buat saya, itu adalah hal besar, sebab itu jiwa saya yang ada di lantai sana," kata Bengtsson.
Kejadian itu yang membuatnya memutuskan untuk mengambil-alih kembali hidupnya. Meskipun merasa bersyukur dirinya keluar dengan selamat, namun impian sepakbolanya tamat.
Saat ini, Bengtsson sedang membentuk grup punk rock bernama Waldemaar, juga sedang menggarap novel.
Dia mewanti-wanti pemain muda yang bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional untuk waspada.
"Ada yang sangat, sangat salah dalam cara memperlakukan pemain dan cara membentuk mental yang hanya melihat seberapa kuat kamu. Kamu akan menjadi batu dalam berbagai segi, dan akan susah bagimu untuk keluar ke dunia nyata dan memulai hidup baru sebab kamu mempunyai banyak kemarahan dalam dirimu," kata Bengtsson.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




