Bentrok Berdarah di Pinang Ranti Dipicu Hal Sepele
Senin, 12 November 2012 | 13:16 WIB
Usaha untuk mengatasi kemungkinan bentrok sejatinya sudah sering dilakukan.
Bentrok antar etnis di Jl Nirbaya, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makassar, menurut warga seringkali terjadi. Semua kejadian selalu dimulai saat sejumlah pemuda dari etnis tertentu sedang terpengaruh minuman keras.
"Tapi bentrok yang sekarang lebih parah," ujar salah seorang warga yang ditemui Beritasatu.com hari ini.
Masih menurut warga, bentrok terjadi antar etnis dipicu masalah-masalah kecil. Misalnya hanya karena nada bicara yang tinggi. "Di sini, ada beberapa etnis yang tinggal, dari Ambon, Flores, dan Batak. Mereka itu pendatang yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini," ujar warga.
"Biasanya yang sering ribut itu anak Ambon dan Flores, tapi berhasil dilerai warga dan tidak sampai separah ini. Tapi yang terjadi sekarang, penduduk asli bersama orang batak melawan Ambon," ujar warga tersebut polos.
Menurut warga, usaha untuk mengatasi kemungkinan bentrok sudah sering dilakukan, namun masih saja bentrok sering terjadi. "Mereka bandel-bandel sih. Udah diomongin sama warga, eh masih saja suka berantem," ujar salah seorang warga.
Di daerah kejadian, ada keluarga Ambon yang dikenal masyarakat. Keluarga pendatang tersebut, menurut warga sudah ada sekitar hampir 10 tahun. "Kami memanggilnya om Michael. Orangnya baik, tapi sodara-sodaranya yang datang dan tinggal suka buat ulah. Warga sebenarnya resah," ujar warga.
Saat kejadian, menurut warga, Om Michael yang cukup disegani di wilayah tersebut mencoba untuk melerai, namun ia pun tidak mampu mengatasinya. "Jadi dia ikutan dalam bentrok dan sekarang sudah dibawa ke kantor polisi, bersama keluarganya," ujar warga.
Menurut petugas polisi yang sedang berjaga, kasus tersebut sudah ditangani pihak Polres Jakarta Timur.
Bentrok antar etnis di Jl Nirbaya, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makassar, menurut warga seringkali terjadi. Semua kejadian selalu dimulai saat sejumlah pemuda dari etnis tertentu sedang terpengaruh minuman keras.
"Tapi bentrok yang sekarang lebih parah," ujar salah seorang warga yang ditemui Beritasatu.com hari ini.
Masih menurut warga, bentrok terjadi antar etnis dipicu masalah-masalah kecil. Misalnya hanya karena nada bicara yang tinggi. "Di sini, ada beberapa etnis yang tinggal, dari Ambon, Flores, dan Batak. Mereka itu pendatang yang sudah bertahun-tahun tinggal di sini," ujar warga.
"Biasanya yang sering ribut itu anak Ambon dan Flores, tapi berhasil dilerai warga dan tidak sampai separah ini. Tapi yang terjadi sekarang, penduduk asli bersama orang batak melawan Ambon," ujar warga tersebut polos.
Menurut warga, usaha untuk mengatasi kemungkinan bentrok sudah sering dilakukan, namun masih saja bentrok sering terjadi. "Mereka bandel-bandel sih. Udah diomongin sama warga, eh masih saja suka berantem," ujar salah seorang warga.
Di daerah kejadian, ada keluarga Ambon yang dikenal masyarakat. Keluarga pendatang tersebut, menurut warga sudah ada sekitar hampir 10 tahun. "Kami memanggilnya om Michael. Orangnya baik, tapi sodara-sodaranya yang datang dan tinggal suka buat ulah. Warga sebenarnya resah," ujar warga.
Saat kejadian, menurut warga, Om Michael yang cukup disegani di wilayah tersebut mencoba untuk melerai, namun ia pun tidak mampu mengatasinya. "Jadi dia ikutan dalam bentrok dan sekarang sudah dibawa ke kantor polisi, bersama keluarganya," ujar warga.
Menurut petugas polisi yang sedang berjaga, kasus tersebut sudah ditangani pihak Polres Jakarta Timur.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




