Kisah Sedih Para Manula Rayakan Natal di Panti Sosial (1)

Senin, 24 Desember 2012 | 15:10 WIB
YK
FB
Penulis: Yanuar Rahman/Teddy Kurniawan | Editor: FMB
Surati, manula yang hidup di Panti Sosial
Surati, manula yang hidup di Panti Sosial (Beritasatu.com/Yanuar Rahman)
"Saya juga sudah tidak punya uang. Kalau memang enggak punya ya, saya ikhlas."

Jika mampu untuk berteriak Melepaskan kegundahan hati, pasti Surati dan Sri Maryati akan melakukannya. Namun apa daya, dua perempuan tersebut sudah berusia paruh baya. Tubuhnya pun tak lagi sekokoh saat masih berusia muda.

Bahkan untuk berdiri dan berjalan saja, keduanya kadang mengalami kesulitan karena sudah termakan usia. Hanya raut wajah mereka yang masih menunjukkan asa untuk tetap ikhlas menjalani kehidupan di jalan Tuhan.

Kisah Surati dan Sri Maryati menjadi potret, masih ada orang-orang tidak beruntung yang harus melewatkan setiap Natal tanpa keluarga. Padahal, di usia senja, berkumpul dengan keluarga di setiap hari keagamaan, menjadi harapan yang tak bisa dinilai dengan harta.

Surati dan Sri Maryati, dua perempuan berusia senja juga menjadi gambaran, bagaimana kehidupan para manula merayakan Natal di dalam panti.

Keduanya memiliki beragam cerita, sehingga tidak dapat merayakan Natal bersama keluarga.

Tak memiliki anak
Nenek Surati yang berusia 68 tahun, hidup dengan kesendirian. Apalagi setelah ia memutuskan untuk menganut Katolik, sejak usianya 30 tahun.

"Saya pernah menikah dua kali tapi tidak memiliki anak," ujar Nenek Surati membuka obrolan bersama Beritasatu.com.

Dengan suami pertamanya, Nenek Surati hanya bertahan hingga lima tahun. Kondisi lebih buruk pun dialaminya saat pernikahan kedua.

"Hanya bertahan tiga tahun," ujarnya singkat. 

Hidup dengan kesendirian tentu bukanlah hal yang mudah. Anak yang didamba sebagai penerus garis keturunan, tak kunjung diberikan Tuhan. Namun ia berusaha untuk menerima keadaan tersebut. Nenek Surati kemudian bekerja sebagai buruh cuci.

"Waktu bos saya meninggal tiga tahun lalu, saya kemudian ke sini (Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 4)," tutur Nenek Surati dengan suara agak parau. 

Kedua orangtuanya sudah lama tiada, sehingga membuat Nenek Surati berusaha untuk tidak merepotkan saudara-saudaranya yang lain. Surati adalah anak pertama dari empat bersaudara. 

"Saya pokoknya enggak mau selain di sini (Panti). Kalau sakit enggak ada yang ngurusin. Kalau di sini ada yang ngurusin," tegasnya. 

Suasana kekeluargaan dan rasa senasib sepenanggungan, diakui Nenek Surati membuatnya betah berada di panti. Ia menyangsikan, keluarga lainnya mau menerima kondisinya saat ini.

"Saya juga sudah tidak punya uang. Kalau memang enggak punya ya, saya ikhlas," ujarnya sambil menatap nanar.

Tidak diterima keluarga
Nenek Surati baru memeluk Katolik sejak usianya 30 tahun. Hal tersebut melalui proses yang cukup panjang. Ia pun sempat terlibat konflik keluarga yang dahsyat lantaran, seluruh keluarganya memeluk keyakinan yang berbeda.

"Saya tertarik dengan Katolik karena baca injil, menarik. Saya juga pernah diajak piknik ke Wonosobo dan melihat banyak orang Kristen beribadah. Saya langsung suka," ujarnya membuka cerita bagaimana ia tertarik memeluk agama yang saat ini dipeluknya. 

Lantaran kuatnya tentangan keluarga, membuat Nenek Surati harus mengalah. Sebab, ia diwasiatkan sang ayah, jika ingin berpindah keyakinan, menunggu ayahnya tiada terlebih dahulu. Wasiat itu pun diikutinya. 

"Bapak saya orangnya keras. Begitu bapak meninggal baru saya dibaptis," terangnya.

"Menurut saya, semua agama itu sama saja, mengajarkan kebaikan. Tapi saya menemukan kedamaian di agama yang saya anut saat ini," imbuhnya.

15 tahun tak bertemu keluarga
Jika dihitung, Nenek Surati mengaku sudah 15 tahun ini ia tidak bertemu keluarga besarnya. 

"Sudah lama enggak bertemu keluarga. Kurang lebih 15 tahun enggak bertemu. Saya pasrah saja sama Yang Maha Kuasa. Saya lebih suka seperti ini karena merasa lebih bebas, saya punya pikiran sendiri," urainya.

Nenek Surati meninggalkan kampung halamannya sejak usia 19 tahun. Saat itu ia baru lulus SMA di Magelang.

"Saudara-saudara masih di Jawa dan saya enggak mau ganggu kehidupan mereka dan mereka juga enggak mau ganggu saya," tuturnya.

Kini, di usianya yang semakin renta, Nenek Surati berusaha banyak mendekati diri kepada Tuhan. 

"Saya sudah teguh enggak mau pindah agama lagi. Sekarang saya lebih rajin ke gereja," tuturnya.

(Baca kisah selanjutnya)

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon