BNN Imbau Pengusaha Bantu Pulihkan Korban Narkoba

Senin, 18 Februari 2013 | 19:32 WIB
B
AB
Penulis: BeritaSatu | Editor: AB
Kepala BNN Komjen (Pol) Anang Iskandar (berdiri, tengah) bergurau dengan Deputy of Law and Cooperation BNN, Bali Moniaga (duduk, kiri) dan Ny Anang Iskandar (duduk, kanan), disaksikan pendiri Artha Graha Peduli dan PT Adhiniaga Kreasi Nusa, pengelola Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Tomy Winata (berdiri, kanan), serta mantan Kepala BNN, Ahwil Lutan (kiri), saat menyaksikan keindahan danau alam di Taman Konservasi Alam, Tambling, Lampung Barat.
Kepala BNN Komjen (Pol) Anang Iskandar (berdiri, tengah) bergurau dengan Deputy of Law and Cooperation BNN, Bali Moniaga (duduk, kiri) dan Ny Anang Iskandar (duduk, kanan), disaksikan pendiri Artha Graha Peduli dan PT Adhiniaga Kreasi Nusa, pengelola Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Tomy Winata (berdiri, kanan), serta mantan Kepala BNN, Ahwil Lutan (kiri), saat menyaksikan keindahan danau alam di Taman Konservasi Alam, Tambling, Lampung Barat. (Suara Pembaruan/Primus Dorimulu)

Lampung Barat - Upaya rehabilitasi sekitar 4 juta penderita narkoba di Indonesia perlu keterlibatan pengusaha nasional. Saat ini, kapasitas lokasi Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk merehabilitasi para penderita narkoba hanya sekitar 2.000 orang.

"Kami mengimbau para orang kaya dengan total aset Rp 5 triliun ke atas untuk menyediakan tempat rehabilitasi para korban narkoba," kata Kepala BNN Komjen (Pol) Anang Iskandar saat meninjau Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), Lampung Barat, baru-baru ini.

Sudah tiga periode BNN menitipkan para korban narkoba menjalani pemulihan pasca-rehabilitasi di TWNC, masing-masing sekitar 30 orang selama tiga bulan hingga satu tahun. Kondisi tempat tinggal yang alami dan asri sangat membantu percepatan pemulihan kesehatan para pecandu narkoba.

Anang menuturkan, langkah itu berdasarkan pengalamannya tahun 2010 saat mengunjungi pusat pasca-rehabilitasi penderita narkoba di Sancta Vicana, Italia. Di lokasi yang dikelola oleh orang kaya Italia itu, para penderita ketergantungan obat terlarang itu diajari bercocok tanam, mengelola kebun anggur, beternak, mengelola restoran, dan sebagainya. Cara itu terbukti sangat efektif dalam mempercepat pemulihan fisik dan mental para penderita narkoba.

Pada Desember 2012, Direktur Eksekutif Badan Narkotika dan Kejahatan Internasional (United Nations on Drug and Crime/UNDC) Yuri Vedetov mengunjungi TWCN dan para korban narkoba yang menjalani latihan pasca-rehabilitasi di lokasi konservasi hutan ini.  

Yuri, kata Anang, menilai Kawasan Konservasi Hutan di Tambling sangat cocok untuk pemulihan kesehatan para pecandu narkoba yang sudah menyelesaikan program rehabilitasi.

Anang dan para petinggi BNN dijadwalkan menghadiri Sidang ke-56 UNDC di Wina, 10 Maret 2013. Pendiri Artha Graha Peduli dan PT Adhiniaga Kreasi Nusa, pengelola TWNC, Tomy Winata, juga diundang untuk menjelaskan kondisi Tambling pada sidang tahunan itu. UNDC menyarankan semua negara dengan korban narkotika dalam jumlah besar untuk menyediakan lokasi pemulihan pasca rehabilitasi yang alamiah dan asri seperti Tambling.

Keterlibatan para pengusaha kaya yang memiliki kepedulian terhadap masa depan anak bangsa sangat penting untuk memberantas narkoba. Sebab, anggaran BNN sangat terbatas. Kapasitas pusat rehabilitasi di Lido, Sukabumi, dan Kepulauan Seribu hanya sekitar 2.000 orang. Sedangkan, penderita mencapai 4 juta orang.

Setelah menjalani proses rehabilitasi di Lido, demikian Anang, para penderita membutuhkan perawatan pasca-rehabilitasi agar mereka benar-benar bersih dari pengaruh narkoba. Kawasan konservasi hutan yang jauh dari keramaian seperti TWNC sangat ideal bagi penderita.

Indonesia kini memiliki banyak kawasan hutan konservasi yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan pulau-pulau lainnya. Jika ada partisipasi dari para pengusaha untuk mengelola hutan konservasi, perawatan penderita narkoba pasca-rehabilitasi tidak masalah.

Tomy mengatakan, pihaknya bersedia menyerahkan lahan kepada setiap pengusaha yang peduli terhadap pemberantasan narkoba dan peduli lingkungan masing-masing 50 hektare (ha). Berbagai survei menunjukkan, proses pemulihan para penderita narkoba pasca-rehabilitasi berjalan sangat cepat jika mereka berada di kawasan yang alamiah dan asri seperti di Tambling.

Kegiatan mengelola tanah, bertani, dan beternak mempercepat proses pemulihan. Itu sebabnya, BNN bekerja sama dengan Artha Graha Peduli memulihkan kesehatan para korban narkoba pasca-rehabilitasi di TWNC. "Semakin banyak pengusaha yang terlibat, semakin baik bagi percepatan pemberantasan narkoba," ujar Anang Iskandar.

Peduli Lingkungan
Kawasan hutan yang dikelola TWNC saat ini seluas 45.000 ha. Jika Ditambah 15.000 ha kawasan pantai, total wilayah konservasi mencapai 60.000 ha. Tomy menjelaskan, pihaknya tergerak untuk mengelola kawasan ini semata-mata karena kepedulian terhadap lingkungan.

"Indonesia dan dunia membutuhkan udara segar dan oksigen untuk mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem," ujar Tomy.

Setiap bulan, pihaknya menghabiskan sedikitnya Rp 1,5 miliar untuk menutup semua biaya pengelolaan lokasi konservasi. Terhitung sejak awal beroperasi hingga saat ini, total biaya yang sudah dikeluarkan sekitar US$ 25 juta.

Saat ini, kawasan konservasi hutan itu juga menjadi kawasan penyelamatan hewan langka, antara lain harimau Sumatera. Ada delapan harimau yang masih dipelihara di kandang dan sedikitnya 20 ekor yang hidup di alam.
Sampai saat ini, makanan harimau masih berlimpah. Rusa, kerbau, dan babi hutan, masing-masing berjumlah ratusan ekor

Hutan yang lebat terbukti mengundang banyak satwa liar. Burung yang menghuni kawasan Tambling, misalnya, sudah mencapai 332 jenis dan menjadi objek studi para ahli dan mahasiswa. Kegiatan konservasi di TWNC di pantai dan laut meningkatkan jumlah biota laut seperti penyu dan lobster. Terumbu karang yang mati kembali tumbuh.  

Dilengkapi bandara dan pelabuhan yang bagus, TWNC sangat ideal bagi tujuan wisata alam. Untuk mendapatkan hutan yang lebat, melihat aneka binatang dan satwa liar, serta menghirup udara bersih, warga Jakarta tak perlu jauh-jauh ke Kalimantan atau Papua, apalagi ke luar negeri. Hanya dengan penerbangan satu setengah jam pesawat carter berpenumpang 20 orang dari Bandara Halim Perdanakusuma, wisatawan bisa menikmati panorama dan keasrian Tambling.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon