Kasus Inses Marak, Waspadai Faktor Ekonomi dan Lingkungan
Kamis, 21 Februari 2013 | 17:55 WIB
Jakarta - Polda Metro Jaya menyatakan, maraknya kasus inses atau hubungan seks dalam pertalian keluarga dipicu rendahnya tngkat ekonomi dan pendidikan.
Berdasarkan catatan Polda Metro Jaya, sejak tahun lalu hingga pertengahan Februari 2013, sudah terjadi 6 kasus inses.
"Iya faktor ekonomi sangat memengaruhi. Selain itu faktor lingkungan, interaksi sosial pada masyarakat permisif, kemudian status keluarga yang rumahnya kecil, tidurnya bareng-bareng, mandinya bareng, dan lainnya," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Kombes Polisi Rikwanto, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (21/2).
Dikatakan Rikwanto, kondisi ekonomi seperti itu membuat pelaku dan korban jadi selalu berdekatan. Kemudian, saling ketergantungan satu sama lain. "Ditambah, latar belakang pendidikan kurang dan spiritualnya juga rendah," tambahnya.
Selain faktor ekonomi dan pendidikan, Rikwanto menambahkan, faktor kejiwaan juga turut memengaruhi. "Ya memang banyak kecendrungan itu terjadi. Karena keluarganya sibuk, ibunya sibuk cari kerja, bapaknya bingung ga kerja, dan banyak di rumah mengurusi anak perempuannya. Mungkin dari waktu ke waktu tumbuh bersama, kejiwaannya terpengaruhi dan akhirnya ada niat-niat yang tidak sepatutnya," jelasnya.
Rikwanto mencontohkan, kasus bocah berinisial RI, di Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Menurut dia, semua keluarganya sibuk, kondisi lingkungannya permisif, sehingga terjadi peristiwa itu.
"Tumbuh besar bersama. Kemudian karena memang ibu sibuk di luar, sang ayah merasa yang berikan uang jajan, uang sekolah dan lain-lain. Jadi, si anak patuh pada orang tuanya," jelasnya.
Rikwanto menuturkan, mayoritas pelaku inses juga termotivasi film porno. Ironisnya, saat ini untuk mengakses pornografi sangat mudah dan bisa diakses dari mana saja.
"Bisa dari telepon genggam, karena internet bebas. Kebanyakan sekarang pakai internet. Tidak semua orang miskin itu, orang susah. Rokoknya saja sehari bisa dua bungkus. Mereka dibilang orang susah, tapi pulsa itu wajib," terangnya.
Rikwanto menyebutkan, selama tahun 2012 sampai Februari 2013, telah terjadi enam kasus inses.
"Ada enam kejadian pelecehan seksual terhadap keluarga sendiri. Pelakunya sang ayah, akhir-akhir ini mulai kelihatan tumbuh dan angkanya bertambah. Memang kuantitas sedikit, namun secara kualitas mempengaruhi pemikiran masyarakat, sehingga cukup menjadi perhatian," sebutnya.
Rikwanto memaparkan, semua kasus yang terjadi sudah dalam proses kepolisian.
"Untuk kasus-kasus yang ada, pada dasarnya semua masih di proses. Satu kasus sudah P21 dan empat kasus masih dalam proses," kata dia.
Terakhir, kasus di Jakarta Timur yang melibatkan Deden Priyatna (43), bapak yang menyetubuhi anaknya sampai 60 kali sejak 2008, di Ciracas, Jakarta Timur sudah selesai diperiksa/ "Tinggal pemberkasan saja," tandasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




