Pengembangan Kopi Ijen Raung dan Kopi Argopuro di Kabupaten Bondowoso
Selasa, 24 Oktober 2023 | 10:45 WIB
Bondowoso, Beritasatu.com - Kabupaten Bondowoso merupakan salah satu sentra penanaman kopi di Jawa Timur yang menghasilkan kopi jenis Ijen Raung dan Agropuro dengan cita rasa khas yang dikenal secara internasional. Setelah mengembangkan Kopi Ijen Raung, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mulai memberi prioritas mengembangkan Kopi Argopuro. Kedua jenis kopi ini telah mendapat sertifikasi Indikasi Geografis (IG) - yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia - sehingga menambah nilai kekhasan kopi Bondowoso.
Cara tradisional yang digunakan masyarakat setempat untuk memproduksi biji kopi merupakan salah satu faktor utama yang membuat kopi Arabika Jawa Ijen-Raung begitu istimewa. Daerah produksi kopi Arabica Jawa Ijen-Raung sendiri terletak di dataran tinggi Ijen-Raung yang terdiri dari Gunung Ijen dan Gunung Raung di Kecamatan Sempol, Sumberwringin, Botolinggo, Arjasa dan Cermee di Kabupaten Situbondo Provinsi Jawa Timur.
Kopi Arabica Jawa Ijen-Raung berasal dari perkebunan yang tumbuh di dataran tinggi Ijen-Raung pada ketinggian 900 m dpl. Tanaman kopi arabika dari dataran tinggi ijen-raung berasal dari berbagai jenis kopi pilihan. Kopi yang ditanam di bawah naungan ini ditanam dalam kombinasi dengan tanaman lain yang dipelihara secara organik. Ceri kopi yang matang dipetik dengan tangan dan dipilih dengan cermat dengan proporsi setidaknya 95 persen ceri merah. Buah kopi ini kemudian diproses dengan cara fermentasi basah selama 12 hingga 36 jam, dan dijemur. Kopi Arabika Jawa Ijen-Raung dijual dalam bentuk kopi hijau kering, kopi sangrai, dan kopi bubuk.
Sementara itu, Sifat-Sifat Khas Kopi Arabika Hyang Argopuro dihasilkan dari tanaman kopi jenis arabika yang ditanam di dataran tinggi Hyang Argopuro dengan ketinggian di atas 900 meter dpl. Kawasan kopi arabika ini berada di Kecamatan Maesan, Curahdami, Pakem, dan Binakal yang dipilih sebagai lokasi penanaman kopi arabika di kawasan Hyang Argopuro. Kawasan ini memiliki curah hujan rerata 2.499 mm/tahun.
Tanaman kopi arabika di kawasan Hyang Argopuro ditanam di dua lokasi yang berbeda yaitu di bawah pohon penaung pinus milik perhutani dengan luas etimasi 168,7 hektar dan sebagian milik sendiri dengan penaungan dari tanaman buah-buahan.
Kopi gelondong merah dipetik secara manual dan dipilih dengan cara seksama dengan proporsi kopi gelondong merahnya minimal 95 %. Kopi gelondong merah tersebut selanjutnya diolah dengan metode olah basah dengan fermentasi selama 18-36 jam, serta dikeringkan secara alami dengan cara menjemur dibawah matahari. Kombinasi antara sifat-sifat khas kawasan ini dengan teknik budidaya dan pengolahan tersebut telah terbukti menghasilkan biji kopi berkualitas tinggi dengan citarasa unik.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




