ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Eropa Minta Dikirimi 250.000 Saset Kopi Pekalongan Tiap Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 23:29 WIB
MK
MK
Penulis: Martin Bagya Kertiyasa | Editor: MBK
Ilustrasi minum kopi.
Ilustrasi minum kopi. (Freepik/Tirachardz)

Semarang, Beritasatu.com – Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, mengoptimalkan pemberdayaan ekonomi kreatif pada sektor perkebunan kopi sebagai upaya memperluas pasar hingga ke Eropa dengan kebutuhan mencapai 250.000 saset per bulan.

Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Sukirman mengatakan, petani saat ini menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim ekstrem yang berpotensi menyebabkan gagal panen hingga 45%–50%.

"Selain faktor alam, keterbatasan infrastruktur pengolahan pascapanen seperti alat roasting dan grinder yang representatif menjadi kendala utama dalam meningkatkan nilai jual kopi," katanya dilansir dari Antara, Kamis (30/4/2026).

ADVERTISEMENT

Sebagai bentuk komitmen dalam pemberdayaan ekonomi kreatif, pemerintah daerah bekerja sama dengan Perwakilan Bank Indonesia Tegal dan Mercy Corps Indonesia membuka sekolah lapang iklim kopi.

Sinergi lintas sektoral ini dilakukan untuk mendukung arahan pemerintah pusat dalam mengembangkan ekonomi lokal yang berkelanjutan. Sukirman juga menyoroti pentingnya keterlibatan akademisi dari perguruan tinggi guna menyediakan data objektif sebagai dasar kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.

"Kami tidak ingin pembangunan hanya berdasarkan imajinasi, tetapi harus berlandaskan data. Melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia dan Mercy Corps, kami mendorong sekolah lapang dan pelatihan teknis bagi petani agar tidak hanya menjual biji mentah, tetapi mampu mengolahnya sendiri dengan standar internasional," ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Pekalongan Siti Masruroh mengatakan sekolah lapang ini diinisiasi akibat penurunan produktivitas kopi di Desa Sengare dan Desa Jolotigo, Kecamatan Talun.

Penurunan tersebut dipicu oleh dua faktor utama, yakni anomali cuaca yang mengganggu masa tanam dan panen, serta rendahnya teknik budi daya, seperti praktik “petik pelangi” atau memanen buah yang belum matang sempurna.

"Potensi pasar kopi sebenarnya terbuka lebar. Saat ini terdapat permintaan ekspor besar ke pasar Eropa, termasuk kebutuhan kopi olahan sebanyak 250.000 saset per bulan," kata Siti.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Jadi Favorit, Ini Daftar 10 Kopi Hit di Layanan Pesan-Antar Makanan

Jadi Favorit, Ini Daftar 10 Kopi Hit di Layanan Pesan-Antar Makanan

LIFESTYLE
Begini Cara Menperin Dongkrak Kualitas Kopi Indonesia

Begini Cara Menperin Dongkrak Kualitas Kopi Indonesia

EKONOMI
Ekspor Kopi Tembus Rp 25,4 Triliun Berkat Hilirisasi

Ekspor Kopi Tembus Rp 25,4 Triliun Berkat Hilirisasi

EKONOMI
Nikmatnya Ngopi Sambil Menghirup Udara Pegunungan di Mojokerto

Nikmatnya Ngopi Sambil Menghirup Udara Pegunungan di Mojokerto

JAWA TIMUR
Indonesia Jadi Raja Kedai Kopi Dunia, Ini Daftar Lengkapnya

Indonesia Jadi Raja Kedai Kopi Dunia, Ini Daftar Lengkapnya

LIFESTYLE
Subang Mendunia! 96 Ton Kopi Dikirim ke Aljazair

Subang Mendunia! 96 Ton Kopi Dikirim ke Aljazair

JAWA BARAT

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon