ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Konsep Kanalisasi Diharapkan Jadi Solusi Mengatasi Banjir Kalimantan Selatan

Minggu, 7 Maret 2021 | 19:04 WIB
CF
FB
Penulis: Chairul Fikri | Editor: FMB
Petugas mengevakusi warga korban banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel).
Petugas mengevakusi warga korban banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel). (BNPB)

Jakarta, Beritasatu.com - Banjir menjadi masalah serius yang harus segera diselesaikan, di mana curah hujan tinggi merupakan salah satu fenomena alam yang umum terjadi di dunia. Curah hujan merupakan suatu siklus yang umum terjadi di alam dengan kala atau periode ulang tertentu. Dengan adanya siklus ini, maka pada satu periode waktu akan terjadi probabilitas periode ulang hujan dengan intensitas tertentu. Oleh sebab itu,  perlu adanya sebuah kajian agar banjir yang melanda kawasan tersebut tidak terulang lagi di masa depan. Terlebih Kalimantan direncanakan akan dijadikan Ibu Kota Negara Indonesia di waktu mendatang.

"Anomali cuaca membuat curah hujan dengan intensitas tinggi di beberapa lokasi tertentu terjadi hujan ekstrem. Pencatatan data hujan oleh BMKG Kalimantan Selatan merekam curah hujan ekstrem tersebut, di antaranya rekaman data di Stasiun BMKG Bandara Syamsudin Noor menunjukkan curah hujan ditakar tanggal 10 Januari 2021 sebesar 125 mm, tanggal 11 Januari 2021 sebesar 30 mm, tanggal 12 Januari 2021 sebesar 35 mm, tanggal 13 Januari 2021 sebesar 51 mm, tanggal 14 Januari 2021 sebesar 249 mm dan tanggal 15 Januari 2021 sebesar 131 mm. Sehingga kondisi permukaan yang berkurang tutupan (vegetasi) nya akan mengakibatkan air hujan dilarikan ke permukaan sebagian besarnya," ungkap Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto dalam keterangan persnya belum lama ini.

Meskipun banjir, persoalan klasik di banyak daerah, tetapi intensitas dan luasan banjir dipicu curah hujan ekstrem pada zaman iklim modern ini menunjukkan tren peningkatan, dan terdapat indikasi atau kecenderungan bahwa bencana hidrometeorologi seperti ini akan semakin sering dan semakin dahsyat seiring perubahan iklim yang terjadi. Oleh karenanya dalam memitigasi dampak bencana hidrometeorologi seperti di Kalimantan Selatan, maka pendekatan penanggulangan bencana harus berbasis data.

"Misalnya infrastruktur pengendali banjir harus dikaji ulang desain kekuatannya untuk bisa menghadapi kejadian ekstrem yang dulunya memiliki periode ulang ratusan tahun namun kini bisa hadir dalam jangka waktu yang pendek dengan peluang kejadian yang besar,"lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Sedangkan berdasarkan penuturan Dr. Pulung Arya Pranantya, S.T., M.T., Balai Litbang Bangunan Hidraulik dan Geoteknik Keairan, Kempupera, adanya perubahan pola hujan saat ini akan lebih sulit memprediksi kejadian hujan di suatu lokasi, meskipun tempat tersebut sudah dilengkapi dengan pos pengamatan hujan atau pos klimatologi yang lengkap. Permasalahan lain timbul dengan adanya perubahan tata guna lahan, seperti di daerah yang memiliki kemiringan lereng yang cukup terjal, akan berpengaruh terhadap debit limpasan atau biasa disebut runoff.

"Banjir luapan sungai sangat umum terjadi sebagai fenomena alam yang kemudian menjadi bencana apabila pada daerah bantaran sungai tersebut dibangun perumahan. Kemiringan lereng yang landai menyebabkan kecepatan aliran yang lambat namun dengan debit air tinggi, maka terjadilah luapan sungai di kawasan dataran banjir atau flood plain tersebut. Seperti sudah dijelaskan, bahwa perubahan fungsi lahan harus dikompensasi dengan upaya rekayasa. Sebagai contoh, pada saat pemerintahan Belanda di Batavia, sudah di desain banjir kanal barat sebagai kompensasi perubahan kawasan puncak bogor dari hutan pinus menjadi kebun teh. Sehingga untuk mengatasi masalah itu, masyarakat Banjar sedikitnya mengenal tiga macam kanal secara hirarki berturut-turut Anjir (Antasan), Handil (Tatah) dan Saka. Ketiga kanal ini saling terhubung dan memiliki fungsi masing-masing, dan pada prinsipnya merupakan aliran sungai buatan untuk menampung air, selain kebutuhan pertanian dan transportasi warga. Jejak kanal ini banyak ditemukan di wilayah Banjarmasin dan Barito Kuala," tegasnya.

"Jadi untuk mengatasi banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan, perlu terobosan-terobosan terkait dengan konservasi tanah dan air, terkait dengan lanskap yang tidak mendukung. Serta pengembangan kebijakan konservasi tanah dan air, dan pengembangan sistem peringatan dini. Beberapa rekomendasi ini telah dijalankan dengan baik bersama Pemda," tandasnya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Banjir Rendam 657 Rumah di Kendari, 2.985 Warga Terdampak

Banjir Rendam 657 Rumah di Kendari, 2.985 Warga Terdampak

NUSANTARA
Tanggul Sungai Jebol, 2 Desa di Parigi Moutong Dilanda Banjir

Tanggul Sungai Jebol, 2 Desa di Parigi Moutong Dilanda Banjir

NUSANTARA
Hari Kedua, Banjir Masih Rendam Permukiman Warga di Cipondoh Tangerang

Hari Kedua, Banjir Masih Rendam Permukiman Warga di Cipondoh Tangerang

BANTEN
Ketinggian Air Kali Cipamingkis Melebihi Batas Normal, Bogor Bersiaga

Ketinggian Air Kali Cipamingkis Melebihi Batas Normal, Bogor Bersiaga

JAWA BARAT
Jalan Ceger Raya Tangsel Tenggelam, Warga Terjebak Banjir

Jalan Ceger Raya Tangsel Tenggelam, Warga Terjebak Banjir

BANTEN
Sungai Meluap Seusai Hujan Deras, Rumah Warga Morowali Utara Terendam

Sungai Meluap Seusai Hujan Deras, Rumah Warga Morowali Utara Terendam

NUSANTARA

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon