Nuning Kertopati: Pernyataan Saya Ditulis Tidak Lengkap sehingga Menyulut Kesalahpahaman
Rabu, 8 September 2021 | 18:54 WIB
Jakarta, Beritasatu.com – Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati menegaskan ada media yang menulis pernyataannya tentang Islam dalam sebuah webinar secara tidak lengkap. Akibatnya, pernyataan itu menyulut kemarahan serta kesalahpahaman beberapa pihak.
"Sehubungan dengan simpang siurnya pemberitaan terkait penjelasan saya pada webinar yang diselenggarakan Medcom, maka saya merasa perlu meluruskannya. Ada media yang menulis tidak lengkap atas keterangan saya, sehingga menyulut kemarahan serta kesalahpahaman kepada saya," ujar pengamat yang akrab disapa Nuning Kertopati itu di Jakarta, Rabu (8/9/2021).
Nuning menegaskan, sebagai umat beragama Islam, tentu saja dirinya tidak mungkin mengatakan Islam sebagai embrio terorisme. Sebagai seorang muslim, dirinya secara sadar sangat menghormati Islam sebagai agama yang dianutnya.
"Ajaran Islam yang saya pelajari adalah agama yang cinta sesama bahkan juga dengan umat beragama lain. Islam rahmatan lilalamin. Jadi, saya tidak mungkin menuduh agama Islam sebagai embrio terorisme," ujar Nuning.
Dikatakan, dalam webinar itu dirinya menyampaikan apa adanya berbagai temuan terkait dengan embrio terorisme dan radikalisme, termasuk cikal bakalnya yang tumbuh berkembang diawali dari dunia pendidikan di Indonesia. "Hal ini yang saya utarakan pada webinar tersebut," katanya.
Tentu saja, kata Nuning, tidak semua lembaga pendidikan berbasis Islam itu bisa dikatakan sebagai embrio radikalisme atau bahkan Taliban. Masih ada yang mengikuti peraturan perundangan yang berlaku di negara ini. Apalagi, ujarnya, soal (radikalisme di dunia) pendidikan itu sudah ada banyak lembaga yang melakukan riset.
Nuning juga menegaskan, dirinya sangat menjunjung tinggi adat dan budaya Indonesia yang adhiluhung dan rasa cinta Tanah Air Indonesia. Sehingga, tentu saja apa yang disampaikannya tidak lain dan tidak bukan karena ingin mengajak serta bangsa ini memiliki patriotisme dalam bela negara.
"Terkait dengan bahasa Arab, tentu saya sangat respek dengan bahasa tersebut. Ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa, Red) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita, bahasa Indonesia. Dalam hal ini, mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya," kata dia.
Nuning juga mengatakan, dalam webinar itu dia sangat mengkhawatirkan terjadi glorifikasi atas kemenangan Taliban di Afghanistan oleh sel-sel tidur terorisme di Indonesia. "Terkait hal ini, tentu juga sudah sering dibahas oleh para ahli terorisme yang kita miliki, jadi bukan hanya saya," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




