Kita Mudah Melupakan Sejarah
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.
Senin, 14 November 2011 | 07:52 WIBUsia saya belum lagi remaja saat datang sebuah kabar gembira. Petang itu TVRI mengudara ketika saya baru saja pulang usai bermain sepakbola di pelataran Stadion Citarum, Semarang. Saya merasa bangga. Indonesia meraih medali di olimpiade untuk kali pertama.
Tahun itu 1988. Tiga atlet panahan Indonesia mempersembahkan sekeping medali perak dari Olimpiade Seoul bagi negeri yang dicintainya. Nurfitriyana Saiman Lantang, Lilis Handayani, dan Kusuma Wardhani adalah ketiga nama pahlawan olahraga kita. Bersama datangnya musim hujan, mereka kebanjiran pujian.
Setelah itu prestasi pepanah-pepanah kita melesat tak tepat. Bahkan ketika saya berkesempatan meliput Olimpiade Beijing 2008 lalu tak ada tanda-tanda prestasi gemilang panahan terulang setelah 20 tahun berselang.
Para pemanah kita yang berlaga di Olympic Green Archery Field hanya ditargetkan untuk memperbaiki ranking pribadi. Apa boleh buat. Hasilnya pun mini, mereka sudah harus berhenti di babak-babak eliminasi. Masih panjang lagi mimpi mengulang prestasi.
Panahan memang bukan olahraga populer di negeri ini. Nama-nama pemanah terkini seperti Rina Dewi Puspitasari dan Ika Yuli Rahmawati akan lebih cepat dilupakan orang ketimbang para Srikandi Seoul dulu. Bahkan, saya pun tidak yakin orang masih ingat tentang sejarah medali pertama kita di arena olimpiade.
"Menyedihkan banget, Pak. Atlet panahan terpaksa harus memakai alat-alat lama untuk persiapan SEA Games yang tinggal sebentar lagi," kata seorang reporter di sela-sela menulis hasil liputannya kepada saya dua minggu jelang SEA Games XXVI. "Apa pemerintah lupa bahwa panahan pernah punya nama di dunia?" lanjutnya ketus.
Saya menghela napas. Saya hanya bisa mengatakan kepadanya untuk menyelesaikan laporannya supaya kebenaran bisa dikabarkan. Biar mata mereka membelalak, biar telinga mereka pekak. Saya hanya berharap semoga berita hasil liputan reporter muda tadi bisa menjadi obat bagi para pengambil kebijakan olahraga yang dirundung penyakit lupa.
Sayangnya, apa yang kami (juga media-media lain) kabarkan tertiup angin kencang persiapan kemegahan upacara pembukaan di Stadion Jaka Baring Palembang. Target empat emas yang dicanangkan Pengurus Pusat Perpani harus digapai dengan minimnya perhatian. Sebab sehari sebelum SEA Games resmi dibuka, para atlet pelatnas panahan tak juga berlatih dengan alat yang semestinya.
Sekali lagi, panahan memang bukan olahraga masyarakat kebanyakan. Panahan juga telah lama tak menghasilkan prestasi gemilang. Tetapi tidak semestinya mereka diperlakukan demikian. Toh, mereka tetap mampu menembus persaingan di level olimpiade. Toh, mereka juga diam-diam telah berjuang di kejuaraan dunia beberapa bulan lalu. Mereka masih berlatih dan bertanding tanpa mengeluhkan letih dan berharap iming-iming.
Yah… seremoni megah melupakan sebuah prestasi menyejarah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




