Suatu Hari di Vilakazi Street
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.
Jumat, 25 November 2011 | 12:04 WIBSeorang pemain AC Milan yang saya harapkan bisa tampil gemilang saat menghadapi Barcelona pada 23 November lalu adalah Kevin Prince Boateng. Saya kagum dengan penampilannya saat memperkuat
Ghana di Piala Dunia Afrika Selatan tahun lalu. Penampilan memukau yang kemudian membawanya bermain di salah satu tim elit di dunia.
Ketidakberuntungan Ghana di Johannesburg membuat saya geleng-geleng kepala. Saya tidak percaya mengapa Dewi Keberuntungan menjauhi The Black Stars. Keberuntungan memilih untuk menghangatkan diri di balik selimut ketimbang merayakan kemenangan bagi Ghana. Awal Juli 2010 yang dingin membekukan sebuah ingin.
Kekalahan Ghana di perempat final Piala Dunia memang tak layak diterima. Mereka bermain lebih baik ketimbang Uruguay. Adu tendangan penalti memaksa lari mereka terhenti. Hal yang diakui sendiri oleh pelatih Uruguay, Oscar Tabarez seperti yang saya baca di The Star, surat kabar harian Johannesburg sehari setelah pertandingan (3/7),
"People who believe in destiny might explain it otherwise. But I don't have an explanation for what happened today. It really was a hard match, we didn’t play well but we survived very difficult circumstances. We conceded a goal at the end of the first half and we had a penalty against us in the last second. Maybe we didn't play that well but we had the guts to do it."
Begitulah sepak bola. Tim yang bermain lebih baik tidak melulu meninggalkan lapangan bersama kemenangan. Tetapi paling tidak, Ghana mampu mengulangi sejarah Kamerun, negara Afrika yang mampu mencicipi babak perempat final piala dunia.
Tetapi jangan terlalu terburu-buru memaknai kegagalan sebagai larutan kesedihan. Pencapaian Ghana adalah pencapaian Afrika. Ketidakberuntungan Ghana telah berubah makna menjadi kebahagiaan Afrika. Tiga hari kemudian, para pemain Ghana dielukan sebagai pahlawan Afrika.
Sore itu, Vilakazi Street yang terkenal dipenuhi ribuan orang yang sebagian besar tak saling kenal. Saya hanyalah satu dari ribuan itu. Salah satu yang menyaksikan dari jarak dekat laju perlahan bus pemain timnas Ghana membelah kerumunan yang memadati jalanan di kawasan Soweto. Orang-orang bernyanyi dalam bahasa Afrika yang tak saya mengerti. Mereka bergembira. Suara vuvuzela di mana-mana.
Ketika bus besar itu menghampiri tempat saya berdiri di depan Mandela House Museum saya ingin sekali melihat wajah Gyan Asamoah yang gagal mengeksekusi tendangan penalti. Bukan untuk menyaksikan wajahnya yang sedih, hanya ingin mengirimkan empati, pun salut yang tinggi.
Saya tak menemukan wajah Asamoah tetapi wajah lain yang tampak gagah dan sumringah. Kevin Prince Boateng. Pemain yang diturunkan di perempat final dengan nomor punggung 23 itu terlihat lebih pantas menjadi foto model. Dengan tato-tatonya ia begitu nyentrik. Kaca mata hitam tak
menutupi ketampanan wajah yang eksentrik.
Boateng yang saat itu masih tercatat sebagai pemain Portsmouth duduk di dekat kaca jendela. Senyumnya mengembang, palma tangannya melambai ke arah sekelompok perempuan yang sengaja datang untuknya. "Kevin… Kevin… I love you!" begitu teriak salah satu dari mereka sambil mengacungkan poster berisi pujian bagi pemain pujaan.
Ya, Boateng memang salah satu yang pantas dipuji-puja. Anggaplah itu sebungkus doa bagi pemain Ghana kelahiran Jerman agar ia selalu bersinar usai Piala Dunia 2010 selesai digelar. Doa para penggemar yang mungkin saja belum putus hingga saat ini. Meskipun sebuah golnya ke gawang Barcelona tak mengelakkan Milan dari kekalahan.
Saya teringat sebuah poster lain yang dibentangkan seorang pria Afrika berkacamata di Vilakazi Street dan sempat saya abadikan di dalam kamera. Terbaca: Who says black stars can’t shine?
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




