ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tradisi Ikonik Meriam Sundut Warnai Ramadan di Lebak

Sabtu, 21 Februari 2026 | 20:30 WIB
B
RA
Penulis: Budiman | Editor: RP
Dentuman meriam sundut dari Masjid Agung Al-A'raaf Rangkasbitung, sebagai penanda waktu berbuka puasa dan menjelang imsak sekaligus tradisi khas masyarakat Lebak, Banten.
Dentuman meriam sundut dari Masjid Agung Al-A'raaf Rangkasbitung, sebagai penanda waktu berbuka puasa dan menjelang imsak sekaligus tradisi khas masyarakat Lebak, Banten. (Beritasatu.com/Budiman)

Rangkasbitung, Beritasatu.com - Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan warna dan tradisi khas di berbagai daerah. Salah satu contohnya tradisi meriam sundut di Kabupaten Lebak, Banten. Tradisi ini menjadi yang paling ditunggu warga, dentuman meriam sundut dari Masjid Agung Al-A'raaf Rangkasbitung, sebagai penanda waktu berbuka puasa dan menjelang imsak.

Sejak puluhan tahun lalu, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Agung Al-A'raaf rutin menyalakan meriam sundut setiap Ramadan tiba. Tradisi ini bukan sekadar penanda waktu, tetapi telah menjadi ikon bagi warga Rangkasbitung dan sekitarnya.

Meriam sundut terbuat dari pipa besi besar berdiameter sekitar 40 sentimeter dengan panjang sekitar dua meter, dirakit menyerupai meriam. Suaranya menggelegar dan konon terdengar hingga belasan kilometer.

ADVERTISEMENT

Pantauan Beritasatu.com, Sabtu (21/2/2026) sore, terlihat sejumlah petugas DKM mulai mempersiapkan meriam dengan memasukkan karbit ke dalam tabung. Sementara petugas lain bersiaga menunggu aba-aba menjelang azan magrib. Begitu azan berkumandang, api disulut ke bagian pemicu, seketika dentuman keras memecah langit senja Ramadan, disambut sorak meriah dan senyum jemaah yang telah menanti waktu berbuka puasa. 

“Ini sudah tradisi. Setiap Ramadan pasti kita keluarkan meriamnya untuk penanda waktu berbuka puasa dan imsak. Ini hanya sekali setahun dikeluarkan meriamnya, hari biasa enggak dinyalakan. Ada dua meriam di sini, ukurannya 2 meteran,” ujar Candra, salah satu petugas DKM Masjid Agung Al-A'raaf, Sabtu (21/2/2026). 

Di masjid ini terdapat dua unit meriam, salah satunya sudah ada sejak awal 1980-an, sementara satu lainnya merupakan meriam yang lebih baru. Candra menuturkan, untuk menghasilkan dentuman, meriam diisi campuran karbit dan air. Reaksi kedua bahan itu menghasilkan gas yang kemudian memicu ledakan suara saat disulut.

Menurut Candra, banyak warga dari luar Kota Rangkasbitung sengaja datang untuk menyaksikan langsung tradisi ini. Ia berharap tradisi meriam sundut tetap lestari dan tidak hilang tergerus zaman. 

“Mudah-mudahan tradisi ini terus ada, jangan sampai dihilangkan,” pungkasnya. 

Tradisi meriam sundut di Rangkasbitung menjadi bukti Ramadan di Indonesia bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kebersamaan dan pelestarian budaya lokal yang terus hidup di tengah masyarakat. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT