Harga Obat Selangit, Rakyat Menjerit
Senin, 22 Juli 2024 | 19:17 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Suasana sentra farmasi dan kesehatan di Pasar Pramuka pada Rabu (17/7/2024) dipadati pengunjung. Masyarakat yang ingin membeli obat dengan harga relatif lebih murah memang biasanya mengunjungi pasar yang terletak di kawasan Jakarta Timur itu.
Salah satunya ialah Adriana. Ia ingin membeli beberapa obat yang memang sulit ditemui di apotek sehari-hari. Meski bisa mendapatkan harga yang relatif lebih murah jika belanja di Pasar Pramuka, Adriana mengaku masih harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah untuk keperluan obat keluarganya.
“Ya kalau di apotek bisa lebih mahal lagi. Karena memang obat-obatan yang diperlukan kebanyakan obat impor, jarang ditemui juga di apotek umum,” kata Adriana kepada Beritasatu.com.
Ia sendiri mengeluhkan mahalnya harga obat di Indonesia. Padahal, kesehatan masyarakat sejatinya menjadi salah satu aspek yang paling diutamakan pemerintah. Ia juga mengkritisi ketergantungan pada bahan baku impor yang menjadi penyebab utama mahalnya harga obat-obatan.
“Sebaiknya produksi lokal ditingkatkan sebanyak mungkin, karena ini akan mengurangi biaya impor dan membuat harga lebih terjangkau,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Laode Erwin, pembeli obat lainnya di Pasar Pramuka. Ia berharap pemerintah dapat membenahi tata kelola pendistribusian obat dengan harga terjangkau.
“Perlu ditata kembali agar lebih efisien. Kenaikan harga obat tidak sebanding dengan negara seperti Malaysia dan Singapura, yang justru bisa lebih murah,” kata Laode.
Mahalnya harga obat ini memang seolah menjadi pil pahit bagi masyarakat Indonesia. Ketua Harian Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka, Yoyon, mengakui harga obat di Indonesia memang bisa lebih mahal ketimbang harga di negara tetangga, seperti Malaysia.
“Perbandingan harganya lebih mahal lima kali dari luar negeri. Barang-barang itu sendiri rata-rata adalah barang paten, seperti Clopidogrel dan Crestor. Di sini harganya bisa mencapai Rp 230.000 selembar, sementara di Malaysia hanya Rp 60.000 atau Rp 50.000,” katanya.
Menurut Yoyon, penyebab tingginya harga obat adalah Indonesia masih belum mampu memproduksi bahan baku obat secara mandiri, sehingga mayoritas bahan baku obat-obatan dipasok dari luar negeri. Selain itu, ada juga faktor permainan dari pihak ketiga yang mencari keuntungan.

“Mungkin karena pajaknya terlalu tinggi. Ada juga permainan dari pihak ketiga yang mencoba mencari keuntungan. Makanya kami mengimbau kepada pemerintah agar bahan baku obat-obatan diurus oleh pemerintah sehingga tidak ada permainan lagi dari pihak ketiga,” kata Yoyon.
Segera Dibereskan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menaruh perhatian khusus pada mahalnya harga obat di Indonesia. Jokowi pada awal Juli ini telah memanggil Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin untuk segera mencari solusi terkait mahalnya harga-harga obat dan alat kesehatan (alkes) di Indonesia.
“Beliau menginginkan agar harga alkes dan obat di Indonesia bisa sama dengan harga di negara-negara tetangga, mengingat saat ini harga alkes dan obat di sini cukup tinggi,” ujar Budi Gunadi Sadikin di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (2/7/2024).
Budi menjelaskan Presiden Jokowi juga menekankan pentingnya pengembangan industri alat kesehatan dan obat-obatan dalam negeri agar lebih tangguh, terutama jika menghadapi pandemi di masa depan. Kesehatan masyarakat sendiri menjadi salah satu fokus pemerintahan selama dua periode kepemimpinan Presiden Jokowi.
“Dalam rapat, kami membahas berbagai faktor yang menyebabkan tingginya harga obat dan alkes. Kami memberikan masukan bahwa ada inefisiensi dalam jalur perdagangan dan tata kelola yang perlu diperbaiki agar tidak ada peningkatan harga yang tidak perlu dalam pembelian alkes dan obat,” jelas Budi.
Pemerintah juga mempertimbangkan terkait pajak industri kesehatan. Pemerintah berupaya agar pajak bisa lebih efisien dan sederhana tanpa mengganggu pendapatan negara.
Lebih Mahal
Pakar Kesehatan yang juga guru besar pulmonologi dan kedokteran respirasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia, Tjandra Yoga Aditama menyoroti mahalnya harga obat di Indonesia jika dibandingkan dengan negara lain. Dibandingkan dengan negeri tetangga seperti Malaysia, harga obat di Tanah Air bisa mencapai 3-5 kali lipat, sedangkan dibandingkan India harga obat di dalam negeri jauh lebih mahal lagi, yakni bisa mencapai hingga enam kali lipat.
Tjandra mencontohkan, obat seperti Atorvastatin 20 miligram di Indonesia dijual seharga Rp 6.160 per tablet, sedangkan di India harganya hanya sekitar Rp 1.000. Sementara harga Clopidogrel 75 miligram di Indonesia dibanderol Rp 7.835 per tablet, sedangkan di India hanya Rp 1.540. Obat lainnya, Concord 2,5 miligram di Indonesia dijual seharga Rp 10.711 per tablet, sedangkan di India hanya Rp 1.560.
Tjandra menilai pemerintah harus melakukan intervensi guna menekan harga obat yang mahal di Indonesia. Tjandra mengatakan bahwa seluruh proses produksi dan distribusi obat, mulai dari pembuatan hingga sampai ke tangan konsumen, perlu diawasi.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




