ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

FSS Korsel Yakin Indonesia Lebih Tangguh Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Jumat, 12 Mei 2023 | 15:21 WIB
PA
BE
H
Governor FSS Korea (OJK Korea), Lee Bokhyun saat wawancara dengan B Universe, di Jakarta, Jumat, 12 Mei 2023.
Governor FSS Korea (OJK Korea), Lee Bokhyun saat wawancara dengan B Universe, di Jakarta, Jumat, 12 Mei 2023. (B Universe Photo/Mohammad Defrizal/Mohammad Defrizal)

Jakarta, Beritasatu.com - Pasar domestik yang tangguh menjadi salah satu keunggulan Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi global dan ketidakpastian di masa mendatang. Bahkan, Indonesia diyakini mampu menjaga inflasi dalam kisaran yang rendah, sehingga mampu tumbuh kuat di kawasan.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Financial Supervisory Service (FSS) Korea Selatan (Korsel) Lee Bokhyun dalam wawancara khusus dengan tim B Universe, di Jakarta, Jumat (12/5/2023). Menurut dia, Indonesia mampu melewat berbagai tantangan yang mengancam perekonomian di tahun ini dengan cukup baik.

"Jadi harapan kami dalam tahun ini, Indonesia akan mencapai inflasi di kisaran 3%. Dari perspektif ekonomi, saya percaya Indonesia akan mencapai pertumbuhan yang kuat di Asia Tenggara," beber Lee.

ADVERTISEMENT

Ketua OJK Korea Selatan itu menerangkan, sejatinya Indonesia dan Korsel memiliki kemiripan sekaligus perbedaan. Kondisi ekonomi Korsel sendiri banyak dipengaruhi faktor eksternal karena karakteristiknya yang lebih terbuka pada pasar keuangan global. Selain itu, Korsel juga tidak banyak memiliki bahan baku dan sumber daya.

"Namun untuk Indonesia, Indonesia memiliki pasar domestik yang kuat dan relatif besar serta memiliki bahan baku. Jadi saya rasa ini berpotensi untuk meredam dampak yang mungkin hadir ke depan," terang Lee.

Menurut Lee, pada akhirnya inflasi Indonesia juga akan terjaga stabil dibandingkan Korsel. Hal ini ditegaskan FSS Korsel setelah datang langsung ke Indonesia untuk bertemu dan mendengar langsung kebijakan yang digulirkan otoritas terkait, baik itu Bank Indonesia (BI) maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di sisi lain, Lee menerangkan, dunia sedang dihadapkan pada inflasi tinggi selambatnya mulai tahun 2023. Hal tersebut diikuti kebijakan moneter dari masing-masing negara. Dalam situasi ini, dampak ekonomi yang cukup dalam dirasakan beberapa negara.

"Namun karena banyak negara telah mengambil langkah yang tepat untuk menghadapi keadaan ini, fase inflasi telah stabil lebih cepat dari yang diharapkan, dan ketika sampai pada beberapa negara termasuk Kanada dan beberapa negara telah berhenti untuk meningkatkan (suku bunga)," imbuh Lee.

Namun Lee melihat masih terdapat beberapa masalah ekonomi potensial yang dapat memicu volatilitas. Salah satunya masalah kredit perumahan rakyat (KPR) yang belakangan ini dihadapi Korsel. Untuk menangani hal ini, FSS tengah bekerja keras menghasilkan kebijakan yang relevan.

Menurut Lee, risiko-risiko seperti ini perlu disikapi serius, mengingat volatilitas sektor keuangan diperkirakan bakal berlangsung lebih lama dari ekspektasi. Ada persoalan menyeluruh yang memaksa FSS melakukan restrukturisasi seluruh elemen dari rantai pasok.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon