Harga SUN Pekan Ini Diproyeksi Tertekan, Cek Penyebabnya
Selasa, 26 September 2023 | 08:04 WIB
Jakarta, Beritasatu.com- Harga surat utang negara (SUN) diproyeksi sedikit melemah melanjutkan pergerakan 2 pekan sebelumnya. Kenaikan imbal hasil (yield) 10 tahun SUN diperkirakan bergerak dalam kisaran 6,7%-6,8%. Faktor yang menekan harga SUN adalah kemungkinan bank sentral AS, the Fed masih akan menaikan suku bunga, meski The Federal Open Market Committee (FOMC) mengumumkan Fed Fund Rate saat ini dipertahankan.
"The Fed mempertahankan suku bunga, tetapi market 2 pekan tertekan (yield) melemah 0,7-0,8 poin. Setelah FOMC, market relatif bertahan. Untuk jangka pendek, yield masih bergerak 6,7%-6,8% atau tidak naik," ujar Head of Fixed Income at PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto kepada Investor Daily, Senin (25/9/2023).
Potensi kenaikan suku bunga the Fed masih akan menurunkan likuiditas di pasar SUN maupun obligasi secara umum, karena tidak ada katalis yang dapat mendukung penguatan. Hal ini ikut membuat investor menahan diri masuk ke pasar obligasi khususnya SUN, baik pemodal domestik maupun asing. Meski sentimen terkuat faktor global, Ramdhan mengakui bahwa keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga, mampu menjaga level imbal hasil SUN beserta harganya.
Kebijakan BI mempertahankan suku bunga pada 5,75% sejalan dengan ekspektasi konsensus. Pengumuman tersebut dinilai berhasil menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di kisaran Rp 15.380.
Economist Global Markets and Treasury Department, Asia Pacific Division at Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) Ryota Abe menyebut, negara-negara kembali mewaspadai percepatan pertumbuhan indeks harga konsumen (consumer price index/CPI). Di Indonesia, CPI naik 3,27% (yoy) pada Agustus 2023, sedikit meningkat dari 3,08% per Juli.
Ryota Abe menilai, stabilitas rupiah perlu dijaga sehubungan revisi ke atas prospek pertumbuhan the Fed baru-baru ini yang memberikan sinyal kenaikan suku bunga lagi. Hal ini dapat membuat rupiah kembali melemah terhadap dolar AS. Untungnya, inflasi dalam negeri dan kondisi perekonomian terkendali, sehingga BI saat ini tidak perlu mengubah kebijakannya.
"Sebelumnya, saya memperkirakan BI akan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember 2023. Namun kini saya yakin waktu kemungkinan penurunan suku bunga BI tertunda hingga kuartal pertama 2024, terutama karena ketidakstabilan pasar mata uang berkepanjangan," ungkap Ryota.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




