Menperin Resmikan Pemancangan Tiang Pertama PT Gunung Gahapi Nisco Indonesia
Jumat, 25 April 2014 | 23:45 WIB
Jakarta - Industri baja merupakan salah satu sektor andalan industri manufaktur karena memiliki nilai tambah dan terus memberikan kontribusi dari kemampuan produksi maupun ekspornya. Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian (Kemperin) terus melakukan berbagai langkah strategis dalam upaya menuju kemandirian industri baja.
Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian, Mohamad S Hidayat, dalam sambutannya pada acara Pemancangan Tiang Pertama Integrated Blast Furnace, Joint Venture antara PT Gunung Gahapi Sakti dengan Nanjing Iron and Steel Company di Medan, Jumat (25/4) sebagaimana dalam siaran pers yang diterima SP, Jumat malam.
Langkah strategis itu antara lain dengan mengedepankan kemampuan suplai, keanekaragaman produk, daya saing, standardisasi dan riset untuk pengembangan. Terlebih lagi saat ini perekonomian nasional sedang berkembang dan pasar dalam negeri cukup potensial.
Hidayat mengatakan, saat ini konsumsi baja perkapita mencapai 36 kg, maka sejalan dengan kondisi makro Indonesia yang terus berkembang, konsumsi baja perkapita masyarakat akan terus meningkat hingga 70 kg pada tahun 2025. Diharapkan, dengan jumlah penduduk sebesar 240 juta jiwa, kebutuhan baja domestik nasional akan semakin tinggi.
Ia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil dalam tiga tahun terakhir yang mencapai lebih dari lima persen dan kondisi makro Indonesia yang semakin membaik, antara lain dengan jumlah penduduk sebesar 240 juta jiwa pada tahun 2012, pertumbuhan kelas menengah terus meningkat dari 37,7 persen pada 2003 menjadi 56,5 persen pada 2010, serta PDB yang mencapai Rp 9.084,0 triliun pada 2013, sehingga menjadi pendorong meningkatnya nilai pasar konstruksi dari Rp 400 triliun pada 2013 menjadi sekitar Rp.500 triliun pada 2014, dimana porsi pekerjaan baja pada kegiatan konstuksi rata-rata sebesar 11,24 persen atau sekitar Rp.75 triliun pada tahun 2014.
Terkait kondisi tersebut, Hidayat memberikan apresiasi kepada PT. Gunung Gahapi dan Nanjing Iron Steel Company karena telah menanamkan investasi di industri baja dengan memproduksi wire rod dan steel bar, mengingat kebutuhan wire rod masih belum tercukupi oleh produksi dalam negeri, antara lain untuk bahan baku baja beton prategang, tali kawat baja, cable stayed, steel cord, nut and bolt, paku dan berbagai produk kawat lainnya.
Oleh karena itu, Hidayat mengharapkan dengan berdirinya perusahaan joint venture PT Gunung Gahapi Nisco Indonesia, akan dapat mensubstitusi importasi wire rod, sekaligus dapat memperbaiki mutu wire rod dalam negeri yang beberapa spesifikasinya belum dapat dipenuhi, antara lain kebutuhan wire rod high carbon dan alloy steel.
Sementara itu, produk steel bar yang selama ini masih diimpor, juga banyak dibutuhkan sebagai bahan baku untuk industri permesinan dan komponen otomotif. "Dengan diproduksinya steel bar oleh PT. Gunung Gahapi Nisco Indonesia diharapkan akan dapat menjamin pasokan bahan baku industri yang dimaksud. Secara ekonomi, kemampuan suplai dalam negeri akan meningkatkan penghematan devisa negara," tegas Menperin.
Selanjutnya, Hidayat berharap kepada pemerintah propinsi Sumatera Utara, pemerintah Kota Medan dapat memfasilitasi dan membantu kebutuhan PT. Gunung Gahapi Nisco Indonesia, agar investasi strategis yang telah ditanamkan di Sumatera Utara dapat terlaksana dengan baik, sehingga pada akhirnya investasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi kemajuan Sumatera Utara.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Politik-Hukum Terkini: Polemik Film hingga Judi Online




