ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Perbankan Siap Dukung Industri Substitusi Impor

Jumat, 29 Agustus 2014 | 10:19 WIB
NN
AB
Penulis: Novi Nuryanti | Editor: AB

Jakarta - Perbankan siap memberikan dukungan bagi industri substitusi impor demi mengurangi kebutuhan devisa. Namun, pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pihak lainnya diharapkan mendukung hal tersebut agar segera direalisasikan.

Industri substitusi impor diusulkan bisa mendapatkan dukungan perbankan, termasuk peluang mendapatkan insentif yang pada gilirannya bisa mengurangi pemakaian devisa dalam rangka menyehatkan neraca pembayaran. Dukungan perbankan ini merupakan bentuk kontribusi perbankan terhadap perekonomian nasional yang menghadapi persoalan utama berupa sempitnya ruang fiskal akibat subsidi BBM.

"Persoalan terbesar ekonomi Indonesia adalah ruang fiskal yang sangat sempit akibat subsidi BBM. Tapi kalau soal BBM. Ini di luar ranah perbankan. Karena itu untuk merealisasikan keinginan membantu meringankan tekanan atas devisa dan neraca pembayaran, bank-bank ining mendorong industri substitusi barang impor, utamanya industri yang bisa memproduksi barang di dalam negeri," ujar Ketua Umum Perhimpunan Bank-bank Swasta Nasional (Perbanas), Sigit Pramono terkait penyelenggaraan Ibex 2014 di Jakarta, Kamis (28/8).

Namun, untuk bisa merealisasikan dukungan itu, sejumlah hal harus disiapkan dan diawali dengan pertemuan para pemangku kepentingan untuk mendiskusikan masalah industri substitusi impor. Misalnya, menyangkut definisi industri substitusi impor dan industri apa saja yang masuk dalam kategori ini. Pasalnya, selama ini--baik dalam laporan Badan Pusat Statistik maupun laporan bank ke regulator--pengkategorian untuk industri subtitusi impor belum ada.

ADVERTISEMENT

"Pemerintah sendiri harus membuat cetak biru industri yang melibatkan berbagai elemen dengan durasi yang melampui masa pemerintahan agar cetak biru itu sifatnya berkelanjutan. Dengan cetak biru industri, industri yang masuk dalam cetak biru itu dianggap menarik oleh bank, termasuk dianggap mempunyai prospek dan risikonya kecil," kata Sigit.

Sementara dari sisi regulator, baik itu BI atau OJK sebaiknya juga memberikan dukungan melalui kebijakan. "Harus ada kompromi yang jelas, antara lain soal prospek industri hingga suku unga pinjaman juga bisa menjadi rendah," katanya.

Sebagai bentuk dukungan atas industri substitusi impor, Perbanas mengangkat tema industri substitusi impor dalam penyelenggaraan Ibex 2014. Tema yang diangkat adalah "Peran Aktif Perbankan dalam Mengembangkan Industri Substitusi Impor untuk Mewujudkan Ekonomi Berdikari".

Sebenarnya dalam pandangan Sigit, tak sedikit produk yang diproduksi di dalam negeri yang sebetulnya bisa disejajarkan dengan produk impor. Sigit menyebut barang-barang elektronik, antara lain misalnya kulkas dan lain-lain. "Tapi untuk mewujudkan dukungan ini perlu upaya bersama misalnya dalam hal pencegahan penyelundupan yang menyebabkan produk lokal menjadi kalah bersaing. Kan kasihan juga mereka," katanya.

Bahkan dalam penyelenggaraan itu, Ibex juga akan memberikan penghargaan bagi empat pengusaha di industri substitusi impor. Mereka menurut Sigit pantas mendapatkan penghargaan yang pantas. "Mereka sangat antusias dengan pemberian penghargaan ini," ujar Henry Koenaefi selaku ketua Steering Comittee Ibex 2014.

Selain perbankan, dalam Ibex, Perbanas juga akan mengundang sejumlah pelaku di industri subsitusi impor. Salah satunya adalah Erwin Aksa, direktur utama, Bosowa yang produsen semen itu dan sejumlah tokoh yang bergiat dalam ekonomi kreatif.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon