ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Stress Test BI: Indonesia Kuat Hadapi "Capital Outflow"

Selasa, 21 Oktober 2014 | 22:28 WIB
C
WP
Penulis: C02 | Editor: WBP
Ilustrasi persediaan uang
Ilustrasi persediaan uang (Antara/Yudhi Mahatma)

Jakarta – Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan hasil tes ketahanan (stress test) pasar keuangan Oktober 2014. Tes dilakukan dalam rangka menghadapi ancaman perbaikan kondisi ekonomi negara-negara maju yang bisa menyebabkan pembalikan modal asing.

Adapun hasilnya, seperti yang dikutip dari situs resmi BI, Selasa (21/10) menunjukan sistem keuangan Indonesia memiliki daya tahan kuat dalam menghadapi ancaman tersebut. Simulasi telah dilakukan dengan melihat dampak pelemahan nilai tukar dan harga aset terhadap ketahanan perbankan.

Selain itu, BI juga memperluas cakupan dalam asesmen ketahanan sistem keuangan tersebut, antara lain dengan melibatkan ketahanan sektor korporasi dan rumah tangga, sebagai sektor penerima pembiayaan dari perbankan.

Dari sisi permodalan bank, hasil tes menunjukan, perbankan Indonesia relatif tidak memiliki masalah terhadap pelemahan kurs. Bahkan, masih ada yang diuntungkan karena posisi valas yang dimiliki lebih besar dari kewajiban valas. Meski demikian, kondisi ketersediaan likuiditas pada bank-bank tersebut masih dalam level yang memadai.

ADVERTISEMENT

Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Lana Soelistianingrum menyetujui hasil tes ketahanan BI tersebut terkait dengan kondisi perbankan saat ini.

"Kesehatan perbankan dapat dilihat dari Net Foreign Liabilities (NFL) yang rendah, itu di bawah 5 persen secara rata-rata. Kemudian, jika dikatakan ketahanan terhadap rupiah, berarti tentang kualitas aset. Asetnya dipakai, seperti untuk beli Surat Utang Negara dan kasih kredit. Dengan asumsi, apabila ada pelemahan rupiah, bank tetap kuat, indikasinya yaitu kualitas aset yang bagus," tutur Lana kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (21/10).

Selain kualitas aset, Lana menambahkan, kualitas kredit juga bagus. Sementara itu, koreksi Surat Berharga Negara (SBN) dengan skenario penurunan harga SBN sebesar 25 persen menunjukan tingkat kecukupan modal (CAR) hanya sebesar 147 bps. Penurunan CAR terbesar sebagai dampak penurunan harga SBN dialami bank BUKU 4 yang merupakan bank dengan permodalan terbesar.

Hasil simulasi menunjukan, 57 korporasi yang memiliki utang luar negeri (ULN) dan posisi NFL dengan data per kuartal I-2014 diperkirakan terdapat 5 korporasi atau 8,77 persen dari total korporasi yang diobservasi berpotensi insolvent (equity negative) apabila nilai tukar rupiah melemah di atas kurs Rp 15.500 per dolar AS.

Lebih lanjut, pada survei rumah tangga (RT) menunjukan tingkat leverage RT masih pada level aman. Hal ini ditunjukan dengan menurunnya tingkat utang, baik total utang, utang jangka panjang, serta utang kepada perbankan dibandingkan dengan pendapatannya dan aset.

Rasio total utang terhadap pendapatan pada 2010 mencapai 19,53 turun menjadi 15,54 pada akhir tahun 2013. Sementara itu, rasio total utang terhadap aset pada 2010 mencapai 4,06 turun menjadi 2,96 pada akhir tahun 2013. Hal ini, mengindikasikan bahwa RT di Indonesia masih mampu untuk membayar seluruh utangnya dengan aset maupun menggunakan pendapatannya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon