BEI Antisipasi Gejolak Global hingga Siapkan Infrastruktur Pasar
Selasa, 10 Maret 2026 | 07:48 WIB
Jakarta Beritasatu.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan kesiapan infrastruktur dan aturan pasar untuk menghadapi gejolak pasar global yang kembali menekan kinerja indeks garga saham gabungan (IHSG) pada awal Maret 2026.
Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, tekanan di pasar saham domestik terutama dipicu oleh faktor eksternal, khususnya meningkatnya ketidakpastian global akibat sentimen geopolitik dan perubahan likuiditas di pasar keuangan internasional.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di negara berkembang atau emerging market seperti Indonesia.
“Kalau kita lihat memang faktor eksternal yang sedang terjadi ini menimbulkan ketidakpastian yang sangat tinggi, tidak hanya di pasar kita tetapi juga di global market,” ujar Jeffrey di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan volatilitas pasar seperti yang terjadi saat ini bukanlah hal baru. Jeffrey mencontohkan kondisi pada April 2025 ketika IHSG sempat anjlok lebih dari 5% sehingga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt.
Saat itu, eskalasi perang dagang dan kebijakan tarif dari pemerintah Amerika Serikat memberikan tekanan besar terhadap pasar global, termasuk Indonesia.
Menurut Jeffrey, gejolak pasar pada periode tersebut bahkan lebih berat dibandingkan kondisi yang terjadi saat ini.
“Pada saat itu apa yang kita alami lebih buruk dalam konteks pasar daripada hari ini. Oleh karena itu sistem infrastruktur dan peraturan di bursa kita sudah siap menghadapi dinamika pasar yang ada,” katanya.
Pasca peristiwa trading halt pada 2025, BEI melakukan penyesuaian sejumlah aturan untuk memperkuat stabilitas pasar. Salah satunya adalah peningkatan ambang batas trading halt dari sebelumnya 5% menjadi 8% dalam satu hari perdagangan.
Dalam ketentuan yang berlaku sejak 8 April 2025, perdagangan akan dihentikan sementara selama 30 menit apabila IHSG mengalami penurunan lebih dari 8%.
Apabila setelah penghentian sementara indeks kembali melemah hingga menembus penurunan di atas 15%, BEI akan memberlakukan suspensi lanjutan. Sementara itu, jika koreksi indeks mencapai lebih dari 20%, perdagangan dapat dihentikan hingga akhir sesi.
Jeffrey menegaskan hingga saat ini tidak ada perubahan lebih lanjut terkait aturan auto rejection maupun mekanisme penghentian perdagangan.
Menurutnya, sistem perdagangan di BEI dirancang adaptif untuk menghadapi volatilitas ekstrem sehingga diharapkan dapat menjaga ketahanan pasar modal domestik di tengah dinamika global.
Selain memperkuat mekanisme stabilisasi pasar, BEI juga terus menindaklanjuti pembahasan regulasi yang menjadi perhatian lembaga indeks global MSCI Inc.
Sejumlah penyempurnaan tengah dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk evaluasi terhadap draft peraturan pencatatan saham I-A serta peningkatan kualitas data terkait konsentrasi kepemilikan saham.
Proses harmonisasi data tersebut dilakukan bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) serta seluruh Self-Regulatory Organization (SRO) di pasar modal.
Sebelumnya, MSCI menyoroti perlunya peningkatan transparansi terkait struktur kepemilikan saham serta penajaman regulasi pencatatan emiten baru guna meningkatkan kepercayaan investor global terhadap pasar Indonesia.
Jeffrey memastikan BEI terus berkoordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan pasar modal Indonesia tetap kompetitif di tengah dinamika pasar global.
Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, BEI tetap mempertahankan target penambahan 50 perusahaan tercatat melalui penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2026.
Namun, Jeffrey menegaskan kualitas emiten tetap menjadi prioritas utama dalam proses pencatatan saham di bursa.
Menurutnya, minat perusahaan untuk melantai di bursa masih cukup tinggi, tetapi BEI akan lebih selektif dalam menilai kesiapan fundamental, tata kelola perusahaan, serta kelayakan bisnis calon emiten.
“Kami tetap menjaga target IPO, tetapi kualitas emiten tentu menjadi fokus utama. Kami tidak sekadar mengejar kuantitas,” pungkas Jeffrey.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Semen Padang vs Persib: Teja Bisa Ukir Rekor Baru di Tanah Kelahiran




