Kebijakan Stabil Jadi Kunci Tarik Investasi Mineral Kritis
Selasa, 10 Maret 2026 | 03:44 WIB
Jakarta, Beritasatu.com — Sektor mineral kritis Indonesia memang masih sangat minim dalam eksplorasi. Padahal, sektor ini menjadi salah satu sektor yang mampu menarik investasi.
Direktur Critical Minerals Security Program Center for Strategic and International Studies (CSIS), Gracelin Baskaran, menekankan perlunya kebijakan yang stabil dan kredibel agar negara-negara Asia mampu menarik investasi di sektor mineral kritis.
Menurut Baskaran, peran lembaga keuangan pembangunan multilateral seperti Bank Pembangunan Asia (ADB) sangat penting dalam membantu pemerintah menyiapkan kerangka fiskal, regulasi izin tambang, serta mekanisme pengelolaan dampak lingkungan.
“Betapa lazimnya tantangan yang muncul, baik dalam kerangka fiskal maupun sosial. Bagaimana cara mengelola dampak eksternal lingkungan dari kegiatan pertambangan?" ujarnya dilansir dari Antara.
"Bagaimana merancang kebijakan perizinan yang kondusif? Bagaimana memastikan kebijakan fiskal memiliki klausul windfall yang terintegrasi? Hal-hal tersebut menjadi sinyal yang sangat kuat bagi sektor swasta untuk menanamkan investasi,” tambah dia.
Ia menambahkan kebijakan yang berjangka panjang dan konsisten akan memperkuat posisi tawar negara dalam bernegosiasi dengan investor. Menurutnya, negara harus punya kebijakan yang menjamin stabilitas dan durabilitas, sehingga tidak terjebak dalam race to the bottom saat bersaing menarik investasi.
Race to the bottom terjadi ketika negara-negara bersaing menarik investor tambang mineral kritis dengan cara melemahkan berbagai aturan termasuk aturan fiskal, izin, atau lingkungan.
Dalam kesempatan yang sama, Senior Advisor and Officer-in-Change, Regional Cooperation and Integration and Trade Division ADB, Edimon Ginting, menekankan bahwa transisi energi bersih saat ini semakin bergantung pada fondasi yang kompleks dan rapuh.
“Fondasi ini dibentuk bukan hanya oleh geologi, tetapi juga kebijakan luar negeri, dinamika rantai pasok, pembiayaan, keterbatasan tenaga kerja terampil, dan keputusan strategis dari segelintir negara,” ujarnya.
Ginting menyoroti bahwa produksi mineral kritis masih didominasi oleh segelintir negara, dengan proses pengolahan yang lebih terkonsentrasi lagi.
“Satu perubahan kebijakan di satu negara bisa berdampak global. Asia Pasifik, sebagai ekonomi dengan pertumbuhan tercepat, juga menjadi rumah bagi sejumlah mineral kritis. Ini menghadirkan peluang besar sekaligus risiko mendalam,” katanya.
Untuk membangun rantai nilai mineral kritis yang tangguh, terdiversifikasi, dan bertanggung jawab, Ginting menekankan perlunya strategi yang menggabungkan geologi dan tata kelola yang baik, memperkuat kerja sama regional, menarik investasi berkualitas, menyiapkan tenaga kerja terampil, serta menempatkan keberlanjutan sebagai pusat kebijakan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
PSEL di Makassar Dipercepat untuk Atasi Praktik Open Dumping
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
Situasi Lebanon Memanas, KSAD Maruli: Prajurit TNI Sudah Paham SOP!




